Masuk dan berkembangnya Islam di Asia Tenggara.

Permulaan masuknya agama Islam ke Asia Tenggara didahului oleh interaksi antara wilayah kepulauan dengan para pedagang Arab dan India. Pada abad ke 5 SM Asia tenggara telah menjadi tempat persinggahan para pedagang yang berlayar ke Cina atau sebaliknya. Bertia cina menyatakan bahwa Islamisasi Asia Tenggara sudah berlangsung sejak tahun 1281 yaitu dengan adanya 2 orang diplomat Melayu dari kerajaan Samudera Pasai yaitu Husein dan Sulaiman yang beragama islam berkunjung ke Mongol. Berita itu menyebut bahwa Samudera Pasai adalah tempat pertama kali terkena pengaruh islam di asia tenggara. Kerajaan Samudera Pasai merupakan pangkal tolak penyebaran Agama Islam di Asia Tenggara yang lain. Dari samudera pasai islam berkembang ke malaka. Proses islamisasi berkembang melalui perkawinan antara keluarga raja sultan pasai dengan keluarga raja malaka. Hal tersebut besar pengaruhnya terhadap Islamisasi di Asia Tenggara karena raja diteladani oleh rakyatnya , sehingga terjadi islamisasi besar-besaran dimalaka maupun di wilayah Asia tenggara lainnya.

Perkembangan Islam di Negara-negara Asia Tenggara :

1. Islam di Brunai

Brunai berpenduduk sekitar 250 ribu jiwa dengan kaum muslim sebagai mayoritas. Sebagai agama resmi, islam menjadi agama Negara dan menjadi agama Negara. Dominasi keluarga kerajaan di bidang pemerintahan dan tidak adanya demokrasi politik memungkinkan pemerintah memberlakukan kebijaksanaan di bidang agama dan kebijaksanaan lainnya tampa banyak kesulitan.

2. Islam di Malaysia

Islam merupakan agama resmi Negara federasi Malaysia, meskipun penganut agama islam di Negara tersebut tidak lebih dari 55%. Walaupun tidak semuia orang muslim adalah melayu, namun secara konstitusional orang melayu musti muslim. Dalam bidang pemerintahan, kepentingan islam diwakili oleh UMNO (United Malay National Organization) dan Partai islam (PAS). UMNO sebagai parta pemerintah sedang PAS sebagai oposisi dan menggunakan islam sebagai ideology utama. Komunitas Cina (MCA), India (MIC) bersama UMNO tergabung dalam barisan (front) Nasional.

3. Islam di Singapura Republik singapura denga penduduk sekitar 4 juta jiwa bersifat multirasial, multilingual, dan juga multui agama. Mayoritas adala penduduk cina (77%), melayu (15%), sementara India hanya 6% dan lainnya 2%. Seluruh penduduk muslim ada sekitar 16%. Pengaruh islam di singapura lemah karena jumlahnya sedikit, ekonomi lemah dan pendidikan terblakang. Partai politk islam seperti Partai Kebangsaan Melayu belum mendapat perwakilan di parlemen.

4. Islam di Piliphina Jumlah orang islam di piliphina adala 9% dari seluruh pendudk yang berjumlah sekitar 50 jiwa. Masyarakat muslim itu terdiri dari berbagai kelompok etnolinguistik seperti Maranao, Maguindanao, Tausug, Samal, Yakan, Iranun, Jamamapun Badjo, Kalibugan, Kalagan, dan Sangil. Secara bersama-sama orang muslim di Piliphina disebut Moro (berkulit hitam)

5. Islam di Indonesia Meskipun penduduk Indonesia sekitar 90% beragama islam, namun Indonesia bukanlah Negara agama namun Negara yang berdasarkan Pancasila sebagai Ideologi nasionalnya. Selain islam, agama-agama konfucius, Katholik, Protestan, Hindu, dan Budha merupakan agama yang di akui Negara. Secara umum di jawa kaum muslim dapat diklasifikasikan kedalam abangan, yaitu kaum muslim nominal dan santri, yaitu mereka yang taat pada ajaran islam. Dalam bidang politik islam hanya digunakan secara efektif untuk mendukang partai politik seperti PAN, PKB, PBB, PKS, namun disaat yang sama politisi islam mengarah kepada perpecahan antara partai islam dan organisasi politik yang lain. Bangsa barat di Asia Tenggara. Selama berabad-abad, orang-orang keisten di eropa telah berjuang untuk mempertahankan diri dari serangan tentara islam. Spanyol dan portugis berhasil menaklukan tentara islam yang menguasai jazirah Liberia menjelang tahun 1250. Namun baru tahun 1492 tentara islam benar-benar mundur dari eropa setelah benteng terakhir yaitu Granada jatuh ke tangan bnagsa eropa. Akibat jatuhnya romawi timur 1453, hubungan dagang eropa dan asia lewat timur tengah terputus. Karena itu bangsa eropa semakin terdorong dan berlomba-lomba mencari jalan menuju asia tenggara. • Bangsa Portugis • Bangsa Spanyol • Bangsa Belanda • Bangsa Inggeris • Bangsa Prancis Pola umum imperialism di Asia Tenggara. Imperialism adalah usaha atau tundukan suatu bangsa atau Negara mengembangkan kekuasaan dalam bentuk pendudukan langsung terhadap wilayah kekuasaan bangsa atau Negara lain dengan jalan membentuk pemerintahan-pemerintahan jajahan atau dengan menanamkan pengaruh dib dang politik maupun ekonomi. Pada masa kolonialisme dan imperialisme, hamper semua Negara di Asia Tenggara kecuali Muangthai jatuh ketangan penjajahan barat Pola umun kolonialisme di Asia Tenggara. Sejarah kolonialisme di asia tenggara di bagi menjadi dua periode yaitu abad ke-16 sampai abad ke-18, serta periode abad ke-19 dan ke-20. Periode abad ke 16-18, yang dimulai jatuhnya malaka ke tangan portugis tahun 1511 dan berakhir sekiktar jatuhnya VOC di Indonesia dan bersifat merkantilisme. Pada abad ke-19 ada tiga kekuasaan bangsa eropa yang berlomba untuk memperoleh tanah jajahan di asia tenggara yaitu bangsa Inggeris , Belanda, Prancis. Diantara ketiga bangsa itu bangsa Inggerislah yang paling kuat. Berkaitan dengan hal tersebut, maka akhir abad ke-19, Asia Tenggara terbagi dalam wilayah kekuasaan eropa. Bangsa Inggris menguasai Semenanjung mayala dan sekitarnya, bangsa Belanda menguasai kepulauan Indonesia, Spanyol menguasai kepulauan Plilpina, dan portugis dibiarkan menguasai Timor Timur. Pemerintah Kolonial di Asia Tenggara : 1. Pemerintah Kolonial Inggris di Myanmar 2. Sistem Kolonial Inggris di Malaka 3. Sistem Kolonial Amerika di Filipina 4. Sistem Kolonial Prancis di Indonesia 5. Politik kolonial Belanda di Indosesia Ekonomi Kolonial di Asia Tenggara. Selama abad ke-19 pertumbuhan ekonomi yang begitu cepat di Negara-negara Eropa, Amerika Utara dan Australia berjalan seiring dengan perdagangan dunia. Kawasan Asia Tenggara telah terlibat dalam perdagangan maritime selama berabad-abad sebelum kedatangan orang-orang eropa. Pada abad ke-17 dan ke-18, perdagangan antar wilayah daerah makin berada dibawah penguasaan bangsa eropa (terutama belanda) dan diatur menurut kepentingan mereka. Jika dilihat secara seksama perkembangan ekonomi di Malaysia, Muangthai, maupun di Indonesia pada masa colonial dan juga wilayah asia tenggara lainnya, tampaklah perekonomian di wilayah tersebut memiliki kekhususan. Ciri khas ekonomi colonial di Asai Tenggara adalah ekonomi yang melayani pasar internasional, serta produksi dalam negeri, baik swasta asing maupun pribumi, diarahkan ke eksport. Reaksi terhadap kekuasaan barat. Bangsa-bangsa di asia tenggara dibentuk dan di tempa oleh pergerakan bangsa-bangsa dari Asia Tengah ke Asia Tenggara yang berkembang menjadi bangsa-bangsa pokok, pengaruh Cina dan India, pengaruh islam dan bangsa barat. Pergerakan ini berlangsung secara bergelombang secara turun temurun dalam kurun waktu yang lama dan akhirnya membentuk bangsa-bangsa pokok yang sekarang ,emjadi bangsa-bangsa di Asia Tenggara dengan suku-suku minoritas. Setelah terbentuk bangsa-bangsa maka masuklah pengaruh asing ke Asia Tenggara silih berganti. Reaksi Asia Tenggara yang paling keras terjadi sewaktu Asia Tenggara kedatangan bangsa barat, sebab selain melakukan perdagangan, bangsa barat itu kemudian menguasai wilwywh-wilayah Asia Tenggara. Reaksi pertama ialah oleh para penguyasa-penguasa (kerajaan-kerajaan) yang lebih dulu tumbuh di wilayah Asia Tenggara. Sedangkan reaksi berikutnya dilakukan oleh masyarakat pedesaan dengan melakukan gerakan social yang bermuara pada timbulnya gerakan nasional. Adapun reaksi-reaksi yang muncul adalah : 1. Reaksi Kesultanan Malaka 2. Reaksi Kerajaan Ayuthia 3. Reaksi Kerajaan Vietnam 4. Reaksi Kerajaan Birma Gerakan social di Asia Tenggara abad XIX. Perlawanan bersenjata sudah dimulai sejak abad XVI, sedangkan gerakan social di Asia Tenggara baru berlangsung pada abad XIX. Pada umumnya orang beranggapan bahwa gerakan social di Asia Tenggara khususnya yang terjadi di pedesaan pada zaman colonial itu tidak dapat di kategorikan sebagai gerakan politik yang bersifat keagamaan. Menurut pandangan ini, gerakan social yang terjadi pada abad XIX tersebut dilakukan oleh petani, hanya bersifat lokal, tidak berlangsung lama sehingga tidak mempunya kaitan dengan gerakan politik. Berdasarkan penilitian tersebut, gerakan social dinilai sebagai gerakan politik. Kehidupan di pedesaan Asia Tenggara sebelum abad ke-19. Sewaktu dunia barat telah memasuki masa Revolusi Industri pada pertengahan abad ke-18, dunia pedesaan Asia Tenggara belum mengenal kemajuan. Pada musim kemarau jalan-jalan penuh debu, dan musim hujan bukan main beceknya. Sawah-sawah masih terbentang luas dan dusun-dusun masih terpencar jauh. Meskipun terpencar jauh, namun ada dusun yang penduduknya sangat padat. Daerah itu biasanya tanahnya subur. Alam Asia Tenggara sangat kaya, perbedaan musim tidak begitu besar. Hubungan lalu lintas satu daerah denga daerah lain pada abad ke-18 itu belum baik, bahkan banyka yang beluim ada, sehingga tidak mengherankan bila tingkat kemajuan sadu daerah dengan daerah lain berlainan. Mata pencaharian penduduk Asai Tenggara adalah bertani. Pertanian di daerah yang subur yang ditujukan untuk perluasan isi keluarga itu snediri, ternyata tidak bnayak menyita waktu. Kelebihan waktu digubakan untuk mempererat hubungan antar keluarga-keluarga lain selingkungan. System kekeluargaan di pedesaan Asia Tenggara pada umumnya menganut prinsip bilateral, yaitu suatu prinsip yang menentukan siapa yang termasuk kerabat seseorang, melalui hubungan dari pihak ayah maupun ibu. Pada abad ke-18 itu orang masih terpengaruh jalan pikiran feudal aristocrat yang menbagi masyarakat menjadi lapisan rakyat kecil dan lapisan bangsawan. Perubahan Sosial di pedesaan. Pada awal abad ke-19 masyarakat pedesaan Asia Tenggara masih bersifat tradisional agraris yang belum banyak mengalami perubahan dan masih kentara sekali homogenitasnya. Namun perubahan segera terjadi setelah daerah kekuasaan bangsa barat semakin meluas. Karena keadaan tersebut, tentu saja homogenitasnya terpecah. Factor yang berpengaruh besar terhadap timbulnya gerakan social di pedesaan adalah system politik yang berlaku. System politik yang menimbulkan reaksi dari masyarakat pedesaan itu terutama kekuatan-kekuatan dari bangsa barat. Kekuatan barat itu mencoba untuk mencampuri kehidupan system social yang sudah stabil. Tindakan penguasa barat itu telah menimbulkan reaksi keran dari masyarakat. Dalam perkembangan berikutnya, reaksi itu telah berkembang menjadi sebuah gerakan social yang menggoncangkan. Gerakan social di pedesaan. Dengan adanya perubahan pelaksanaan politik yang dilakukan oleh penjajah terhadap kawasan pedesaan, maka geakan social petani pedesaan di kawasan Asai Tenggara, khususnya Indonesia pada abad ke-19 sudah mulai memperlihatkan bentuk gerakan yang jelas. Masyarakat pedesaan yang senantiasa berorientasi pada pola pemerintahan yang tradisional dimana pusat kekuasaan itu berada ditangan penguasa yang ditetapkan menurut nilai tradisional pula, dengan adanya perubahan kekuasaan politik yang dilakukan bangsa barat itu, mengalami kegoncangan. Timbulnya kegoncangan dalam kehidupan masyarakat petani di pedesaan, adalah sebagai akibat terjadinya pertemuan dua system social yang berbeda. Adapun perbedaan itu adalah bahwa penguasa barat berusaha memperkenalkan suatu system social dan politik yang ama sekali asing dalam pemikiran para petani di pedesaan. Sedang dipihak lain, system social dan politik tradisional lebih berakar dalam kehidupan para petani dan mereka berusha mempertahankan kondisi itu. Ada anggapan bahwa gerakan social di pedesaan di Asia Tenggara yang mewujudkan suatu pemberontakan itu berasal dari kelompok elite, yang dikenal dengan elite pedesaan. Akan tetapi anggapan itu mengelirukan, karena sesungguhnya yang muncul sebagai pemimpin dari pemberontakan itu adalah berasal dari petani itu sendiri.. pemberontakan yang dilakukan oleh tuan tanah ini tidaklah bertahan lama, adakalanya hanya beberapa hari saja kemudian padam karena factor biaya yang menunjang pemberontakan itu habis. Gejala yang tampak dalam pemberintakan petani di Asia Tenggara banyak ditentukan oleh rasa penderitaan dan adanya keinginan bersama untuk memperbaiki kehidupan dari suatu penderitaan, karena mengalami pendeitaan bersama akibat pengalaman sejarah yang sama. Ada berbagai macam pemberontakan yang terjadi di Asia Tenggara : 1. Pemberontakan petani di Myanmar 2. Pemberontakan petani di Filipina 3. Pemberontakan petani di Vietnam 4. Pemebrontakan petani di Malaysia 5. Pemberontakan petani di Indonesia Menuju ke Nasionalisme di Asia Tenggara. Gerakan social di pedesaan dianggap sebagai bukan merupakan suatu gerakan yang mengandung Nasionalisme. Mereka beranggapan bahwa gerakan social yang muncul di pdesaan itu tidak memiliki ,konsep politik yang jelas untuk tujuan nasional. Gerakan social yang di motori oleh para kyai atau kelompok agama itu, adalah gerakan yang bersifat lokal, kontemporer dan tidak sistematis dalam menyusun perlawanan. Lagi pula, gerakan social tersebut lebih bersifat keagamaan. Gerakan social tersebut ternyata gerakan nasional yang konvensional (tradisional), sebab gerakan yang terpusat di pedesaan tersebut akhirnya merembet kekota.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s