Kerajaan Penihing/Aoheng yang belum tersentuh tangan manusia

ini adalah kutipan asli yang aku copy-paste dari alamat ini: http://klewang.multiply.com/journal/item/69
Semoga berguna , dan bagi teman-teman yang mengerti mohon penjelasannya……..

Juli, 2006. Tanpa sengaja aku bertemu kawan lama. Mas Ahmadi dari komunitas BlueGrass. Pertemuan di warung nasi goreng itu berlanjut dengan bercerita tentang pengalaman masing-masing. Kawanku ini mantan Anggota Pecinta Alam yang sampai sekarang masih suka keluyuran kemana-mana. Saat itu, dia sedang gandrung dengan penjelajahan Kalimantan dan studi tentang suku-suku dayak. Banyak sekali kisah menakjubkan yang kudengar darinya waktu itu. Salah satunya adalah tentang harta karun sejarah dan kebudayaan salah satu kerajaan suku dayak yang sampai sekarang belum terjamah.
Di ujung pertemuan, kuminta dia mengirim tulisan perjalanannya ke emailku. dan inilah copy email yang dikirim padaku tertanggal 3 juni 2006.
Di hulu Sungai Mahakam ada peninggalan Kerajaan Dayak
Penihing, Berupa Tower batu setinggi 150m – 200m, yang
tadinya di jadikan Istana oleh Raja penihing beserta
keturunanya. Lorong masuk satu satunya kedalam Tower
tertutup batu besar, untuk memasukinya tinggal dua cara,
menggunakan Helycopter ke puncak cerobong tower batu, atau
dengan jalan panjat tebing. Mungkin menarik untuk diteliti
lebih jauh, karna peninggalan beserta singasananya masih
belum tersentuh manusia diluar Istana batu.

Latar belakang ( dari hasil wawancara dengan Tetua adat
Dayak Penihing pada tahun 1996 dan Buku Ekspedisi Muller
1886)

Raja Penihing adalah salah satu Raja terkaya di hulu sungai
Mahakam, tonggak perekonomian utama disokong hasil sarang
Burung dari gua2 sarang burung di kawasan kars wilayahnya.
Pada Abad XVlll barter sarang burung sudah merupakan barter
Ekslusif. Letak kerajaan di kawasan perbukitan batu kapur
nan terjal tersebut juga sangat mendukung pertahanan
alamiahnya, sangat menyulitkan pihak yang akan menaklukan
Kerajaan Penihing.

Namun tak lama setelah Kerajaan Kutai menaklukan para Raja
Suku dayak sepanjang aliran mahakam sampai keperbatasan
Serawak, Kerajaan Penihing yang menempati daratan Kars
sejauh -+ 30km dari tepian Mahakam menjadi target terakhir
Raja Kutai.

Istana Kerajaan Penihing berupa tower batu dengan lobang
besar berbentuk cerobong dari atas sampai kedasar tower.
Pintu masuk hanya satu, berupa lorong horizontal didasar
Tower yang kini masih tertutup batu besar.

Pada saat sebelum penyerbuan Pasukan Kerajaan Kutai, Raja
Penihing beserta Prajuritnya telah menutup dengan batu besar
lorong masuk kedalam Istana batu. Dengan harapan kalau Raja
penihing beserta Prajuritnya berhasil mengusir Pasukan
Kutai, maka batu besar penutup lorong tersebut akan mereka
buka kembali dari luar.

Raja Penihing lalu membawa pasukanya mencegat Laskar Kutai
dari kejauhan, menjauh dari perkampungan rakyat Penihing dan
Istana batu. Tindakan Kekhawatiran kalau kalah lalu di
jarah, memang berhasil membuat Laskar Kutai pulang dengan
tangan Kosong. Namun juga menyimpan tragedi bagi keluarga
penghuni Istana Batu. Raja penihing beserta Prajuritnya
gugur dan sampai kini tak seorangpun membuka pintu masuk
berupa batu besar tersebut. sementara rakyatnya pada saat
penyerbuan kerajaan Kutai melakukan Eklsodus ketepi Sungai
mahakam.

Peristiwa diatas terjadi sekitar Abad XVlll. Setelah Raja
Dayak Benuaq Sumbing Lawing kalah dan dipenggal kepalanya
oleh Raja Kutai( Sampai sekarang kepala Sumbing Lawing masih
tersimpan dalam Keraton Kutai Kertanegara di Kota
Tenggarong).

Pada tahun 1993 saya mendekati Istana Tower Batu tersebut,
setelah selama tiga hari melintasi perbukitan kars yang
cukup terjal. Usai survey awal untuk memastikan titik
lokasi, saya langsung balik ke Malang. Lalu pada tahun
berikutnya dengan Alat panjat tebing saya kembali berangkat
ke hulu Mahakam. Namun didesa terakhir saya sempat
diingatkan seorang kawan dari Malang ( yang menikah dengan
anak kepala adat Dayak Penihing), setiap kematian harus ada
ritual pemanggilan roh nenek moyang dan ritual pelepasan
roh, saya diperingatkan untuk mengadakan ritual itu
terdahulu, apabila berkeinginan memanjat Tower Batu
tersebut.

Karna keluarga kerajaan tower batu yang meninggal terkurung
di istananya tersebut, sampai saat ini upacara kematiannya
belum dilakukan oleh rakyat Penihing. Saya mundur dan mundur
karna upacara tersebut tidaklah murah biayanya bagi saya
saat itu, lagipula saya belum punya jalur ” diberikan kepada
siapa penemuan tersebut jadi berarti.”

Sampai akhirnya pada tahun 1998 saya mendapat kabar ada
perusahaan kayu dengan Helycopter mendekati Tower batu
tersebut. Bahkan sempat Turun vertical kedalam Cerobong
Tower, namun kekhawatiran pimpinan perusahaan ( ikut dalam
rombongan tersebut ) akan adanya ular besar didasar
cerobong, membuyarkan semuanya.
cerita diatas tujuanya jelas untuk menggugah darah petualangan para pembaca dan mungkin ada yg minat mendanai ekspedisi mengungkap misteri tower batu tersebut

Sekian

Semoga bermanfaat…..
Sumber: http://klewang.multiply.com/journal/item/69

One thought on “Kerajaan Penihing/Aoheng yang belum tersentuh tangan manusia

  1. Ping-balik: post | dalmasiushendro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s