Tari Gantar (Dayak Tunjung dan Dayak Benuaq)


TAri Gantar

SEJARAH, FUNGSI DAN DESKRIPSI TARI GANTAR (DAYAK TUNJUNG DAN BENUAQ)

A. SEJARAH TARI GANTAR
Ada suatu mitos yang mengawali lahirnya tari gantar sebelum terciptanya tari gantar yang sudah semakin berkembang. Mitos ini dulunya sangat dipercaya pada masyarakat pendukungnya yaitu masyarakat Dayak Benuaq dan masyarakat Dayak Tunjung.
Konon menurut mitos yang berkembang dalam masyarakat Suku Bangsa Dayak Benuaq dan Suku Bangsa Dayak Tunjung bahwa lahirnya Tari Gantar berawal dari cerita di Negeri ”Dewa Nayu” yang diyakini sebagai tempat Dewa Nirwana yang bernama Negeri Oteng Doi. Pada suatu hari terjadi peristiwa didalam keluarga Dewa di Negeri Oteng Doi atau Negeri Dewa langit. Keluarga tersebut terdiri dari :Suatu kepala keluarga yang bernama Oling Besi Oling Bayatn mempunyai seorang istri dan dua orang anak putri yang bernama Dewi Ruda dan Dewi Bela. Keluarga Tersebut hidup tentram dan damai Di Negeri Oteng Doi. Pada suatu ketika datanglah seorang Dewa yang bernama Dolonong Utak Dolonong Payang ke keluarga Oliang Besi Oliang Bayatn, tanpa disangka dan diduga Oleh keluarga Oling Besi. Kedatangan Dolonong Utak Ternyata beritikad buruk. Maka Oling Besi pun dibunuhnya dengan tujuan dapat menikahi istri Oliang Besi. Sedangkan peristiwa itu terjadi didepan mata kedua anak dan istri Oling Besi. Karena takutnya istri Oling Besi menerima ajakan Dolonong Utak, namun kedua anaknya menyimpan dendam pada ayah tirinya tersebut.
Hari berganti hari, masa berganti masa, setelah kedua Putri oling besi menginjak remaja mereka berdua berencana untuk membunuh ayah tirinya. Pada suatu hari kedua Dewi tersebut akan melaksanakan niatnya untuk membalas kematian ayah kandungnya pada ayah tirinya, saat ayah tirinya ( Dolonong Utak) sedang istirahat dibalai- balai rumahnya. Ketika kesempatan itu tiba dibunuhlah Dolonong Utak dengan menggunakan sumpit. Dalam waktu sekejap Dolonong meninggal, setelah diketahui bahwa ayah tirinya meninggal selanjutnya kedua putri tersebut memenggal Kepala Dolonong dan diikatkan pada Batang Sumpit yang digunakan untuk membunuhnya.
Kedua Putri tersebut sangat senang, keduanya besuka cita dan mengungkapkanya dengan menari- nari berdua. Dan sebagai musiknya mereka berdua mencari sepotong bambu pendek dan mengisinya dengan biji- bijian. Ungkapan kepuasaan membunuh Dolonong Utak itu dilakukan hingga beberapa hari. Begitulah peristiwa yang terjadi dialam Dewa langit.
Dari dunia kejadian di alam Dewa tersebut diketahui oleh seorang manusia yang mampu berhubungan dengan alam Dewa yang bernama Kilip. Karena Kilip mengetahui kejadian itu maka Dewi Ruda dan Dewi Bela mendatangi Kilip dengan tujuan Kilip tidak boleh menceritakan kejadian ini pada dewa-dewa lain di Negeri Oteng Doi. Kilip menyetujui dengan mengajukan suatu syarat bahwa Dewi Ruda dan Dewi Bela harus mengajarkan tari mereka yang mereka lakukan saat bersuka cita. Tanpa berfikir panjang Dewi Ruda dan Dewi Bela pun mengajarinya. Dari hasil pertemuan tersebut Kilip mendapatkan satu bentuk tarian Sakral karena property tari tersebut berupa tongkat panjang dan sepotong bambu, maka Kilip memberi nama tarian tersebut sebagai tarian Gantar yang artinya tongkat (yang sebenarnya sebuah sumpit) dan sepotong bambu yang biasa disebut Kusak.
Tari Gantar ini dahulunya hanya ditarikan pada saat upacara adat saja, menurut versi cerita yang lain bahwa Tari gantar adalah merupakan tarian yang dilaksanakan pada saat upacara pesta tanam padi. Properti tari sebuah tongkat panjang tersebut adalah kayu yang digunakan untuk melobangi tanah pertanian dan bambu pendek adalah tabung benih padi yang siap ditaburkan dalam lobang tersebut. Gerakan kaki dalam tari ini menggambarkan cara menutup lobang tanah tersebut. Muda –mudi dengan suka cita bersama –sama menari tari tersebut dengan harapan panen kelak akan berlimpah ruah hasilnya. Tari ini biasanya dilakukan bergantian oleh anggota masyarakat Suku Bangsa Dayak Benuaq dan Tunjung.
Versi lain yang juga beredar dalam masyarakat bahwa dahulunya Tari Gantar adalah merupakan tari sakral yang hanya boleh ditarikan saat para pahlawan pulang dari medan peperangan. Tari ini sebagai penyambut kedatangan mereka dan ditarikan oleh gadis- gadis remaja. Properti tongkat panjang adalah sebuah sumpit dan diberi hiasan kepada atau tengkorak musuh ( digantungkan) yang telah dibunuh oleh para pahlawan. Sedangkan bambu kecil sebelah kanan adalah merupakan peraga untuk mengimbangi dari gerak tari.

B. FUNGSI TARI GANTAR
Tari adalah salah satu bentuk dari perwujudan budaya, sedangkan ciri, gaya dan fungsi suatu tari selalu tidak dapat terlepas dari kebudayaan dimana tari itu muncul dan berkembang. Dalam lingkup budaya yang mempunyai bahasa, adat istiadat dan kepercayaan tari tersebut bisa terbentuk dan fungsi. Tarian dapat disajikan dalam berbagai peristiwa. Di dalam kebudayaan daerah dikenal peyajian tari dalam rangka suatu upacara keagamaan dan upacara adat, bahkan tidak jarang tari itu merupakan bagian tidak terpisahkan dengan upacara tersebut. Dalam hal ini orang yang menyajikan tarian tersebut adalah orang yang terlibat dalam upacara tersebut., dengan maksud dari setiap gerakan ada arti atau sebagai simbol suatu pernyataan atau harapan yang diungkapkan.
Ditinjau dari segi fungsi seni tari maka Tari Gantar pada awalnya sebagai upacara adat dan memang munculnya atau keberadaan suatu karya tari pada jaman dahulu pengemban utama dari keberadaan suatu tari. Secara khusus bahwa seni tari beserta iringan yang digunakan pada dasarnya adalah merupakan pengemban dari unsur- unsur yang bersifat magis yang di harapkan hadir.
Menurut Prof. Dr. Edi Sedyawati dalam bukunya yang berjudul Pertumbuhan Seni Pertunjukan , Disebutkan bahwa fungsi Kesenian dalam Ethnik di Indonesia dapat disebutkan sebagai berikut :
Sebagai sarana untuk memanggil kekuatan Roh.
Penjemputan Roh-Roh pelindung untuk hadir ditempat pemujaan.
Peringatan pada nenek moyang dengan menirukan kegagahan dan kesiagapan.
Merupakan pelengkap upacara , sehubungan dengan peringkatan tingkat hidup seseorang atau saat-saat tertentu.
Pergeseran fungsi bisa saja terjadi yaitu fungsi sakral ke fungsi pertunjukkan karena kegeseran fungsi sudah mulai didukung oleh masyarakat penduduknya dan masyarakat sudah tidak mendukung adat yang menopang dari karya tari tersebut sehingga perlu adanya upaya-upaya pelestarian dengan cara mengalihfungsikan.
Kenyataan ini dapat terjadi karena adanya beberapa pengaruh antara lain;
Adanya pengaruh budaya lain.
Masuknya beberapa agama .
Adanya pengaruh globalisasi dan informasi yang memudahkan komunikasi.
Begitu juga yang terjadi dengan Tari Gantar, pada jaman dahulu Tari Gantar terangkai dalam upacara Ngawurng Enghuni, yaitu semacam upacara tanam padi, beralih fungsinya menjadi fungsi pertunjukkan karena adanya pengaruh –pengaruh tersebut diatas. Tari Gantar pada saat ini biasa digunakan untuk penyambutan tamu.
Fungsi Pertunjukan itu antara lain:
Sebagai media hiburan
Sebagai media pendidikan
Sebagai Kajian seni
Sebagai media promosi dan sebagainya;
Fungsi Tari Gantar Berkembang lebih luas dan tentunya disesuaikan kebutuhan dari event yang dipergelarkan, baik itu bentuknya, lamanya ( durasinya).

Tari Gantar

Tari Gantar


C. DISKRIPSI TARI GANTAR

C1. Gambaran secara umum
Gerakan Tari Gantar yang sekarang sering kita saksikan adalah merupakaan rangkaian gerakan yang sudah mengalami proses penggarapan maupun pemadataan. Gerakan Tari Gantar didominasi pada gerakan kaki.
Pada awalnya Tari Gantar di bagi menjadi 3 jenis yaitu :

1. Gantar Rayatn
Jenis Tari gantar ini alatnya hanya satu yaitu Gantar ( kayu yang panjang), pada ujung tongkat tersebut diikatkan/ digantung tengkorak manusia yang dibungkus dengan kain merah dan dihiasi dengan Ibus. Mereka menari berkeliling sambil menyanyi (Bergurindam) , dipinggang penari terikat mandau atau parang. Apabila tidak memegang tongkat, mereka mengeliwai ( melambaikan tangan sesuai irama).

2. Gantar Busai
Jenis Tari Gantar ini hanya membawa sepotong bambu yang diisi dengan biji-bijian yang dipegang sebelah tangan kanan sedangkan tangan kiri tidak membawa apa- apa ( kosong) waktu menari dilambai-lambaikan sesuai irama ( ngeliwai) sedangkan bambunya berukuran 50 cm diberikan dua belas gelang agar berbunyi gemerincing jika digerakkan. Jumlah bambu atau Gantar tersebut sesuai dengan jumlah penarinya. Mereka menari berkelompok- kelompok, kadang ada yang “Ngloak” ( menari sambil saling memupuki dengan pupur basah).

3. Gantar Senak dan Kusak
Jenis tari Gantar ini, penarinya menggunakan dua peralatan tari yaitu Senak ( tongkat) yang dipegang tangan kiri. Sedangkan Kusak ( bambu) yang dipegang tangan kanan , yang berisi biji-bijian supaya nyaring bunyinya, Kusak dipegang tangan kanan dengan telapak tangan terlentang dan siku ditekuk. Senak biasanya berukuran satu sampai seperempatan meter, sedangkan kusak dengan ukuran 30 cm yang diisi dengan biji- bijian dan diujungnya diberi penutup yang disebut dengan lbus.
Jenis tari yang ketiga inilah yang berkembang pada saat ini dengan perkembangan variasi gerak , pola lantai, penggarapan level, iringan tari yang disesuikan dengan situasi dan kondisi pada saat ini. Pada saat sekarang Tari Gantar berfungsi untuk menyambut tamu yang daang ke daerah tertentu, daerah tersebut menyebutnya dengan sajian Tari Gantar dan mengajaknya menari cukup dengan menyerahkan tongkat kepada tamu yang akan diajak menari bersama. Proses perkembangan ini melalui proses penggarapan baik melalui pemadatan maupun penggalian sehingga tercipta suatu rangkaian yang sekarang ini sering kita saksikan, tentunya dalam proses penggarapan ini juga tidak lepas dari pengaruh ethnik serta ide dari sang pencipta.
Proses penggarapan ini dilakukan karena adanya berbagai faktor yang tidak mendukung lagi dari keberadaan maupun kelestarian karya tari ini, contoh faktor tersebut adalah: beralihnya fungsi tari dari fungsi sakral menjadi fungsi pertunjukan, pengaruh arus informasi dan komunikasi yang menuntut serba cepat sehingga tidak bisa lagi masyarakat pendukung untuk berlama –lama menikmati karya tari yang menonton bahkan tidak tertarik lagi untuk menyaksikan. Masih banyak lagi fakor lain yang menjadi pertimbangan dan pola diperhatikan sehingga muncul suatu proses penggalian, penggarapan tari, dengan harapan karya tari tersebut masih mampu bertahan hidup dan tetap diterima oleh masyarakat pendukungnya.

C.2. Ciri Umum Gerakan Dasar Tari Gantar

Unsur-unsur Gerakan :
Gerakan Tangan yang memegang Kusak
Gerakan Tangan yang memegang Senak ( tongkat)
Gerakan kaki dan gerakan berjalan
Gerakan dan posisi badan

A. Dasar gerakan tangan dan cara memegang Kusak
Keempat jari tangan yang memegang Kusak, menggengam dari bawah ke atas, sedangkan ibu jari melingkari Kusak dari atas.
Posisi Kusak Vertikal saat digenggam.
Pada saat menggerakkan tangan yang memegang Kusak sudut siku 25 derajat dan ke bawah hingga sudut siku 45 derajat dengan menggoncang-goncang bambu (Kusak). Tangan pergelangan yang aktif bergerak.

B. Dasar gerakan tangan yang memegang senak dan cara menggenggamnya.
Keempat jari tangan memegang Senak, menggenggam dari sisi luar ibu jari menutup dari atas ujung tongkat ( Senak).
Tongkat ( Senak) posisi luruh ke bawah
Tongkat ( Senak) pada saat diangkat ujung bawah Senak kurang lebih 1 jengkal dari lantai dan ditaruh kembali hingga ujung bawah senak bertumpu di dasar lantai di depan ujung jari kaki kiri.
Gerakan ini dilakukan dengan mengikuti gerakan kaki (saat kaki melangkah Senak diangkat, dan pada saat kaki diletakkan Senak bertumpu di lantai).

C. Gerakan kaki dan gerakan berjalan.

Posisi awal ke dua kaki sejajar.
Sebelum kaki dilangkahkan, ujung jari kaki menumpu atau menyentuh lantai baru kemudian dilangkahkan, gerakan ini dilakukan bergantian dengan kaki melangkah kanan, kiri, kanan, kiri dalam hitungan 1 sampai 4 atau sesuai yang dikehendaki pelatih tari.
Tumit kaki menumpu lantai , sebaliknya jari-jari kaki ke atas dengan arah hadap kaki agak ke kanan 25 derajat dan lurus depan, lalu tumit kaki diangkat ujung jari –jari kaki menumpu lantai kemudian kaki ditarik dibelakang agak ke samping melampaui kaki kiri ujung jari kaki menyentuh lantai, berat badan pada kaki yang satunya.
Bergerak mundur dengan sebelumnya meletakkan kaki kanan ke depan , arah hadap ke kanan 25 derajat dari lurus depan. Tumit kaki kanan tepat di depan ujung jari kaki kiri, kemudian ditarik kebelakang melampaui kaki kiri dilakukan gerakan yang sama dengan bergantian kaki.
Ujung jari kaki kanan bertumpu pada lantai tumit ditarik ke atas, berat badan pada kaki kiri.
Posisi kaki kanan agak di depan kaki kiri, kemudian ujung kaki kanan membuka kesamping dengan tidak merubah letak kaki bagian tumit hingga ke dua kaki membentuk sudut 25 derajat (Pada saat kaki bagian ujung membuka kesamping, telapak kaki tidak menyentuh lantai hanya tumit kaki dan berat badan pada kaki kiri). Selanjutnya kaki kanan menutup hingga posisi kaki seperti semula, gerakan ini dilakukan dengan sistematika buka , tutup buka tutup lalu melangkah maju dengan hitungan 1-2-3 pada hitungan ke 4 kaki kanan membuka kesamping selanjutnya seperti keterangan gerakan di atas.
Berjalan jinjit, Jari- jari dari kedua kaki bertumpu pada lantai tumit diangkat kemudian berjalan kedepan.
Kaki kanan bergerak ke samping, dengan kesan membuat garis cembung di lantai, selanjutnya kaki kiri mengikuti kaki kanan, dengan bergerak kekanan hingga ke dua kaki sejajar hampir bersentuhan selanjutnya kaki kiri bergerak ke samping dengan kesan membuat garis cembung pada lantai ( hitungan 1 x 8), kemudian kaki kanan dilangkahkan kedepan arah hadap kaki kanan ke kanan, berat badan pada kaki kiri selanjutnya berpindah pada kaki kanan bersamaan dengan membalikkan badan ke arah hadap yang berlawanan . Lalu ujung jari kaki bertumpu pada lantai, gerak ini dilakukan dengan ritme yang cepat.

Kaki kanan melangkah ke depan diikuti oleh kaki kiri dengan melangkah ke depan melampaui kaki kanan, kaki kanan bergerak ke belakang dengan posisi arah hadap kaki ke kanan diikuti kaki kiri dengan mengangkat kaki hingga kurang lebih 1 jengkal dari dasar lantai.

IV. Gerakan Dan Posisi Badan.
Pada dasarnya gerakan dan posisi badan pada saat melakukan gerak Tari Gantar dalam keadaan posisi biasa , begitu juga pada gerak dari pedalaman Kalimantan Timur yang lainnya. Kalaupun ada tekanan pada posisi badan itu tidak terlalu ditonjolkan seperti pada waktu badan merendah pantat tidak ditonjolkan ke belakang seperti pada ciri khas Tari Bali, dan tidak membusungkan dada ke depan tetapi badan tetap merendah dengan menekukkan kedua lutut atau salah satu kaki ditarik ke depan dan ke belakang hingga badan merendah untuk mengimbangi. Dalam Tari Gantar Tidak ditemukan adanya ekspresi wajah sehingga mata, leher dan kepala tidak berfungsi banyak.

TAri Gantar

C.4. Tata Busana
Penari Wanita Tari Gantar biasanya menari dengan mengenakan kostum dan perlengkapan seperti :
Baju atasan
Ta’ ah
Hiasan kepala

a. Baju atasan
Baju atasan yang dipakai penari gantar yaitu baju model blus ”You can see” yang biasanya diberi rumbai-rumbai dipinggir lingkaran lengan bajunya, bentuk leher bundar kancing depan . bahan yang dipergunakan kain polos biasa atau dari bahan tenun ulap doyo, bahan tenun ulap doyo ini bisa didapat dari masyarakat Dayak Benuaq di Tanjung lsuy.
Sebagai pengganti blus penari bisa juga mengenakan kebaya panjang atau setengah lengan yang terbuat dari bahan, atau kain tenun.

b. Bawahan ( ta’a)
Bawahan penari Gantar menggunakan kain sela atau Ta’ah dengan ukuran lebar 2 kali ukuran lingkaran pinggang. Diukir atau dihiasi uang logam , bisa juga dipinggirannya ditempel kaim perca yang berwarna warni. Bahan terdiri dari kain polos atau tenun doyo.

c. Hiasan Kepala dan properti Tari gantar
Bagian kepala memakai Labung yaitu hiasan kepala yang diikat seputar kepala yang dihiasi dengan ukiran-ukiran yang disebelah belakang menempel kain lurus ke samping atau bisa juga penarinya memakai seraung yaitu topi lebar yang diberi hiasan pada bagian atas serta rumbai-rumbai yang berjuntai pada pinggiran topi. Sebagai perlengkapan penari menggunakan hiasan kalung manik batu yang beraneka warna dan pada pergelangan tangan perhiasan gelang manik batu beraneka warna atau gelang sulau yang terbuat dari logam atau tulang. Pada pergelangan kaki dipasang gelang kaki.

Kesimpulan

Tari Gantar ini merupakan salah satu tari yang berasal dari Pedalaman Kalimantan Timur yang dimiliki oleh Suku Bangsa Dayak Tunjung, Benuaq dan Bentian. Karena Tari Gantar ini merupakan Salah satu bagian dari tari yang ada di pedalaman Kalimantan Timur, maka tentu mempunyai keterkaitan dengan kebiasaan masyarakat, adat istiadat yang sangat berbeda dengan Tarian Kraton dan Tarian Pesisir.
Tari Gantar bisa dikategorikan ke dalam Tari Rakyat yang sekarang mengalami perkembangan menuju Tari Tradisional. Tari Gantar dalam proses perkembangannya nantinya akan menentukan pola-pola yang baku yang tentunya pola-pola tersebut akan diberi nama.

Ditinjau dari Segi Fungsi, Tari Gantar ini hanya ditarikan pada saat upacara adat pesta tanam padi, dengan menarikan Tari Gantar, mereka terhadap agar hasil panennya melimpah. Versi lain ada yang mengatakan bahwa Tari Gantar ditarikan pada upacara penyambutan Pahlawan yang baru pulang dari medan perang.yang ditarikan oleh gadis-gadis dengan properti tongkat panjang( sumpit) dan diberi hiasan kepala / tengkorak musuh dan bambu kecil yang dipegang ditangan kanan yang berisi biji-bijiansehingga memiliki bunyi dan bunyi tersebut adalah musiknya. Munculnya tari Gantar pada awalnya terangkai dengan peristiwa adat dan biasanya peristiwa adat sebagai pengemban atau penyangga dari keberadaaan suatu karya tari.

Pergeseran fungsi wajar saja terjadi apabila penopang dari karya tari ( peristiwa adat) sudah tidak didukung lagi masyarakat pendukungnya, sehingga perlu adanya upaya-upaya pelestarian dengan car mengalih fungsi yaitu fungsi sakral/ ritual menjadi fungsi pertunjukan.
Pada awalnya tari Gantar dibagi menjadi 3 jenis yaitu :
Tari Gantar Rayatn
Tari Gantar Busai
Tari Gantar Senak Kusak

Jenis Tari Gantar yang ke 3 inilah yang berkembang pada saat dengan perkembangan variasi gerak, pola lantai, penggarahan level. Iringan tari yang disesuaikandengan situasi dan kondisi pada saaat ini. Pada saat ini Tari Gantar berfungsi untuk menyambut tamu yang datang ke daerah itu. Daerah tersebut menyambut dengan sajian Tari Gantar dan mengajaknya menari cukup dengan menyerahkan tongkat (Kusak) kepada tamu yang akan diajak menari bersama.

Proses perkembangan ini melalui penggarapan baik melalui pemadatan maupun penggalian sehingga tercipta suatu rangkaian gerakan yang sekarang ini sering kita saksikan, tentunya dalam proses penggarapan juga tidak lepas dari ethnik serta kreatifitas dari sang pencipta.

B. Saran

Tari Gantar merupakan tari yang berasal dari daerah perdalaman Kalimantan timur yang sekarang telah berkembang baik mengenai bentuk maupun fungsinya. Perkembangan bentuk bisa terlihat dengan perkembangan variasi gerak variasi pola lantai, penggaraapan level, penggarapan iringan tari yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada saat ini.
Perkembangan tersebut harusnya diimbangi dengan adanya upaya-upaya pembakuan gerak sebagai gerakan dasar dari Tari Gantar, Hal ini perlu dilakukan agar perkembangan tersebut tidak menyimpang dari gerakan dasarnya menggingat perkembangan bentuk gerak Tari Gantar makin lama makin pesat.
Tari Gantar sebagai salah satu ragam kesenian dari Suku Bangsa Dayak Tunjung Benuaq yang mempunya khas dari ethnik tesebut yang perlu diperhatikan nilainya dan ciri khususnya sebagai ragam seni tari daerah seperti tari-tari daerah lain yang mempunyai ciri dari bentuk tari.
Berdasar perkembangan dan keberadaaan Tari Gantar dewasa ini maka diperlukan langkah-langkah tertentu yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sebuah pengelaran dan penyajian sebagai ajang apresiasi dari masyarakat.
Oleh : YEKTI UTAMI

Kepustakaan

1. Idris jailani, 1985, Diskipsi Tari Kutai, Kalimantan Timur
2. TIM , 1967 / 1977. Kumpulan Naskah Kesenian Kalimantan timur
3.TIM, 1982. Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Propensi
Kalimantan Timur. Depdikbud. Proyek
Pengembangan Nilai- Nilai Tradisional Daerah.

4. Bahrah Ahmad. H, 1992. Kamus Bahasa Daerah kutai umum Indonesia Lembaga Pembina Kebudayaan Kutai Tenggarong, kalimantan Timur

5. TIM__________, Sejarah Daerah kalimantan Timur, Dipdikbud. Proyek Pengembangan Nilai Tradisional, Direktorat jendral Kebudayaan. Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s