SUKU DAYAK BERASAL DARI KHAYANGAN KE TANAH BORNEO :ASLI SUKU KALIAMANTAN(BORNEO),KARYA ANDEAS Y.P,S.KOM ,PENELUSURAN SASTRA LISAN

Versi Ibanic Grop

Di masa lalu masyarakat yang kini disebut Dayak Mualang ini hidup dan bergabung dengan kelompok serumpun Iban lainnya dan masa itu mereka tergabung sebagai masyarakat Pangau Banyau ( kumpulan orang-orang khayangan dan manusia )kemudian kesemuanya itu disebut Urang Negeri Panggau/Orang Menua artinya orang yang berasal dari tanah ini (Borneo).

Tampun Juah

‘Tampun Juah’ merupakan tempat pertemuan dan gabungan bangsa Dayak yang dimasa lalu yang kini disebut Ibanic group. Sebelum di Tampun Juah masyarakat Pangau Banyau hidup di daerah bukit kujau’ dan bukit Ayau, kira-kira di daerah Kapuas Hulu, kemudian pindah ke Air berurung, Balai Bidai, Tinting Lalang kuning dan Tampun Juah, dalam pengembaraannya dari satu tempat ke tempat lain di mungkinkan ada yang berpisah dan membentuk suku atau kelompok lainnya. Daerah persinggahan akhir yakni di Tampun Juah. Di sana mereka hidup dan mencapai zaman Eksistensi / keemasan, dalam tiga puluh buah Rumah Panjai ( rumah panggung yang panjang ) dan tiga puluh buah pintu utama. Mereka hidup aman, damai dan harmonis.

Tampun Juah sendiri berasal dari dua buah kata yakni: Tampun dan Juah, terkait dengan suatu peristiwa yang bersejarah yang merupakan peringatan akhir terhadap suatu larangan yang tak boleh terulang selama-lamanya. Tampun sendiri adalah suatu kegiatan pelaksanaan Eksekusi terhadap dua orang pelanggar berat yang tidak dapat ditolelir, yakni dengan cara memasung terlentang dan satunya ditelungkupkan pada pasangan yang terlentang tersebut, kemudian dari punggung yang terlungkup di tumbuk dengan bambu runcing, kemudian keduanya dihanyutkan di sungai.

Kesalahan tersebut dikarenakan keduanya terlibat dalam perkawian terlarang (mali) hubungan dengan sepupu sekali (mandal). Laki-laki bernama Juah dan perempuan bernama Lemay. Eksekusi dilakukan oleh seorang yang bernama lujun (algojo / tukang eksekusi) pada Ketemenggungan Guntur bedendam Lam Sepagi/Jempa.

kehidupan Tampun juah juga erat hubungannya dengan kehidupan ritual dan keagamaan. Pemimpin spiritual tersebut adalah sepasang suami istri yang bernama Ambun menurun ( laki-laki ) dan Pukat Mengawang ( perempuan).

Kedua orang tersebut merupakan symbol terciptanya manusia pertama ke dunia, sesuai dengan arti dari nama keduanya. Ambun menurun yaitu embun yang turun ke bumi, symbol seorang laki –laki dan pukat mengawan adalah celah – celah dari jala / pukat yang membentang, symbol wanita. Embun tersebut menerobos atau menembus celah pukat merupakan symbol hubungan intim antara pria dan wanita. Pasangan suami istri tersebut, mempunyai sepuluh orang anak yakni: Tujuh orang laki –laki dan tiga orang perempuan. Yaitu:

Puyang Gana ( Roh Bumi / Penguasa tanah, meninggal sewaktu lahir )
Puyang Belawan
Dara Genuk ( perempuan )
Bejid manai
Belang patung
Belang pinggang
Belang bau
Dara kanta” ( perempuan )
Putong Kempat ( perempuan )
Bui Nasi ( awal mula adanya nasi)

- Puyang Gana lahir tidak seperti kelahiran manusia normal, ia mempunyai kaki satu, tangan satu dan lahir dalam keadaan meninggal. Karena mempunyai tubuh yang tidak lazim atau jelek, ia diberi nama Gana, ia di kubur dibawah tangga. Ketika ada pembagian warisan ia datang dalam rupa yang menyeramkan (hantu) dan meminta bagiannya hingga karna suatu alasan maka ia mengklaim dirinya sebagai penguasa seluruh tanah dan hutan.( Baca, tentang kerajaan Sintang pada buku Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat hal.184 – 188 ). – Puyang Belawan lahir secara normal seperti manusia biasa. – Dara Genuk lahir kerdil atau mempunyai tangan dan kaki yang pendek, oleh sebab itu ia di sebut Dara genuk. – Bejid Manai lahir dan mempunyai sedikit kelainan pada bagian tubuhnya, yakni kemaluannya besar. Oleh sebab itulah ia disebut Bejid Manai. – Belang Patung lahir dan mempunyai kelainan pada setiap ruas tulangnya yang belang – belang, oleh sebab itu ia disebut Belang Patung. – Belang Pinggang lahir dan mempunyai pinggang yang belang, oleh sebab itu ia disebut Belang Pinggang. – Belang Bau lahir dalam keadaan belang dan tubuhnya bau, oleh sebab itu ia disebut Belang Bau. – Dara Kanta” lahir normal tetapi mempunyai Cala ( tanda hitam ) dipipinya, oleh sebab itu ia disebut Dara Kanta”. – Putong Kempat lahir dalam keadaan normal dan ia mempunyai tubuh yang indah dan kecantikannya luar biasa tak terbayangkan, Upa Deatuh / upa dadjangka” oleh sebab itu ia disebut Putong Kempat. – Bui Nasi lahir dalam keadaan aneh, karena lansung dapat bicara dan merengek minta nasi dan kelahiran inilah awal mula orang Pangau Banyau makan Nasi.2. ( Baca, tentang kerajaan Sintang pada buku Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat hal.185). Menyebabkan ayah dan Ibunya memohon kepada Petara untuk mengubahnya menjadi bibit padi.

Orang Buah Kana

Di masa itu kehidupan manusia dan para Dewa serta mahluk halus, sama seperti hubungan antara manusia yang satu dengan yang lainnya, termasuklah hubungan yang sangat akrab dan harmonis antara masyarakat Tampun Juah dengan Orang Buah Kana ( Dewa pujaan ).

versi Kharinga : Dayak Kalteng

Menurut kepercayaan agama Hindu Kaharingan, manusia berasal dari keturunan Raja Bunu yang menuju jalan pulang ke Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa).

Raja Bunu adalah anak dari pasangan Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut dan Kameloh Putak Bulau Janjulen Karangan Limut Batu Kamasan Tambun. Manyamei Tunggul Garing dan Kameloh Putak Bulau merupakan menurut Hindu Kaharingan adalah manusia yang pertama kali diciptakan oleh Ranying Hatalla Langit. Dan Raja Bunu memang diwariskan untuk menghuni bumi dengan ciri–ciri keturunannya bisa mati atau meninggal setelah keturunan ke sembilan. Ciri–ciri yang lain adalah Raja Bunu tidak bisa menginang, maka diganti makanannya diganti menjadi beras, lauk–pauk, dan lain-lain seperti makanan kita sekarang ini.

Raja Bunu dianugrahi oleh Ranying Hatalla Langit sebuah besi bernama Sanaman Lenteng. Sanaman Lenteng adalah sebuah besi yang tidak sengaja ditemukan oleh Raja Bunu sewaktu ia bermain di sungai dengan kedua saudaranya. Kedua saudara Raja Bunu itu masing–masing bernama Raja Sangen dan Raja Sangiang. Besi yang ditemukan oleh tiga bersaudara ini aneh, karena yang satu ujung besinya timbul ke permukaan air dan ujung yang lain tenggelam. Kalo dianalogikan, seharusnya seluruh batang besi itu tenggelam.

Raja Bunu secara tidak sengaja memegang ujung Sanaman Lenteng yang tenggelam dan kedua saudaranya memegang ujung yang timbul ke permukaan air, sehingga menurut ceritanya gara-gara Raja Bunu tidak sengaja memegang ujung dari Sanaman Lenteng yang tenggelam, maka kehidupannya tidak abadi seperti kedua saudaranya yang lain, yaitu Raja Sangen dan Raja Sangiang. Besi yang mereka dapati itu akhirnya dibuat menjadi Dohong Papan Benteng (sejenis alat khas yang bentuknya seperti pisau) oleh ayah mereka.

Raja Bunu dan kedua saudaranya dianugrahi juga oleh Ranying Hatalla Langit seekor burung yang bernama Gajah Bakapek Bulau Unta Hajaran Tandang Barikur Hintan. Mereka dianugrahi seekor burung itu ketika mereka sedang berada di sebuah bukit yang bernama Bukit Engkan Penyang.

Ketika mereka sudah mendapati burung itu, rupanya tiga saudara itu tidak ada yang mau mengalah dan terus berebut untuk mendapatkan burung itu. Tiba–tiba Raja Sangen menghunus dohong-nya lalu menghujamkannya ke arah burung itu. Sehingga darah burung itu pun keluar dan Raja Sangen pun berinisiatif untuk menampung darah burung tersebut ke sebuah sangku (sejenis mangkok). Dan dengan sekejap darah burung yang ditampung di dalam sangku itu pun berubah menjadi emas, berlian, dan permata.

Rupanya ayah ketiga bersaudara itu mengetahui perbuatan ketiga anaknya itu. Maka, dengan kesaktiannya sang ayah pun pergi menemui ketiga anaknya itu. Sesampainya di sana Manyamei Tunggul Garing (ayah mereka) melihat apa yang telah diperbuat oleh anaknya karena sang ayah merasa iba kepada burung itu dan takut ketiga anaknya kualat dengan Ranying Hatalla Langit atas perbuatan mereka, sang ayah pun dengan kesaktiannya menyembuhkan luka pada burung itu.

Karena rasa iri terhadap saudaranya yang mendapatkan emas, berlian, dan harta itu. Maka, Raja Sangiang pun menghujamkan dohong-nya ke arah burung itu sehingga darah burung itu pun keluar dengan derasnya dan ia pun melakukan hal yang sama yaitu mengambi sangku untuk menampung darah burung itu. Kejadiannya pun sama persis dengan yang didapatkan oleh Raja Sangen yaitu, emas, berlian, dan lain-lain. Dan ayah mereka pun akhirnya menyembuhkan luka pada burung tersebut. Sehingga burung itu pun sehat kembali.

Dan lagi–lagi keserakahan dan rasa iri itu menghinggapi Raja Bunu. Ia pun melakukan apa yang telah dilakukan oleh kedua saudaranya itu dan ia pun mendapatkan hasil yang sama seperti yang diperoleh oleh kedua saudaranya. Dan lagi–lagi sang ayah pun karena merasa iba akan burung itu maka ia pun menyembuhkan luka burung itu. Tetapi rupanya luka burung itu tidak dapat sembuh seperti sedia kala. Akhirnya burung itu terbang dengan membawa luka dan darahnya menetes membasahi wilayah itu. Darah burung yang menetes itulah yang kemudian menjadi kekayaan yang berlimpah ruah. Karena kondisi fisik burung itu yang semakin lelah dan lukanya semakin parah, burung itu pun akhirnya mati.

Akhirnya tempat burung itu mati dipenuhi dengan kekayaan yang abadi, dan menurut kepercayaan agama Hindu Kaharingan tempat itu disebut dengan Lewu Tatau (Surga).

Versi :kanayant:

Sejarah dapat dilihat berawal dari kisah cerita Ne’ Baruakng Kulup ( salah satu versi cerita) yang menurunkan padi dari atas langit, ke bumi. Ne’ Baruakng adalah anak Ne’ Ja’ek, yang berjasa memperoleh tangkai padi untuk pertama kalinya dari seekor burung pipit, yang membawangnya diantara dua buah batu badangkop ( batu kembar) dan sekarang dapat ditemui dibukit Talaga.

Alkisah, mereka tinggal diatas (langit) . Ne’ Baruakng ini yang sering turun ke bumi berkomunikasi dengan mahluk di bumi, suatu hari melihat mereka (penduduk bumi) makan kulat karakng (cendawan), yang sangat asing baginya. Secara kebetulan pula Ne’ Baruakng waktu di bumi membawa butir butir putih ( yang kemudian dikenal dengan nasi).

Keadaan ini terlihat oleh mahluk di bumi. Mereka meminta dan memakannya. Terasa enak. Singkat kata, sejak saat itulah Ne’ Baruakng lalu memperkenalkan padi di Bumi.

Sejak itu pula mahluk dibawah (bumi) mulai makan nasi dan meninggalkan cendawan kerang.

Kepercayaan masyarakat Talaga bahwa asal Dayak, khususnya Kanayatn( mereka sebut pula dengan Dayak Bukit) adalah atas, tempat yang serba menyenangkan dan dikenal dengan sebutan Bawakng. Karenanya, dalam setiap bentuk upacara adat para tokoh Dayak ini tidak melupakan sebuatan Bawakng ini, yang menyatakan sumber atau asal usul Dayak Kanayatn. Nampaknya tempat inilah dulunya yang merupakan asal usul keluarga Ne’ Baruakng, yang sudah menjadi Talino. Melihat bukti sejarah, seperti batu badangkop di bukit Telagadapat diketahui bahwa Talaga adalah bagian dari tempat diatas (langit) atau Bawakng.

Dayak Kanayatn yang bermukim di Binua Talaga yang terdapat di kecamatan Sengah Temila kini menyebar kebeberapa Kampung ( Sahamp, Palo’atn, Aur Sampuk, Sinakin. Gombang)

Asal Mula Manusia dan Alam Semesta dalam Pandangan Orang Taman

Orang Daya Taman sebagaimana juga orang Daya sebagai keseluruhan, tidak memilki tradisi tertulis dalam sejarah peradabannya. Mereka hanya memiliki tradisi lisan, dan tradisi lisan itupun sekarang hampir terlupakan karena orang Daya telah mengenal tulisan. Pengenalan akan tulisan ini lahir dari pengaruh masuknya misi agama Katolik dan pendidikan formal pemerintah. Dalam sejarahnya, tradisi lisan sangat vital bagi masyarakat Daya. Inilah satu-satunya cara untuk menyampaikan detil-detil tradisi atau aturan-aturan hidup kepada anak cucu secara turun temurun. Dalam cerita yang disampaikan secara turun temurun itu diketahui bahwa manusia dan alam semesta memiliki awal kejadian yang tak lepas dari adanya wujud tertinggi.

Asal mula alam semesta dan manusia dalam pandangan orang Daya Taman dapat diketahui dalam kisah penciptaan yang dituturkan tiga malam berturut-turut dalam acara bumbulan yang disebut cerita kalimongonan. Kalimongonan adalah acara penuturan kembali peristiwa kejadian asal mula alam semesta dan manusia. Menceritakan kembali persitiwa penciptaan merupakan bagian inti dari acara bumbulan. Upacara bumbulan merupakan upacara penting menjelang pesta Gawai raa. Dalam cerita tersebut dikatakan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Alaatala.

Alaatala menciptakan alam semesta yakni langit dan bumi beserta isinya dengan kuasa mujizat atau disebut dengan panyunyua. Panyunyua adalah cara Alaatala menggunakan kehendaknya untuk mengadakan segala sesuatu menjadi ada seketika tanpa bahan dan alat. Setelah Alaatala menciptakan langit dan bumi beserta isinya, Alaatala memberi tugas kepada Piang Sampulo untuk membuat manusia sesuai dengan rupa Piang Sampulo sendiri. Piang Sampulo inilah yang kemudian mengajarkan cara hidup kepada manusia pertama yang ia ciptakan. Manusia pertama yang diciptakan oleh Piang Sampulo dan Bai’ Kunyanyik bernama Bai’ Idi’langilangsuan dan Piang Tina.

VERSI DAYAK TAMAN KAPUAS

Asal Mula Manusia dan Alam Semesta dalam Pandangan Orang Taman

Orang Daya Taman sebagaimana juga orang Daya sebagai keseluruhan, tidak memilki tradisi tertulis dalam sejarah peradabannya. Mereka hanya memiliki tradisi lisan, dan tradisi lisan itupun sekarang hampir terlupakan karena orang Daya telah mengenal tulisan. Pengenalan akan tulisan ini lahir dari pengaruh masuknya misi agama Katolik dan pendidikan formal pemerintah. Dalam sejarahnya, tradisi lisan sangat vital bagi masyarakat Daya. Inilah satu-satunya cara untuk menyampaikan detil-detil tradisi atau aturan-aturan hidup kepada anak cucu secara turun temurun. Dalam cerita yang disampaikan secara turun temurun itu diketahui bahwa manusia dan alam semesta memiliki awal kejadian yang tak lepas dari adanya wujud tertinggi.

Asal mula alam semesta dan manusia dalam pandangan orang Daya Taman dapat diketahui dalam kisah penciptaan yang dituturkan tiga malam berturut-turut dalam acara bumbulan yang disebut cerita kalimongonan. Kalimongonan adalah acara penuturan kembali peristiwa kejadian asal mula alam semesta dan manusia. Menceritakan kembali persitiwa penciptaan merupakan bagian inti dari acara bumbulan. Upacara bumbulan merupakan upacara penting menjelang pesta Gawai raa. Dalam cerita tersebut dikatakan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Alaatala.

Alaatala menciptakan alam semesta yakni langit dan bumi beserta isinya dengan kuasa mujizat atau disebut dengan panyunyua. Panyunyua adalah cara Alaatala menggunakan kehendaknya untuk mengadakan segala sesuatu menjadi ada seketika tanpa bahan dan alat. Setelah Alaatala menciptakan langit dan bumi beserta isinya, Alaatala memberi tugas kepada Piang Sampulo untuk membuat manusia sesuai dengan rupa Piang Sampulo sendiri. Piang Sampulo inilah yang kemudian mengajarkan cara hidup kepada manusia pertama yang ia ciptakan. Manusia pertama yang diciptakan oleh Piang Sampulo dan Bai’ Kunyanyik bernama Bai’ Idi’langilangsuan dan Piang Tina.

Menurut Y. C. Thambun Anyang, kepercayaan terhadap Alaatala sudah ada jauh sebelum kedatangan agama Hindu, Budha, Islam, Katolik, dan Protestan. Orang Taman percaya bahwa tujuan hidup manusia ialah Alaatala. Alaatala itu berupa roh kekal dan dianggap sebagai sumber keselamatan bagi manusia. Meskipun dianggap sebagai sumber keselamatan, orang Taman tidak memiliki upacara yang dipersembahkan secara istimewa kepada Alaatala, kecuali doa untuk meminta agar hidup selamat, terhindar dari segala penyakit dan marabahaya. Upacara untuk penghormatan dengan kurban atau sesajen diadakan untuk para arwah leluhur atau roh-roh nenek moyang. Upacara adat sebagai ungkapan religiositas asli selalu melibatkan leluhur. Upacara adat Gawai raa permohonan keselamatan bagi kehidupan manusia dialamatkan kepada Alaatala, melalui leluhur.

Orang Daya Taman meyakini adanya eksistensi roh. Roh dalam kepercayaan tradisional sangat berpengaruh kuat dalam kehidupan. Roh dalam bahasa Taman ialah Sumangat. Keberadaan Sumangat ini tidak hanya pada manusia tetapi juga ada pada makhluk-makhluk lain, seperti binatang dan juga pada benda-benda hidup maupun benda mati yang ada dalam alam semesta ini. Roh-roh yang ada pada setiap makhluk dan benda itu berasal dari Sang Pencipta atau Alaatala, sebab roh yang ada tersebut merupakan ciptaan Alaatala. Alaatala dengan kuasanya menciptakan langit dan bumi serta manusia bersama ciptaan lain untuk hidup dan tinggal di dalamnya.

Kepercayaan tertinggi orang Taman adalah kepercayaan kepada Alaatala. Mula-mula Alaatala dengan kuasaNya, menciptakan Sampulo, kemudian Sampulo diberi kuasa oleh Alaatala untuk menciptakan manusia. Maka, atas dasar kuasa Alaatala itu pula Sampulo diberi tugas untuk membuat manusia sesuai dengan citra Sampulo yang diciptakan oleh Alaatala sendiri. Manusia yang diciptakan Sampulo atas kuasa Alaatala itu memiliki roh yang berasal dari Alaatala sendiri. Roh yang ada pada manusia dimasukkan oleh Sampulo lewat kepala pada saat Sampulo menciptakan manusia pertama. Kepala merupakan tempat Sampulo meniupkan nafas kehidupan sehingga manusia dapat hidup, bergerak, berbicara dan berjalan. Maka ubun-ubun di kepala manusia merupakan pintu keluar masuknya roh itu.

Orang Taman meyakini keberadaan roh yang disebut Sumangat itu. Selain roh yang berasal dari Alaatala, diyakini pula keberadaan roh-roh lain sebagai lawan dari roh yang hidup dalam ciptaan Alaatala itu, yakni roh halus yang suka menangkap jiwa manusia. Dalam bahasa Taman roh halus itu disebut Sai. Dalam kepercayaan orang Taman, munculnya penyakit yang diderita oleh manusia merupakan perbuatan dari Sai yang suka menangkap jiwa manusia tersebut. Maka untuk menyembuhkan orang dari penyakitnya ialah dengan mengambil kembali roh (Sumangat) orang tersebut dari cengkraman roh halus (Sai). Untuk itu diadakanlah upacara penyembuhan pengambilan kembali Sumangat yang telah ditangkap oleh Sai itu. Upacara ini disebut dengan upacara bermanang atau Balian (bahasa Melayu) atau upacara arabalien (bahasa Taman). Upacara bermanang atau arabalien itu dikerjakan oleh Manang (Melayu), Balien (Taman). Manang atau Balien adalah orang yang memiliki kharisma tertentu dan bisa berkomunikasi dengan Sai, maka hanya merekalah yang dapat melakukan upacara penyembuhan.

INILAH SEJARAH ASLI ASAL MULA ORANG DAYAK YANG ADA DI TANAH BORNEO DARI SASTRA LISAN DAYAK YANG TUMBUH SECARA TURUN TEMURUN BUKAN BERASAL DARI DAERAH APA DAN SIAPA MENURUT TEORY IMIGRASI

YANG DI PERCAYAI BERASAL DARI KHAYANGAN TURUN KE BORNEO

Sumber:CINTA DAYAK – Adi W. NegaraBorneo

Untuk versi dayak Tonyooi/Tunjungnya ditunggu ya…

Pakaian Adat Khas Suku Dayak Tunjung

Hemmm…. sebenarnya saya masih penasaran,, gimana sih ukiran khas dari suku Dayak Tunjung ini.. Yapp…. Suku dayak Tunjung y7ang berkerabat dekat dengan Dayak Benuaq.
Seperti halnya suku Dayak Kenyah, Dayak BAhau, Dayak Kayan dan lain-lain, memiliki kekhasan dalam ukiran-ukiran baik yang tergambar dalam pakaian adat, perisai ataupun lamin-lamain adatnya.

Nah, saya masih sangat penasaran dengan Pakaian suku Dayak Tunjung ini… mulailah saya bertanya2 dengan mbah google, namun apa daya, yang muncul pasti gambar Dayak lain… Dayak Tunjung sendiri Masih sangat jarang… maka dari itu disini saya mau mencoba mengupas beberapa jenis pakaian yang mencirikhaskan Suku Dayak Tunjung ini yang diambil dari beberapa FB teman ataupun web…. dan maaf apabila nanti tercampur-campur dengan ukiran khas Dayak Benuaq….heheheh…..

Dayak Tunjung/Tonyooi

Dayak tunjung

Dayak Tunjung

Dayak Tunjung

Dayak tunjung/tonyooi

Dayak tunjung/tonyooi

Dayak Tunjung/Tonyooi

Bagaimana??? ada tanggapan dari teman-teman semua????

Indahnya Kutai Barat, Tanaa Purai Ngeriman

 

bangga menjadi warga Kubar….. beraneka ragam budaya ada disini… :)

Batu Bavui

Ini adalah cerita Dayak yang aku copas dari blog ini….
selamat menikmati..

Bila bertemu dengan batu biasa orang Dayak melewati begitu saja tetapi bila bertemu dengan batu yang menyerupai sesuatu, entah kenyataan entah dalam khayalannya, batu itu menjadi bagi dia orang atau benda yang telah membatu. Kemudian ia menceriterakan bagaimana orang laki-laki atau perempuan ini, kampung ini, pondok ladang ini, tumpukan kayu ini atau perahu ini tiba-tiba pada suatu saat dijadikan batu oleh roh-roh sebagai hukuman.
Itulah beberapa catatan saya tentang sejarah batu suku Dayak yang belum saya terbitkan.
Batu Bavui di daerah kami Mahakam merupakan salah satu batu yang bernyawa dan sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggal roh-roh. Menurut ceritera imam wanita Devung Ajau kepada saya di Tering mulanya batu itu merupakan seekor binatang yaitu seekor babi-ratu bernama Nidan Bavui. Binatang kampung ini mempunyai keistimewaan mampu berbicara dengan orang secara manusiawi. Tetapi pada suatu hari tertentu babi ratu ini tiba-tiba dirobah menjadi suatu batu besar yang dahulu kala terletak di dekat kampung Tukul.
Pembatuan ini terjadi dengan cara sebagai berikut:
Seorang Dayak Tunjung pergi berburu babi bersama beberapa orang sekampung, bersenjata mandau dan sumpitan. Agak cepat mereka bertemu dengan seekor babi yang sangat besar. Babi itu berkata kepada mereka yang keheran-heranan:
“Jehima kamé nyatung ha akui meté panghut ha huhung akui, dang mulu akui.”
Artinya: “Besok kami akan berenang. Bila pada saat itu kepala saya berpanghut (sepotong kayu berkeriting), janganlah membunuh saya.”
Baleéh – seoang Tunjung di antara mereka – menjawab:
“Sayu”, artinya “Baiklah.”
Pagi hari berikut ia pergi bersama teman yang lain. Pagi hari mereka melihat bahwa di seberang sungai suatu kawanan babi besar mencempungkan diri ke dalam air. Tidak memikirkan lagi apa yang terjadi dan apa yang dijanjikan kemarin mereka naik perahu dengan cepat dan membunuh dengan parang mereka seluruh kawanan.
Tidak lama kemudian Nidan bersama babi yang lain berbaring di tepi sungai dalam sakratulmaut karena kehilangan darah banyak.
Ketika Nidan menghabiskan napas terakhir ia merengek-rengek, hampir tak terdengar:
“Ika Baleéh terana ika ngering dengaah para ngenaap atang. Ika temoo mepaang kelunaan arâ. Temo tevaak ayam tevaak uting, im ai kumaan dahâ. Dahin kumaan kui lim. Ha kam sayu terana kam jaan nâ nunaan, jaan kam sayu hamaan matê pah maang.” Artinya:
“Ah, kamu Baleêh! Bila kamu menerima berita adanya penyakit di daerah ini datanglah dengan segera ke mari, panggillah orang banyak kemudian sembelihlah ayam dan babi. Buatlah boneka sebagai “ganti-diri” dan sediakanlah makanan bagi saya supaya kalian akan sembuh dengan cara itu. Bila kalian tidak berbuat demikian kalian semua akan mati.”
Setelah berkata demikian Nidan meninggal. Semua orang yang hadir kejutan ketika Nidan tiba-tiba berubah menjadi batu besar. Mulai dari saat itu baik orang Dayak Tunjung maupun Dayak Bahau merasa diri wajib memenuhi perintah ini supaya menjadi sembuh dari penyakit. Sampai sekarang ini perintah itu dituruti dengan setia.
Bulan Juni 1931 duaratus orang Tunjung bersama limapuluh orang Dayak Tering telah berkumpul di sungai Map di mana orang mempersembahkan babi dan ayam kepada Batu Bavui; saya sendiri menyaksikan beberapa kali bahwa peraturan adat ini ditaati dengan tekad baik di daerah Tunjung maupun di sekitar stasi Misi kami Tering. Orang tidak tahu di mana batu itu berada pada saat ini. Ia melarikan diri dari pinggir Mahakam dan orang menduga kuat bahwa batu itu sekarang berada di suatu tempat di daerah Tunjung.
(Tulisan past. P. Vossen, msf, 1931)
sumber:http://msfmusafir.wordpress.com/2008/11/19/batu-bavui/#more-238

Dayak Tunjung Rentenukng VS Dayak Penihing/Aoheng, Saudara yang terpisah??????

Seperti yang kita ketahui bahwa suku Dayak Tunjung dan Suku Penihing/Aoheng adalah salah dua dari salah banyak suku-suku yang mendiami wilayah Kabupaten Kutai Barat. Secara Geografis, lokasi tempat kedua suku ini diami juga cukup berjauhan.. jika suku Dayak Tunjung mendiami wilahay Kec. Linggang Bigung, Kec. Barong Tongkok, Kec. Sekolaq Darat, Kec. Manoor BuLaant, Kec. Tering dl l yang mayoritas kampugnnya berada di wilayah ibukota kabupaten (sekitar)… sedangkan suku Penihing sebagian besar mendiami wilayah Hulu Mahakam…

Sumber Gambar Dari Web…


berhubungan dengan judul yang saya ambil di atas, Dayak Tunjung Rentenukng VS Dayak Penihing/Aoheng, Saudara yang terpisah?? Ada pertanyaan yang sangat mengganjal dan saya sangat ingin mencari tahu kebenarannya. Saya pernah mendengar dari beberapa teman yang menyebutkan bahwa suku Dayak Tunjung Rentenuukng sebenarnya merupakan suku Penihing yang milir mengikuti arus sungai mahakam dari daerah hulu sungai mahakam.. bukan hanya dari satu orang saya pernah mendengar cerita ini melainkan dari beberapa orang yang berbeda…
yang menjadi pertanyaan saya adalah:
1. Apakah benar kalo suku Dayak Tunjung Rentenukng sebenarnya adalah suku Penihing yang mencari daerah baru untuk memenuhi kebutuhannya?
2. Mengapa pada masa sekarang suku Tunjung Rentenukng sudah tidak ada terlihat sama sekali persamaannya dengan suku Penihing, kecuali dari alunan / logat bahasa yang lembut.
3. Apa yang menyebabkan hilangnya budaya Penihing dalam orang rentenukng?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, saya akan memberkan sedikit bagaimana Gambaran Suku Dayak Tunjung, Khususnya rentenukng…
Sekilas Mengenai Suku Dayak Tunjung Rentenukng…..
Dayak Tunjung Rentenukng tentu saja adalah salah satu bagian dari sub suku Dayak Tunjung yang ada di Kutai Barat. Orang Rentenukng tentunya berbeda dengan suku Tunjung yang ada di bagian hilir. Rentenukng ada sebutan untuk Suku Tunjung yang berada di bagian hulu (wilayah kec. Linggang Bigung, Kec. Tering, Kec. Long Iram) , selain itu rentenukng diambil dari kata Nuukng yang berarti hulu, maka dapat disebut bahwa orang rentenukng adalah orang yang berasal dari hulu. Untuk memudahkan membedakan antara orang Tunjung hilir dengan tunjung Hulu maka saya akan menggunakan Tonyooi untuk orang tunjung hilir dan Rentenukng untuk orang Tunjung HuLu tanpa bermaksud untuk memisahkan kedua sub ini(hanya untuk memudahkan dalam pemahaman).

Rentenukng ini memiliki beberapa perbedaan yang cukup sigifikan dengan Tonyooi , khususnya dalam tata bahasa. Orang Tunjung pasti akan langsung mengenali dari cara bicara antara Rentenukng dan Tonyooi..
Umumnya orang rentenukng berbicara dengan alunan yang sangat lembut, perlahan dan halus walaupun dalam keadaan marah sekalipun tepat saja alunan lembut ini terlihat khas.. sedangkan untuk Tonyooi umumnya berbicara dengan nada yang agak cepat, keras , alunan yang meninggi seperti, serta penekanan-penekanan yang cukup banyak. sangat berbeda dari segi alunan /logatnya….

untuk kata-kata yang digunakan dalam bahasa daerah cukup berbedam namun keduanya pasti akan mengerti jika saling berkomunikasi satu dengan yang lain..
contohnya:
Bahasa Indonesia : Kamu, aku, jangan
Rentenukng : Koq, Akuq, Adui
Tonyooi: Koi, Ab, Boteq

menurut saya bahasa Tunjung Hilir lbih banyak persamaan dengan Dayak Benuaq, namun cukup berbeda baq bumi dan awan,,,ehehhehe

walaupun ada beberapa perbedaan dalam segi bahasa, keduanya pada masa sekarang adalah merupakan satu kesatuan yang sudah tidakdapat dipisahkan. Terkadang orang Rentenukng jika ditanya dia suku apa, orang itu akan menjawab kalau dia adalah Rentenukng, begitu juga orang tonyooi menyebut mereka dengan sebutan rentenukng….

Saya hanya menduga untuk jawaban nomor 2 karena Suku Rentenukng yang datang dari daerah hulu telah tinggal berdampingan dengan suku Tonyooi sehingga terjadi akulturasi, asimilasi dan inkulturasi kebudayaan sehingga kebudayaan asli yang mereka bawa ditinggalkan dan mengnyesuaikan dengan daerah sekitarnya.. Selain itu saya juga pernah mendengar bahwa suku Rentenukng itu mempunyai bahasa asli yang dulu mereka gunakan dan berbeda dengan bahasa Tunjung…. Namun sayangnya bahasa itu hanya dipahami oleh sedikit orang rentenukng dan umumnya mereka adalah para tetua-tetua rentenukng itu, dan suku ini juga mempunyai kalender asli namun lagi-lagi saya hanya mendengar dan belum menemukannya.

Mohon jika ada dari antara kalian yang tau atau pernah mendengar mengenai ini bisa di sharingkan supaya kita bisa tau mengenai sejarah dan kebudayaan kita….. hehehehhe

BESUKAR TONAR NATAR, Lagu Khusus Anak Rantauan

BESUKAR TONAAR NATARR…

Salah satu lagu kebanggaan Suku Dayak Tunjung dimana keindahan lagu ini terletak pada makna cerita yang terkandung dalam lirik tiap lirik dan bait tiap bait….
Lagu ini sangat tepat menggambarkan para pemuda-pemudi Dayak yang sedang menempuh pendidikan di Luar daerahnya (merantau)….
LINGOQ… BEJUNANG LINGOQ.. ENCOQ ETEK KAMPUKNG KABANT”…. Rindu teramat rindu… jauh dari sanak keluarga…..
Yaa.. begitulah sepenggal lirik yang ada didalam bait lagu BTN ini… Lagu yang dipopolerkan oleh Band Lokal (maaf Lupa nama grupnya)…hehehehe…
Lagu yang menceritaakan kerinduan seseorang terhadap kampung halamannya sangat jelas tergambar dalam lirik ini ditambah dengan alunan syair yang menghanyutkan setiap alunan nada membuat perasaan semakin tak menentu……ciehhhhhhhh,,,,,, Intinya Lingoq / Rindu terhadap kampung halaman.. dan kalao sudah sukses jangan lupa kembali untuk membangun daerah kita…. SAMAAN TAI…..

Lagu TONAU, Inspirasi untuk bekerja sama……

Kita harus berbangga kepada generasi Dayak Tunjung karena sudah banyak menciptakan karya-karya yang mengangkat nama Suku Dayak Tunjung…… Lagu tonau ini menceritakan mengenai keseharian masyarakat Dayak tunjung pada umunya dalam melakukan aktifitasnya sebagai petani…….
pagi hari ditengah embun dingin menerpa kulit, kita sudah sibuk untuk bersiap-siap pergi ke ladang….. tidak memandang cewek ataupun cowok semuanya sama… kita bekerja saling bekerja sama…. dalam lagu ini sangat banyak pesan-pesan moral yang baik untuk dipatuhi kita, tidak hanya masyarakat Suku Dayak tunjung, tetapi semua Masuarakat Indonesia….

“TONAU….TONAU….TONAU… BETANGKAP ASAKNG EHAU”…..

Kebudayaan Dayak Tunjung

B. Kebudayaan Fisik
1. Makanan/Minuman
Makanan khas suku Dayak Tunjung ada bermacam-macam dimana makanan tradisional ini selalu disajikan pada saat dilakukan acara perkawinan, acara kematian maupun acara syukuran.
• Tumpiiq
• Lemang


Lemang atau Solok dalam bahasa Dayak Tunjung merupakan salah satu makanan yang selalu ada dalam setiap acara yang diselenggarakan masyarakat Dayak Tunjung. Lemang ini terbuat dari beras ketan yang dimasak menggunakan bamboo yang dibakar menggunakan api.

• Tuak

Namun pada masa sekarang Tuaq sudah sangat jarang dihidang kan dalam acara-acara adat..

2. Pakaian

Pakaian tradisional ada beraneka macam warna. Ada yang berwarna Kuning, Merah, Biru, Hijau atau pun capuran dari warna-warna diatas. Pada bagian kepala biasanya menggunakan ikat kepala berwarna merah-putih (ada juga warna lain). Sedangkan baju biasanya terdapat ukiran-ukiran yang terbuat dari manic-manik maupun serat kulit kayu (Jomook). Untuk bagian bawah, Wanita menggunakan Ketau semacam kain yang dilingkarkan sepanjang kaki yang diikatkan di pinggang, sedangkan kaum pria menggunakan cawat seperti Dayak pada umumnya.

3. Kerajinan Tangan Tradisional
• Tas-tas manic
• Tas-tas rotan
• Seraung

4. Senjata Tradisional (Mandau)

C. Kebudayaan Non Fisik
1. Sistem Kemasyarakatan
System kemasyarakatan yang berlaku pada masa sekarang adalah system pemerintahan yang dianut setelah bangsa Indonesia merdeka yaitu:
a. Kepala kampung
b. Wakil kepala kampung
c. Sekretaris dan bendaraha
d. Kepala adat
e. Pengerak dan ketua padang : sebagai pembantu staff kelurahan
f. Rukun tetangga (RT)
g. Lembaga sosial desa (LSD)
h. PErtahanan sipil (Hansip)

2. Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian
Mayoritas system mata pencaharian Suku Dayak Tunjung adal bertani dan berladang dimana hal ini disesuaikan dengan kondisi geografis setempat yang berhutan lebat. Selain berladang, ada juga sebagian orang yang berprofesi sebagai pedagang, pegawai pemerintah, guru dan karyawan swasta, bahkan bupati yang sekarang menjabat adalah orang asli Suku Dayak Tunjung.

3. Sistem Kekerabatan
System kekerabatan yang dianut Suku Dayak Tunjung adalah Sistem dengan Prinsip Keturunan Ambilineal, yaitu system yang menghitung keturunan hubungan kekerabatan berdasarkan garis keturunan dari ayah dan ibu. Adapun sopan santun pergaulan dalam kekerabatan Suku Dayak Tunjung menunjukan hubungan pergaulan antara orang yang tua dan yang muda dimana yang muda menghormati orang yang lebih tua.
Kadang yang dihormati atau lebih dihormati adalah dari orang tuanya sendiri adalah mertuanya. Kepatuhan pada mertua tampak pada hal-hal patuh pada omongannya, berpantang memakai pakaian mertuanya, menyebut nama mertuanya, duduk berdampingan atau berhadapan dengan mertuanya sambil bercakap-cakap.

4. Sistem Religi
Agama asli Suku Dayak Tunjung dapat disebutkan termasuk dalam golongan Animisme. Dasar kepercayaan mereka adalah adanya roh-roh. Roh ini terbagi dalam dua bagian yaitu roh yang baik dan roh yang jahat.
Namun pada masa sekarang kepercayaan ini mulai ditiggalkan dimana masyarakat Suku Dayak Tunjung sudah memeluk Agama. Mayoritas Suku Dayak Tunjung menganut Kristen Protestas (50%), Khatolik (35%), Agama Asli (Kharingan) 10 (%), Islam (5%) orang Tunjung yang menganut Islam adalah yang menikah dengan Orang Halok .

5. Sistem Pelapisan Sosial
Dalam masyarakat Suku Dayak Tunjung terdapat system pelapisan sosial yang membedakan derajat Masyarakatnya. Ada tiga tingkat pelapisan sosial yaitu:
a. Golongan Mantiq : Mantiq merupaka golongan bangsawan dalam masyarakat Suku Dayak Tunjung yang diberi hak untuk memerintah dan memimpin serta harus dipatuhi. Bilamana tidak dipatuhi maka akan celaka. Ketentuan golongan ini ditentukan secara historis atau turun temurun berdasarkan garis keturunan.
b. Golongan Aji : Golongan ini adalah lapisan masyarakat biasa. Menurut cerita dongeng atau mitologi, golongan ini adalah keturunan Kilip
c. Golongan Rivat (Budak) : golongan ini sudah tidak ada lagi tetapi orang-orang masih dapat menyebutkan siapa-siapa bekas dari golongan itu. Dahulu orang yang ditangkap dalam peperangan terhadap suku lain dari sub suku sendiri yang dianggap sudah menjadi ketetapan Dewa ia tergolong dalam kelas ini

Sistem pelapisan sosial pada masa modern ini sudah tidak berlaku lagi. Semua masyarakat Dayak Tunjung itu sama dan tidak ada yang membedakan dari segi pelapisan sosial.




Kerajaan Sentawar…

Taukah anda bahwa pada jaman dahulu suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan yang bernama “Kerajaan Sentawar” yang berpusat di daerah sekitar kecamatan melak yang sekarang bernama Sendawar. Situs Sentawar merupakan peninggalan bersejarah bagi Kerajaan Sentawar yang secara mitologi itu merupakan cikal bakal lahirnya suku-suku dayak di kabupaten kutai barat. Menurut Legenda Kerajaan Sentawar dengan Raja Tulur Aji Jangkat bersama permaisuri Mok Manor Bulatn dan mereka memupnyai 5 orang anak : Sualas Gunaaqn (Mjd Keturunan Tunjung), Jelivan Benaaq (Mjd Keturunan Bahau), Nara Gunaa (Mjd Keturunan Benuaq), Tantan Cunaaq (Mjd Keturunan Kenyah) dan Puncan Karnaaq (mjd Keturunan Kutai)
Raja Pertama adalah Tulur Aji JAngkat dan kemudian digantikan oleh puteranya yang pertama Sualas Gunaaq. Sualas Gunaaq yang merupakan cikal bakal lahirnya suku dayak tunjung menjadi Raja Ke 2 di Kerajaan Sentawar.
Kedua Putera Raja yaitu Puncan Karna dan Jelivan Benaaq pergi merantau dan menaiki perahu melewati sungai mahakam. Puncan Karna menuju arah hilir sungai mahakam dan sampai didaerah sekarang tenggarong kemudian menikah dengan adik kandung Sultan di Tangga Arung (sekarang Tenggarong). Sedangkan Jelivan Benaaq bergerak kearah hulu sungai mahakam dan sampai didaerah yang bernama Tering dan kemudian menguasai daerah tersebut. Dan kemudian mereka beranak cucu didaerah mereka masing-masing.

Gimana Pendapat mu???



Etimologi Dan Asal Usul Tradisi Ngayau

Asal usul kata ngayau umumnya terdapat kesepakatan di kalangan suku Dayak. Namun, kapan ngayau dimulai dan bagaimanakah sejarahnya, agaknya masih simpang siur dan sering muncul dalam berbagai versi.

Hal itu disebabkan belum ada studi dan catatan sejarah mengenai asal mula ngayau secara detail dan kronologis. Hanya ada catatan mengenai kesepakatan bersama seluruh etnis Dayak Borneo untuk mengakhirinya. Ini terjadi pada pada 22 Mei – 24 Juli 1894, ketika diadakan Musyawarah Besar Tumbang Anoi di Desa Huron Anoi Kahayan Ulu Kalimantan Tengah.

Benar adanya bahwa sebelum perjanjian Tumbang Anoi disepakati, terjadi praktik headhunting bahkan di kalangan sesama Dayak. Praktik ngayau antarsesama Dayak ini sukar dibantah dan memang demikianlah adanya. Dayak Jangkang misalnya, dahulu kala bermusuhan dengan Dayak Ribunt. Padahal, keduanya tidak berjauhan tempat tinggal.

Apakah faktor yang menyebabkan pengayauan antarDayak ini terjadi?

Saling mengayau di antara sesama Dayak, sejatinya bukanlah semata-mata mencari kepala musuh sebagai tanda bukti kekuatan dan kebanggaan sebagaimana selama ini dipersepsikan banyak orang. Alasan ini terlampau sederhana! Lebih dari itu, dilatari juga oleh nafsu balas dendam dan sebagai cara mempertahankan diri: menyerang lebih dulu sebelum diserang. Ini mirip dengan pepatah Latin si vis pacem, para bellum (jika Anda menginginkan damai, siap sedialah untuk perang).

Masuknya agama Katolik di tengah-tengah etnis Dayak, terutama dengan datangnya misi Katolik ke pulau Borneo di pengujung abad 18, membawa pengaruh baik. Perlahan-lahan ajaran Katolik tentang balas dendam (mata ganti mata, gigi ganti gigi) merasuk dalam hidup orang Dayak.

Ajaran Kristen yang radikal untuk tidak balas dendam dengan hukum “mata ganti mata, tulang ganti tulang” segera merasuk etnis Dayak. Ajaran cinta kasih ini menyadarkan masyarakat Dayak untuk segera menghentikan tradisi mengayau ini. Musyawarah ini dihadiri para kepala adat se-Kalimantan yang berkumpul dan bersepakat untuk menghentikan pengayauan antarsesama Dayak. Namun, pertemuan yang berbuah kesepakatan Tumbang Anoi sendiri diprakarsai pemerintah Hindia Belanda.

Ngayau berasal dari kata kayau yang berarti “musuh”. J.U. Lontaan, op.cit. hal. 532. Selanjutnya, untuk mendukung pendapatnya, Lontaan mengutip Alfred Russel Wallage dalam The Malay Archhipelago, 1896: 68, “… headhunting is a custom originating in the petty wars of village with village and tribe with tribe….”

Terdapat berbagai versi etimologi ngayau. Sebagai contoh, Fridolin Ukur dalam buku Tantang Jawab Suku Daya menyebut bahwa ngayau mencari kepala musuh. Sedangkan bagi Dayak Lamandau dan Delang di Kalimantan Tengah, mengayau berasal dari kata “kayau” atau “kayo’; yang artinya mencari. Mengayau berarti men¬cari kepala musuh. Jadi, mengayau ialah suatu perbuatan dan tindak-budaya mencari kepala musuh.

Bai Dayak Jangkang, ngayau juga disebut ngayo. Berasal dari kata “yao” yang berarti: bayang-bayang, mengahantui, meniadakan, atau memburu kepala musuh sebagai prasyarat atau pesta gawai. Ada gawai khusus untuk merayakan kepala musuh dengan tarian perang, yakni gawai naja bak (pesta kepala).

Namun, serta merta perlu diberikan catatan pada apa yang disebutkan perbuatan dan tindak-budaya ini. Kedengarannya aneh di telinga untuk saat ini. Namun, jika menyelami keyakinan etnis Dayak lebih mendalam maka kita akan segera menjadi mafhum di balik tradisi mengayau ini.

Ngayau tidak terlepas dari keyakinan komunitas Dayak sebagai sebuah entitas. Hal ini dapat ditelusuri dari cerita lisan dan tradisi yang diturunkan dari mulut ke mulut. Menurut keyakinan yang dipegang teguh, orang Dayak yakin mereka adalah keturunan makhluk langit. Ketika turun ke dunia ini, menjadi makhluk yang paling mulia dan, karena itu, menjadi penguasa bumi.

Keyakinan ini, pada gilirannya, membawa konsekuensi orang Dayak lalu memandang rendah entis lain. Jika menganggu dan mengancam keberadaan dan kelangsungan hidup mereka, etnis lain dapat disingkirkan. Namun, harus ada alasan yang kuat untuk itu. Darah hewan, apalagi manusia, tabu untuk ditumpahkan. Jika sampai terjadi, mereka akan menuntut balas.

Prinsip bahwa mata ganti mata, gigi ganti gigi benar-benar diterapkan. Meski mengalami penyempurnaan dan penyesuaian, sisa-sisa praktik ini “mata ganti mata, gigi ganti gigi” ini masih diteruskan di Jangkang hingga hari ini.

Pasal-pasal hukum adat Kecamatan Jangkang masih terasa kental nuansa penuntutan atas pertumpahan darah ini. Terbukti dari diaturnya secara detail pasal-pasal yang menetapkan pengadilan atas perkara dari mulai yang terkecil kasus pertumpahan darah hingga mengakibatkan kematian, yang dalam bahasa Dayak Jangkang disebut dengan “Adat Pati Nyawa”.

Satuan untuk menghitung ganti atas pertumpahan darah unik, disebut dengan tael. Di masa lampau, menghilangkan nyawa manusia baik sengaja (misalnya tertembak waktu berburu) maupun secara sengaja maka si pelaku akan mengalami kesulitan membayarnya. Seisi keluarga dan sanak saudara akan turut terlibat membantu. Bahkan, bukan tidak mungkin sampai seumur hidup pelaku menunaikan kewajibannya membayar Adat Pati Nyawa.

Apakah Adat Pati Nyawa? Secara harfiah, pati berarti sari atau inti. Kata “pati” kerap muncul dalam bahasa Dayak dengan inisial dan pembagian Djo (lihat Ethnologue: Languages of the World, Fifteenth edition, Dallas, “Djongkang: A language of Indonesia” (Kalimantan) ISO 639-3: djo

Jadi, pati nyawa adalah pengganti nyawa yang hilang. Tentu saja, hukum pati nyawa ini tidak berlaku dalam ngayau. Dan hanya berlaku dalam keadaan normal saja, sebab pekik ngayau haruslah datang dari aump dan merupakan hasil dari permufakatan bersama.

Demikianlah, ngayau pun harus disertai alasan-alasan yang kuat dan masuk akal bagi komunitas Dayak dan harus melalui hasil mufakat bersama. Disebut komunitas, karena suatu kampung biasanya menempati sebuah batang atau rumah panjang. Sebelum melancarkan pengayauan, malam harinya diadakan musyawarah bersama yang dalam bahasa Dayak Jangkang disebut boraump. Semua peserta wajib memberikan pendapat dan penilaian. Keputusan diambil dengan berpangkal tolak pada suara dan pendapat mayoritas.

Patut diberi catatan tambahan bahwa ngayau di kalangan suku Dayak umumnya, dan Dayak Djongkang khususnya, bukan sekadar memanggal kepala musuh. Ada filosofi yang melatarinya. Banyak kandungan hikmah, meski sekilas tampak sadis, di balik itu semua.

Orang luar yang kurang memahami secara mendalam filosofi dan latar di balik tradisi ngayau, sehingga menarik simpulan entimema: orang Dayak biadab, sadis, pemburu kepala manusia, dan headhunting. Tentang labeling bahwa Dayak adalah pemburu kepala manusia ini, Wikimedia bahkan mencatatnya sebagai “budaya” yang semestinya harus serta merta diberikan catatan bahwa itu adalah gambaran Dayak masa lampau. Perjanjian Tumbang Anoi yang difasilitasi Pemerintah Kolonial Belanda menghapuskan budaya ngayau ini. Di beberapa subsuku memang masih berlangsung, namun di Kalbar tradisi mengayau sudah berakhir pada sekitar sejak tahun 1938.

Toh demikian, Wikipedia yang tidak tahu sejarahnya masih mencatat demikian, “Headhunting was an important part of Dayak culture, in particular to the Iban and Kenyah. There used to be a tradition of retaliation for old headhunts, which kept the practise alive. External interference by the reign of the Brooke Rajahs in Sarawak and the Dutch in Kalimantan Borneo curtailed and limited this tradition. Apart from massed raids, the practice of headhunting was limited to individual retaliation attacks or the result of chance encounters. Early Brooke Government reports describe Dayak Iban and Kenyah War parties with captured enemy heads. At various times, there have been massive coordinated raids in the interior, and throughout coastal Borneo, directed by the Raj during Brooke’s reign in Sarawak. This may have given rise to the term, Sea Dayak, although, throughout the 19th Century, Sarawak Government raids and independent expeditions appeared to have been carried out as far as Brunei, Mindanao, East coast Malaya, Jawa and Celebes. Tandem diplomatic relations between the Sarawak Government (Brooke Rajah) and Britain (East India Company and the Royal Navy) acted as a pivot and a deterrence to the former’s territorial ambitions, against the Dutch administration in the Kalimantan regions and client Sultanates.”

Tidak mengherankan, dalam literatur dan laporan-laporan tertulis pada zaman kolonial, Dayak dicap sebagai suku asli Borneo yang tidak berkeadaban. Meski para peneliti dan ahli antropologi tidak memasukkan Dayak sebagai suku terakhir di Nusantara yang mempraktikkan headhunting, toh stereotipe sebagai pengayau masih melekat kuat minimal hingga kerusuhan etnis terjadi di Sambas pada 19 Januari 1999 di Desa Parit Setia, Kecamatan Jawai, Sambas dan kemudian merambat ke Sampit pada 18 Februari 2001.

Banyak orang melihat pertalian kejadian itu, meski sebenarnya berbeda dalam hal casus belli dan eskalasi. Akan tetapi, satu yang sama: solidaritas di kalangan etnis Dayak tumbuh menghadapi bahaya dari luar. Dalam konteks mempertahankan diri dan melakukan tindakan menyerang lebih dulu sebelum diserang ini, dapat dipahami latar dan filosofi ngayau.

Sumber:

http://masri-sareb.blogspot.com/2009/09/bab-2-buku-dayak-jangkang-from.html?zx=a5f9df47d88b857d

http://www.ceritadayak.com/2010/05/etimologi-dan-asal-usul-ngayau.html