SeLuk BeLuk Suku Dayak Tunjung

  • Sejarah Singkat Mengenai asal usul

Seperti kebanyakan suku-suku Dayak pada umumnya, Suku Dayak Tujung pada awalnya adalah suku yang belum mengenal tulisan sehiingga tidak diketemukannya sejarah mengenai asal-usul berupa tulisan dari suku Dayak Tunjung Ini. Kita hanya bisa mengetahuinya dari cerita-cerita rakyat dari orang tua yang diwariskan secara turun temurun. Konon menurut cerita Suku Dayak Tunjung berasal dari Dewa-dewa yang menjelma kedunia sebagai manusia untuk memperbaiki dunia yang rusak.

  • Asal usul nama

Nama Suku Dayak Tunjung ini menurut mereka (Menurut Buku: Upacara Adat Kematian Suku Dayak Kalimantan Timur) adalah Tonyooi Risitn Tunjung Bangkaas MaLikng Panguruu ulak alas yang berarti Suku Tunjung adalah pahlawan yang berufngsi sebagai dewa pelingdung.

Zaman sekarang Suku Tonyooi kini Lebih dikenal dengan sebutan Suku Dayak Tunjung. Adapun arti kata Tunjung dalam bahasa Dayak Tonyooi adalah Mudik/menuju arah hulu sungai yang kata sebenarnya adalah “Tuncukng”. Ceritanya Demikian:

pada suatu hari Seorang Tonyooi Mudik dan bertemu dengan orang Haloq (Sebutan Suku Dayak kepada seseorang yang bukan dayak dan beragama Muslim) kemudian Haloq tersebut bertanya pada Tonyooi ingin pergi kemna, kemudian si Tonyooi Menjawab “Tuncuuk’ng”, maksudnya mudik. Orang Haloq lalu terbiasa melihat orang yang seperti ditanyainya tadi disebut “Tunjung” dan hingga sekarang namanya tersebut masih dipergunakan.

  • System mata pencaharian

Mulanya suku Dayak Tunjung hidupnya sebagai petani padang yang berpindah-pindah. Disamping berladang mereka juga mencari hasil hutan seperti dammar, rotan,sarang burung, menangkap ikan, berburu, membuat anyaman dan kerajinan-kerajinan lainnya. Namun pada zaman sekarang mereka sudah banyak yang berprofesi sebagai Pegawai Neger/Swasta maupun pedagang dan pejabat pemerintah.

  • Tradisi Tonao

Seperti masyarakat Dayak umumnya, Suku Dayak Tunjung juga terkenal dengan semangat Gotong-Royong yang disebut TONAO. Semangat ini terlihat pada waktu membuka hutan, panen raya, membangun rumah/Lamin dan Lain sebagainya.

Pekerjaan membuat ladang berdasarkan keadaan musim. Biasanya bulan maret mereka mulai merintis hutan, april-mei menebang pohon (Noang Kajuuq) dan dijemur 1-2 bulan, pada bulan juli dibakar (“ngehongkakng” kaLo gak saLah dalam bahasa Dayak Tunjung). Agustus –September masan “Menugal” (menanam padi). Menanam padi dilakukan hanya 1 kali dalam 1 tahun.

  • System kekerabatan

Prinsif keturunan kelompok Suku Dayak Tunjung berdasarkan prinsif Bilateral yang menghitung hubungan kekerabatan melalui pihak pria maupun wanita. Setiap individu dalam masyarakat Dayak Tunjung termasuk dalam hubungan kekerabatan ayah dan ibunya, anak-anak mempunyai hak dan kewajiban yang sama terhadap keluarga pihak ayah maupun keluarga pihak ibunya. Prinsif keturunan Bilateral dalam Dayak Tunjung  mempunyai prinsif tambahan yaitu prinsif keturunan ambilineal yang menghitung keturunan kekerabatan untuk sebagian orang dalam masyarakat melalui orang laki-lakin dan sebagian lain dalam masyarakat itu juga melalui orang wanita.

Prinsif keturunan ambilineal ini akan terwujud dalam system penggolongan harta  milik keluarga, yang dalam bahasa Dayak Tunjung disebut Barang lama atau babatn retaaq.

Jenis-Jenis Harta dalam Keluarga:

Barang Waris : Barang Waris adalah harta yang diperoleh dari harta yang diterima  dari orang tua sebagai harta warisan. Harta ini menjadi milik pribadi seorang suami atau istri

Barang Mento / Retaq Mento : jenis ini adalah harta yang  diperoleh oleh suami atau isteri sebelum dia menikah

Barang Rampuuq / Retaaq Rempuuq: harta jenis ini adalah harta yang diperoleh atas hasi usaha bersama suami isteri, misalnya hasil ladang atau kebun.

Penggolongan harta milik tersebut menjadi pedoman bagi seorang Hakim adat di desa dalam menyelesaikan perselisihan yang berhubungan dengan harta bila terjadi perceraian.

  • Purus

Kolompok kekerabatan Suku Dayak Tunjung terikat oleh hubungan kekerabatan yang disebut dengan Purus. Purus ditentukan berdasarkan hubungan darah (Consanguity) dan hubungan yang timbul melalui perkawinan (affinity). Kesadaran akan purus ini pada masa yang silam sangat besar, hal ini terbukti dengan timbulnya pengelompokan yang disebut:

Purus Hajiiq (Darah Bangsawan)

Purus Merentikaaq (Orang Biasa/orang merdeka)

Purus Ripatn (Darah Hamba sahaya)

Dari hubungan kekerabatan ini orang dapat mengetahui jarak hubungan individu dengan kelompok atau dalam satu desa dan sifat dari hubungan ini. Jadi hubungan kekerabatan (purus) mempengaruhi pola interaksi individu dalam menyapa, menyebut terhadap orang yang lebih tua, lebih muda atau sederajat.

  • Sistem Perkawinan

Perkawinan dalam masyarakt dayak tunjung ditentukan oleh purus. Secara umum perkawinan yang diperbolehkan adalah perkawinan antara orang-orang  seangkatan yaitu saudara sepupu sederajat pertama, saudara sepupu sederajar ketiga dan seterusnya.

  • Batak

Kelompok hubungan kekerabatan yang diperhitungkan melalui purus disebut BATAK. Individu-individu yang masih memiliki hubungan kekerabatan dalam suatu kelompok disebut SEBATAK(Satu Kelompok). Dalam kelompok seorang individu dapat membedakan dengan jelas orang-orang yang tergolong dalam kelompoknya (Batak Tai) dan orang yang bukan termasuk dalam kelompoknya (Batak ULutn) dan dalam kegiatan tolong menolong pada umumnya orang-orang sebatak lah yang lebih banyak datang membantu.

  • Luuq (Rumah Panjang/Lamin)

Perkembangan desa pada masa sekarang merupakan perkembangan dari sebuah Rumah Panjang (Luuq) dan masih mengikat penduduk menjadi satu komunitas desa. Kesatuan wilayah yaitu desa (dulu rumah panjang) beserta perlengkapannya disebut BANUA.

  • Banua

Ikatan wilayah komunitas orang Tunjung disebut dengan Banua. Pada masa lalu tokoh Banua adalah perintis yang mendirikan Rumah Panjang (Luuq). Kemudia diam mempunyai pengikut dan diangkat menjadi kepala Banua yang bergelar Merhajaaq / Marhajaq dan semua golongan sanak saudaranya disebut denga Hajiiq yang berarti golongan Bangsawan dan mempunyai hak turun temurun.

  • Sistem politik/pemerintah desa Adat
  • Sistem pelapisan social
  • Roh-Roh pelindung dan Roh Jahat
  • Sistem religi

(Untuk keempat topic diatas akan menyusul, Capeek Cuuy).

7 thoughts on “SeLuk BeLuk Suku Dayak Tunjung

  1. baq hai penjelasan mengenai simbol-simbol perkawinan adat awak tonyooi man baq ngepost dong guna membantu bahan penulisan skripsi akuii, susah lebi elau info, harus muliq alih ja kubar maka encoq…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s