Kerajaan Sentawar…

Taukah anda bahwa pada jaman dahulu suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan yang bernama “Kerajaan Sentawar” yang berpusat di daerah sekitar kecamatan melak yang sekarang bernama Sendawar. Situs Sentawar merupakan peninggalan bersejarah bagi Kerajaan Sentawar yang secara mitologi itu merupakan cikal bakal lahirnya suku-suku dayak di kabupaten kutai barat. Menurut Legenda Kerajaan Sentawar dengan Raja Tulur Aji Jangkat bersama permaisuri Mok Manor Bulatn dan mereka memupnyai 5 orang anak : Sualas Gunaaqn (Mjd Keturunan Tunjung), Jelivan Benaaq (Mjd Keturunan Bahau), Nara Gunaa (Mjd Keturunan Benuaq), Tantan Cunaaq (Mjd Keturunan Kenyah) dan Puncan Karnaaq (mjd Keturunan Kutai)
Raja Pertama adalah Tulur Aji JAngkat dan kemudian digantikan oleh puteranya yang pertama Sualas Gunaaq. Sualas Gunaaq yang merupakan cikal bakal lahirnya suku dayak tunjung menjadi Raja Ke 2 di Kerajaan Sentawar.
Kedua Putera Raja yaitu Puncan Karna dan Jelivan Benaaq pergi merantau dan menaiki perahu melewati sungai mahakam. Puncan Karna menuju arah hilir sungai mahakam dan sampai didaerah sekarang tenggarong kemudian menikah dengan adik kandung Sultan di Tangga Arung (sekarang Tenggarong). Sedangkan Jelivan Benaaq bergerak kearah hulu sungai mahakam dan sampai didaerah yang bernama Tering dan kemudian menguasai daerah tersebut. Dan kemudian mereka beranak cucu didaerah mereka masing-masing.

Gimana Pendapat mu???



Iklan

Sejarah, Makna Serta Tujuan Ritual Dange bagi Suku Dayak Kayaan

Oleh D. Uyub dan A.Alexander Mering

Latar Belakang
Suku Dayak Kayaan satu dari 151 subsuku Dayak di Kalimantan Barat (Buku Mozaik Dayak, Keberagaman Suku dan Bahasa Dayak di Kalbar, terbitan Institut Dayakologi, 2008) yang mendiami Sungai Mendalam Kecamatan Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu-Kalimantan Barat adalah masyarakat yang kehidupan mereka relatif kental dengan adat istiadat. Dewasa ini, suku Dayak Kayaan sudah semakin banyak menetap di berbagai kabupaten/kota di Kalbar. Suku Dayak Kayaan yang mendiami Sungai Mendalam ini terdiri dari tiga subsku kecil, yakni Kayaan Umaa’ Pagung, Umaa’ Suling dan Umaa’ Aging. Mereka semua adalah suku bangsa Kayaan.

Sejak ratusan tahun silam suku ini meninggalkan Apo Kayaan di Kabupaten Bulungan Kalimantan Timur (daerah asal suku Dayak Kayaanik), mereka selalu memegang teguh budaya dari leluhurnya. Salah satunya adalah upacara syukuran atas berkah dan rahmat dari Tipang Tenangaan (Tuhan Allah), dalam bentuk upacara adat yang dinamai Dange. Dange memiliki makna yang sama dengan gawai Dayak. Dange adalah upacara adat yang selain untuk mengucap syukur pada Tuhan atas hasil perladangan, juga untuk mengumpulkan saudara-saudara mereka yang masing-masing sibuk dengan pekerjaan sendiri selama satu siklus perladangan untuk saling meneguhkan, memaafkan dan saling memgbai pengalaman hidup.

Dalam syair sastra dayung dange (syair doa yang dilagukan dalam dange) Dayak Kayaan, adanya tradisi upacara adat yang sarat dengan makna ritual dan riligius bahwa dange diciptakan oleh kuu’ Kuleh (kake Kuleh) Menurut syair dalam dayung dange, ku’ kuleh ini adalah orang Kayaan Umaa’ Aging. Tapi dange ini juga berlaku pada Kayaan Umaa’ Suling.

Kuu’ Kuleh ini punya anak dan cucu yang masing-masing hidup sendiri ditempat lain. Mereka ini ada yang berada di lung danum (harafiahnya adalah kuala sungai), aur danum (harafiahnya adalah hulu sungai), lung hilo, lung leno. Tempat-tampat yang dimaksud adalah tempat dimana Lawe’ (Lawe’ adalah orang yang memiliki kekuatan supranatural dan tersohor dalam cerita suku Dayak Kayaan) dan Kerigit (Kerigit adalah istri Lawe’). Daerah ini sekarang berada di daerah Apo’ Kayaan.

Semua anak dan cucu Kuu’ Kuleh dikumpulkan. Tetapi dia bingung bagaimana mereka bisa naik rumah dan semangat anak dan cucunya bisa kuat. Maka Kuu’ Kuleh mengadakan mela (daun juang dan besi yang disebut ukul, dikikat menjadi satu, kemudian dikibas-kibas pada tangan sementara lantai ada malaat kayo/mandau dan bato kajaa’ ; batu khusus yang disiapkan untuk diinjak oleh orang yang dimela). Setelah proses ini selesai, baru anak dan cucunya boleh masuk dalam rumahnya. Setalah proses mela selesai, barulah Kuu’ Kuleh mengadakan dange.

Sementara munculnya dange pada Kayaan Umaa’ Pagung menurut cerita rakyat, setelah ada seorang bayi laki-laki ditemukan dalam paak nagnga’ (pelepah tanaman sebangsa pohon palem), ketika suku ini pergi malo’ (pergi mengerjakan sagu; baca sagu). Penemuan anak itu secara kebetulan, namun ketika ditemukan dia menangis, bahkan hingga sampai ke rumah. Sesampai dirumah, bayi itu diberi nama Kilah, setelah beberapa nama lain diberikan padanya namun tidak cocok. Karenanya maka Kuu’ Kialah digelar dengan panggilan Kuu’ Kilah Paloo’. Ketika dia sudah dewasa, Ku’ Kilah Palo mendirikan dange Uma Pagung. Kuu’ Kilah inilah yang menciptakan dange dalam subsuku Kayaan Umaa’ Pagung. Tujuan dange yang diciptakan oleh Kuu’ Kilah ini sama hakekatnya dengan dange yang diciptakan oleh Kuu’ Kuleh.

Dange adalah upacara adat yang tertinggi dan sakral dalam deretan upacara lalii’ (peraturan dan larangan dalam simbol adat berdasarkan keyakinan; Mikhail Coomans, 1987) pada sistim perladangan suku Kayaan. Karenanya upacara sakral ini mesti dilakukan setiap tahun. Dange yang dilakukan setelah panen padi yang jatuh sekitar bulan April-Mei setiap tahun ini, bermakna positif bagi masyarakat Kayaan. Yakni selain digunakan sebagai moment untuk bersyukur atas hasil perladangan, juga untuk meminta hasil perladangan yang berlimpah untuk tahun berikutnya, melalui Savit Puyaang Lahe alang hipun kenap sayuu’ nite (Tuhan pencipta langit dan bumi yang memiliki sifat murah hati) agar memberikan rejeki pada umatnya.

Dalam upacara dange, selain mengadakan tarian pejuu’ lassah, yang merupakan simbol dan media bagi masyarakat Kayaan untuk menyampaikan doanya dan permohonan pada Tuhan, juga mengadakan ritual neguk (neguk; asal kata dari mengetuk. Ritual ini bertujuan untuk meminta pada tanah, hujan, kemarau, binatang dalam tanah seperti cacing dan sebagainya), agar kegiatan dange yang berlangsung bisa sukses, sekaligus diberikan kemudahan dan rejeki dalam perladangan pada tahun berikutnya.

Keterlibatan semua orang ketika upacara dange berlangsung, merupakan bagian dari persembahan rohani yang tak ternilai pada Tipang. Karena bagi-Nya, dalam keyakinan Dayak Kayaan, kehadiran setiap orang merupakan sebuah kehormatan terbesar, karena manusia mau mengadakan upacara yang harus mengorbankan kurban persembahan baik berupa babi, ayam dan kepala manusia (jika dulu; Kayaan Umaa’ Pagung harus mengurbankan kepala manusia) dan semua hasil perladangan dalam ritual dange.

Tujuan Dange yang Diselenggarakan di Pontianak

Secara umum, dange bertujuan selain untuk mengucap syukur pada Tuhan, juga dalam kerangka mengumpulkan keluarga besar Kayaan di Pontianak yang selama ini belum pernah berkumpul dalam suasana yang disatukan oleh upacara adat yang diciptakan oleh leluhur mereka.

Kali ini komunitas suku Dayak Kayaan yang ada di Kota Pontianak yang tergabung dalam Hulaan Apo Kayaan Pontianak, menyelenggarakan dange dengan tujuan selain tersebut diatas, juga mau mempromosikan budaya suku Dayak Kayaan pada khalayak ramai. Sekaligus mendukung upaya promosi dari pemerintah Kalimantan Barat untuk mempromosikan budaya yang ada di Kalimantan Barat. Setitidaknya, dari kegiatan dange tersebut, masyarakat mau benar-benar menggali budaya asli dan memperkenalkannya pada komunitas lain.

Dange ini pula mau mengingatkan seluruh lapisan masyarakat bahwa masih pentingkah budaya pertahankan dan dihidupkan? Dewasa ini tantangan besar bagi setiap komunitas di Kalbar adalah adanya tekanan budaya modrenisasi terhadap kebudayaan asli suku Dayak. Sadar dan tidak, bahwa hilangnya suatu tradisi dalam komunitas, akan berdampak buruk pada komunitas itu sendiri.

Diantaranya akan terjadi degradasi budaya yang mungkin besar-besaran. Terlepas dari itu semua, dampak masuknya perusahaan sekaligus para karyawannya dari luar, menjadi tantangan berat bagi komunitas khususnya Dayak, terlebih bagi masyarakat Dayak Kayaan. Karena itu semua akan mengikis habis secara perlahan-lahan adat istiadat dan seni budaya Dayaak secara menyeluruh. Inilah yang menjadi catatan penting, kenapa dange ini mesti diadakan dan dibuka untuk umum. Mungkin kegiatan ini kedepannya akan terus berlangsung, dengan demikian semakin banyak kekayaan budaya yang bisa mendukung dunia kepariwisataan di Kalbar.

Prosesi Dange Kayaan di Pontianak

Untuk mendirikan lepo dange (pondok dange), berbagai hal yang harus disiapkan. Di antaranya seperti pergi mencari peralatan lepo dange. Kegiatan ini dilakukan sehari sebelum upacara ritual dilakukan yakni (Jumat 13 juni 2008),. Setelah bahan-bahan terkumpul, bahan tersebut langsung di bawa ke rumah panjang Dayak di Jalan Letjen Sutoyo-Pontianak.

Tempat dan Waktu Kegiatan

Tempat : Rumah Adat Dayak Jalan Letjen Sutoyo Pontianak
Tanggal : Sabtu, 14 sampai Minggu, 15 Juni 2008
Agenda lain terlampir.

Pondok didirikan hari berikutnya yakni Sabtu, tanggal 14 Juni 2008.
Acara pendirian lepo dange yang akan berlangsung mulai dari pukul 08.00 wib ini, diawali dengan ritual
1. Mawaang Alaan Jak Dange:
(membersaihkan jalan untuk mendirikan lepo dange) yang dipimpin oleh dayung aya’ (imam adat yang memiliki peran utama). Tujuan ini adalah untuk memberitahukan pada semua orang dan makhluk hidup di darat, sungai dan udara bahwa dange akan segera dimulai. Setelah dua rentetan ritual ini usai, barulah orang-orang mendirikan lepo dange.

2. Mawaang Alaan Uting. (membersihkan jalaan roh/jiwa uting; babi piaraan)
Doa ritual ini bertujuan memberitahukan pada semua orang, terkhusus pada leluhur Kayaan bahwa uting akan menjadi kurban pada acara dange. Dengan demikian, semua masyarakat akan memiliki semangat yang lebih kuat.

3. Misa Inkulturasi dan Malam Pevengo (menunggu hari pagi):
Yang menariknya lagi adalah budaya dange ini bisa masuk dalam ibadat misa di gereja katolik (Inkulturasi). Misa ini akan berlangsung mulai dari pukul 18.00-20.00 wib (malam minggu). Namun acara ini lebih pada internal suku keluarga besar Dayak Kayaan di Pontianak.

Terjadinya misa inkulturasi ini, berkat kejelian pastor AJ. Ding Ngo, SMM. Dikalangan umat Katolik di Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu, nama Pastor AJ. Ding Ngo SMM secara umum hampir tidak asing lagi. Putra Dayak Kayaan yang meninggal dunia Mei tahun 1995 silam ini, sekaligus pelopor imam pertama bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Barat. Selain pemimpin umat, di juga termasuk seorang sosiologi. Karyanya tentang budaya pada suku Dayak Kayaan seperti syair lawe dan catatannya tentang Kayaan di Sungai Mendalam hingga Kayaan di Apo Kayaan-Kaltim dan Serawak-Malaysia, kamus bahasa Dayak Kayaan dan banyak lagi lainnya yang menjadi referensi para peneliti dan akademisi dunia. Latarbelakangnya sebagai orang imam, menginspirasinya untuk menggabungkan budaya (dange) dalam ajaran Katolik. Dange yang dimiliki Dayak Kayaan, adalah satu-satunya budaya Dayak yang telah mampu melebur menjadi satu dalam gereja khusus Katolik. Ini berkat perhatiannya pada budaya Dayak, khususnya Dayak Kayaan.

Semua itu berangkat dari keperihatinannya dan kejeliannya setelah masuknya agama Katolik yang dibawa oleh para misionaris, dalam tatanah kehidupan masyarakat adat Kayaan, hingga terjadi degradasi budaya. Salah satu rangkaian upacara adat dange yang menarik bagi pastor ini adalah dayung kigaan (para anggota dayung menari berjalan mengelilingi lasah, dan dayung aya’ melantunkan nyanyian daonya), serta tarian pejuu’ lasah dan tarian lalang buko (nama seorang perempuan). Tarian pejuu’ lasah (pejuu’ lasah berarti mengangkat lasah) lasah adalah sejenis pagar. Enam batang kayu sebesar pergelangan tangan orang tua dan delapan potongan pendek yang melintang. Sementara tarian pejuu’ lasah adalah tarian yang disertai dengan doa/mantra yang disampaikan pada Tuhan, mengelilingi lasah. Sementara tarian lalang buko, adalah tarian yang yang wajib ditarian dalam dange untuk memperingati bahwa leluhur mereka jaman dulu mampu menghidupkan orang mati oleh lalang buko, menggunakan sape’ kayaan (sape’ bersenar dua).

Prosesi misa dange sendiri, selain menggunakan bahasa Kayaan baik lagu maupun rentetanan doa dalam perayaan misa dange, juga ada syair dayung, (syair dayung lebih pada jenis syair tradisi, bukan manusia) dalam menyampaikan kesukariaan dan permohonan pada tuhan sebagai persembahan. Yang tidak kalah pentingnya dalam rangkaian prosesi misa dange adalah masuknya tarian pejuu’ lasah (tarian sekaligus penyampaian hajat/doa pada tuhan ketika persembahan dalam liturgi melalui medianya yang disebut lasah). Peralatan lasah terdiri dari

Acara Ritual Dange, Minggu Tanggal 15 Juni 2008

Acara hari Minggu ini akan dimulai pukul 08.00 – selesai. Untaian prosesi ritual dange adalah sebagai berikut:

1. Ritual ngaping langat (harafiahnya; menipas awan, namun yang dimaksud adalah marabahaya): kegiatan di lepo dange
Tujuan ritual ini adalah untuk meminta pada Tuhan agar dia mau menyingkirkan segala marabahaya bagi manusaia sekaligus mau melindungi upacara dange. Kemudian diteruskan dengan penancapan tiang lepo dange.

2. Ritual Nevaraa’ Uting dan Dayung Taharii (memberi tahu babi dan syair doa pertama): Kegiatan di rumah
Tujuan ritual ini agar babi tidak memiliki atau menyimpan rasa sakit hati pada manusia karena dia akan dibunuh untuk dijadikan kurban sembelihan dalam lepo dange. Setelah ritual ini selesai, babi bersama rombongan dayung (sembilan orang ibu-ibu), turun dari rumah menuju lepo dange.

3. Ritual Nevak uting (nyembelih babi): kegiatan di lepo dange
setelah para dayung naik lepo dange, babi diletakan ditengah lepo dan mukanya menghadap matahari terbit. Kemudaian sidayung meletakan kalung manik tua di lehernya dan menghentak-hentakkan huing (kerincing) pada badan babi tersebut sambil menyampaikan mantra. Mengatakan bahwa bersama ini pergilah kamu roh sang babi. Ketika darah babi menguyur deras dari lehernya, karena disembelih, dayung aya’ menadah da’un havaang (daun sabang) pada darah babi tersebut. Setelah itu, babi bersama tim dayung yang lain naik ke rumah. Sementara dayung aya’ dan satu orang dayung uk (dayung kecil; bukan pemeran uatam), tetap tinggal dalam lepo dange. Ketika inilah dayung melakukan mela (mengibas-ibas daun sabang sambil mengucapkan mantra), agar orang yang di-pela (asal kata dari mela), mendapat rejeki, kesehatan, umur panjang dan hal-hal yang berguna bagi yang bersangkutan dalam meniti kehidupannya. Selain itu, mela ini juga bisa berlaku untuk memberikan nama kayaan bagi anak-anak. Karena itu maka dalam dange besar/utama, juga ada sebutan dange anaak (dange yang diistimewakan bagai anak, untuk mendapat nama dalam lepo dange). Setelah dayung selesai mela dalam pondok dange, dia bersama satu temannya naik ke rumah. Kemudain turun lagi ke pondok dange.

4. Ritual Neguk Ake Tanaa’ (mengetuk-ngetuk lantai dengan dua potong bambu kecil, meminta tanah): kegiatan di lepo dange
ritual ini bertujuan untuk memintah tanah yang baik untuk lahan pertanian pada tahun berikutnya. Serentetatan ritual ini adala;
a. Maya Tivi:
Adalah sebuah mantra yang diucapakan untuk mengalahkan musuh pada saat ngayau, atau dalam perkelahian lainnya.
b. Tepujo’ Ujaan:
Adalah sebuah mantra yang meminta pada para leluhur kayaan yang satria, agar mereka mau datang kembali untuk melindungi warganya.
Setelah ritual ini selesai, rombongan dayung naik lagi ke rumah.

5. Mela arung (mela nasi): kegiatan di rumah
Ini adalah mantra/doa untuk membagi rejeki pada semua orang, terutama anak kecil. Dihadapan si-dayung, ada daun pisang, setiap lapisan daun pisang itu diselipi sejemput nasi. Dayung memegang hikap (tanggok ikan) sambil sesekali dia mengoyang tanggok itu, emngisaratkan bahwa dia sedang menanggok jiwa/roh padi.

6. Puran Bataang Bulit (mengamburkan nasi dan daun pisang); kegiatan di rumah
Setelah dayung melantunkan mantranya, anak-anak berebut daun pisang dan saling memukul daun pisang itu diantara mereka. Ini menandakan bahwa mereka sedang merebut rejeki.

7. Ngaping Langat (sda): kegiatan di Lepo dange
Dayung aya’ masuk sendiri dalam lepo dange. Diatas pondok, dia memotong dua buah tali yang digunakan untuk mengikat atap pondok yang terbuat dari kain. Tujuannya agar segala doa dan permohonannya bisa pergi naik menghadap tuhan dengan leluasa. Setelah dayung aya’ memotong tali tersebut, dia menggoyang-goyang pondok dari atas. Kemudain turun kebawah pondok. Dayung kemudian memutar dari arah sebelah kanan ke kiri, sambil menancapkan tobak yang dipengangnya disetiap tiang pondok. Setelah dayung aya’ menyelesaikan tugas itu, baru kemudian diikuti oleh tim dayung yang lainnya. Sambil menari mengelilingi pondok dengan musik gong, mereka menggoyang-goyang lepo dange. Dengan demikian, diyakini segala sesuatu yang dilakukan dan diharapkan dalam setiap prosesi dange itu, bisa diterima oleh Tuhan.

8. Nyinah (menguatkan semangat atau jiwa; Sama maksud dengan nyaru’ semangat dalam pengertian Dayak Kanayatn): kegiatan tetap di rumah
Dayung mendoakan semua orang agar tidak sesat pada jalan yang salah dalam hidupnya, dan berkumpul kembali dalam rumah. Ini difokuskan bagi semua orang yang ikut dalam upacara dange tersebut.

9. Karaang lalang buko (tarian ritual Lalang Buko);
Tarian ini ditarikan di atas memaang (sejenis gong, napun ceper). Tarian ini menginterperetasikan bahwa Lalang Buko pernah menghidupakan orang mati (mitos dayak Kayaan dalam syair tekna Lawe’).

10. Karaang Pejuu’ Lasah:
Ini puncak dari segala ritualitas dalam dange yang diadakan dalam rumah, untuk menyampaikan segala harapan dan permohonan masyarakat Kayaan pada Tuhan.

11. Dayung ulii’ (para anggota dayung masuk dalam bilik); kegiatan tetap di rumah
Para anggota dayung dari ruaang tengah masuk ke dalam amin aya’ (bilik milik hipi). Hipi (bangsawan; pemegang kekuasaan tertinggi yang mengatur segala perikehidupan dan adat istiadat serta budaya dalam suku Dayak Kayaan)
Prosesi Acara Selesai

Sumber:
http://www.borneobloggercommunity.blogspot.com
http://www.ceritadayak.com/2011/11/sejarah-makna-serta-tujuan-ritual-dange.html

Etimologi Dan Asal Usul Tradisi Ngayau

Asal usul kata ngayau umumnya terdapat kesepakatan di kalangan suku Dayak. Namun, kapan ngayau dimulai dan bagaimanakah sejarahnya, agaknya masih simpang siur dan sering muncul dalam berbagai versi.

Hal itu disebabkan belum ada studi dan catatan sejarah mengenai asal mula ngayau secara detail dan kronologis. Hanya ada catatan mengenai kesepakatan bersama seluruh etnis Dayak Borneo untuk mengakhirinya. Ini terjadi pada pada 22 Mei – 24 Juli 1894, ketika diadakan Musyawarah Besar Tumbang Anoi di Desa Huron Anoi Kahayan Ulu Kalimantan Tengah.

Benar adanya bahwa sebelum perjanjian Tumbang Anoi disepakati, terjadi praktik headhunting bahkan di kalangan sesama Dayak. Praktik ngayau antarsesama Dayak ini sukar dibantah dan memang demikianlah adanya. Dayak Jangkang misalnya, dahulu kala bermusuhan dengan Dayak Ribunt. Padahal, keduanya tidak berjauhan tempat tinggal.

Apakah faktor yang menyebabkan pengayauan antarDayak ini terjadi?

Saling mengayau di antara sesama Dayak, sejatinya bukanlah semata-mata mencari kepala musuh sebagai tanda bukti kekuatan dan kebanggaan sebagaimana selama ini dipersepsikan banyak orang. Alasan ini terlampau sederhana! Lebih dari itu, dilatari juga oleh nafsu balas dendam dan sebagai cara mempertahankan diri: menyerang lebih dulu sebelum diserang. Ini mirip dengan pepatah Latin si vis pacem, para bellum (jika Anda menginginkan damai, siap sedialah untuk perang).

Masuknya agama Katolik di tengah-tengah etnis Dayak, terutama dengan datangnya misi Katolik ke pulau Borneo di pengujung abad 18, membawa pengaruh baik. Perlahan-lahan ajaran Katolik tentang balas dendam (mata ganti mata, gigi ganti gigi) merasuk dalam hidup orang Dayak.

Ajaran Kristen yang radikal untuk tidak balas dendam dengan hukum “mata ganti mata, tulang ganti tulang” segera merasuk etnis Dayak. Ajaran cinta kasih ini menyadarkan masyarakat Dayak untuk segera menghentikan tradisi mengayau ini. Musyawarah ini dihadiri para kepala adat se-Kalimantan yang berkumpul dan bersepakat untuk menghentikan pengayauan antarsesama Dayak. Namun, pertemuan yang berbuah kesepakatan Tumbang Anoi sendiri diprakarsai pemerintah Hindia Belanda.

Ngayau berasal dari kata kayau yang berarti “musuh”. J.U. Lontaan, op.cit. hal. 532. Selanjutnya, untuk mendukung pendapatnya, Lontaan mengutip Alfred Russel Wallage dalam The Malay Archhipelago, 1896: 68, “… headhunting is a custom originating in the petty wars of village with village and tribe with tribe….”

Terdapat berbagai versi etimologi ngayau. Sebagai contoh, Fridolin Ukur dalam buku Tantang Jawab Suku Daya menyebut bahwa ngayau mencari kepala musuh. Sedangkan bagi Dayak Lamandau dan Delang di Kalimantan Tengah, mengayau berasal dari kata “kayau” atau “kayo’; yang artinya mencari. Mengayau berarti men¬cari kepala musuh. Jadi, mengayau ialah suatu perbuatan dan tindak-budaya mencari kepala musuh.

Bai Dayak Jangkang, ngayau juga disebut ngayo. Berasal dari kata “yao” yang berarti: bayang-bayang, mengahantui, meniadakan, atau memburu kepala musuh sebagai prasyarat atau pesta gawai. Ada gawai khusus untuk merayakan kepala musuh dengan tarian perang, yakni gawai naja bak (pesta kepala).

Namun, serta merta perlu diberikan catatan pada apa yang disebutkan perbuatan dan tindak-budaya ini. Kedengarannya aneh di telinga untuk saat ini. Namun, jika menyelami keyakinan etnis Dayak lebih mendalam maka kita akan segera menjadi mafhum di balik tradisi mengayau ini.

Ngayau tidak terlepas dari keyakinan komunitas Dayak sebagai sebuah entitas. Hal ini dapat ditelusuri dari cerita lisan dan tradisi yang diturunkan dari mulut ke mulut. Menurut keyakinan yang dipegang teguh, orang Dayak yakin mereka adalah keturunan makhluk langit. Ketika turun ke dunia ini, menjadi makhluk yang paling mulia dan, karena itu, menjadi penguasa bumi.

Keyakinan ini, pada gilirannya, membawa konsekuensi orang Dayak lalu memandang rendah entis lain. Jika menganggu dan mengancam keberadaan dan kelangsungan hidup mereka, etnis lain dapat disingkirkan. Namun, harus ada alasan yang kuat untuk itu. Darah hewan, apalagi manusia, tabu untuk ditumpahkan. Jika sampai terjadi, mereka akan menuntut balas.

Prinsip bahwa mata ganti mata, gigi ganti gigi benar-benar diterapkan. Meski mengalami penyempurnaan dan penyesuaian, sisa-sisa praktik ini “mata ganti mata, gigi ganti gigi” ini masih diteruskan di Jangkang hingga hari ini.

Pasal-pasal hukum adat Kecamatan Jangkang masih terasa kental nuansa penuntutan atas pertumpahan darah ini. Terbukti dari diaturnya secara detail pasal-pasal yang menetapkan pengadilan atas perkara dari mulai yang terkecil kasus pertumpahan darah hingga mengakibatkan kematian, yang dalam bahasa Dayak Jangkang disebut dengan “Adat Pati Nyawa”.

Satuan untuk menghitung ganti atas pertumpahan darah unik, disebut dengan tael. Di masa lampau, menghilangkan nyawa manusia baik sengaja (misalnya tertembak waktu berburu) maupun secara sengaja maka si pelaku akan mengalami kesulitan membayarnya. Seisi keluarga dan sanak saudara akan turut terlibat membantu. Bahkan, bukan tidak mungkin sampai seumur hidup pelaku menunaikan kewajibannya membayar Adat Pati Nyawa.

Apakah Adat Pati Nyawa? Secara harfiah, pati berarti sari atau inti. Kata “pati” kerap muncul dalam bahasa Dayak dengan inisial dan pembagian Djo (lihat Ethnologue: Languages of the World, Fifteenth edition, Dallas, “Djongkang: A language of Indonesia” (Kalimantan) ISO 639-3: djo

Jadi, pati nyawa adalah pengganti nyawa yang hilang. Tentu saja, hukum pati nyawa ini tidak berlaku dalam ngayau. Dan hanya berlaku dalam keadaan normal saja, sebab pekik ngayau haruslah datang dari aump dan merupakan hasil dari permufakatan bersama.

Demikianlah, ngayau pun harus disertai alasan-alasan yang kuat dan masuk akal bagi komunitas Dayak dan harus melalui hasil mufakat bersama. Disebut komunitas, karena suatu kampung biasanya menempati sebuah batang atau rumah panjang. Sebelum melancarkan pengayauan, malam harinya diadakan musyawarah bersama yang dalam bahasa Dayak Jangkang disebut boraump. Semua peserta wajib memberikan pendapat dan penilaian. Keputusan diambil dengan berpangkal tolak pada suara dan pendapat mayoritas.

Patut diberi catatan tambahan bahwa ngayau di kalangan suku Dayak umumnya, dan Dayak Djongkang khususnya, bukan sekadar memanggal kepala musuh. Ada filosofi yang melatarinya. Banyak kandungan hikmah, meski sekilas tampak sadis, di balik itu semua.

Orang luar yang kurang memahami secara mendalam filosofi dan latar di balik tradisi ngayau, sehingga menarik simpulan entimema: orang Dayak biadab, sadis, pemburu kepala manusia, dan headhunting. Tentang labeling bahwa Dayak adalah pemburu kepala manusia ini, Wikimedia bahkan mencatatnya sebagai “budaya” yang semestinya harus serta merta diberikan catatan bahwa itu adalah gambaran Dayak masa lampau. Perjanjian Tumbang Anoi yang difasilitasi Pemerintah Kolonial Belanda menghapuskan budaya ngayau ini. Di beberapa subsuku memang masih berlangsung, namun di Kalbar tradisi mengayau sudah berakhir pada sekitar sejak tahun 1938.

Toh demikian, Wikipedia yang tidak tahu sejarahnya masih mencatat demikian, “Headhunting was an important part of Dayak culture, in particular to the Iban and Kenyah. There used to be a tradition of retaliation for old headhunts, which kept the practise alive. External interference by the reign of the Brooke Rajahs in Sarawak and the Dutch in Kalimantan Borneo curtailed and limited this tradition. Apart from massed raids, the practice of headhunting was limited to individual retaliation attacks or the result of chance encounters. Early Brooke Government reports describe Dayak Iban and Kenyah War parties with captured enemy heads. At various times, there have been massive coordinated raids in the interior, and throughout coastal Borneo, directed by the Raj during Brooke’s reign in Sarawak. This may have given rise to the term, Sea Dayak, although, throughout the 19th Century, Sarawak Government raids and independent expeditions appeared to have been carried out as far as Brunei, Mindanao, East coast Malaya, Jawa and Celebes. Tandem diplomatic relations between the Sarawak Government (Brooke Rajah) and Britain (East India Company and the Royal Navy) acted as a pivot and a deterrence to the former’s territorial ambitions, against the Dutch administration in the Kalimantan regions and client Sultanates.”

Tidak mengherankan, dalam literatur dan laporan-laporan tertulis pada zaman kolonial, Dayak dicap sebagai suku asli Borneo yang tidak berkeadaban. Meski para peneliti dan ahli antropologi tidak memasukkan Dayak sebagai suku terakhir di Nusantara yang mempraktikkan headhunting, toh stereotipe sebagai pengayau masih melekat kuat minimal hingga kerusuhan etnis terjadi di Sambas pada 19 Januari 1999 di Desa Parit Setia, Kecamatan Jawai, Sambas dan kemudian merambat ke Sampit pada 18 Februari 2001.

Banyak orang melihat pertalian kejadian itu, meski sebenarnya berbeda dalam hal casus belli dan eskalasi. Akan tetapi, satu yang sama: solidaritas di kalangan etnis Dayak tumbuh menghadapi bahaya dari luar. Dalam konteks mempertahankan diri dan melakukan tindakan menyerang lebih dulu sebelum diserang ini, dapat dipahami latar dan filosofi ngayau.

Sumber:
http://masri-sareb.blogspot.com/2009/09/bab-2-buku-dayak-jangkang-from.html?zx=a5f9df47d88b857d
http://www.ceritadayak.com/2010/05/etimologi-dan-asal-usul-ngayau.html




Legenda Apo Kayan

Ditulis oleh Thomas Djuma


Jika kita berbicara soal orang-orang Dayak, maka suku yang paling pantas disebut pertama adalah suku Dayak Kenyah yang populasinya lebih besar ketimbang suku-suku dayak lainnya di seluruh Pulau Kalimantan. Termasuk Serawak dan Sabah Malaysia dan Brunai Darussalam. DARI kebesaran suku ini selain sangat populer dengan seni dan adatnya, mereka termasuk suku yang paling dihormati. Tetapi sebutan Dayak Kenyah ini bukanlah berdiri sendiri melainkan mereka memiliki anak suku yang cukup banyak. Untuk itu keberadaan mereka tak terlepas dari apa yang disebut sebagai Legenda Apokayan. Wilayah Apokayan termasuk ke dalam daerah Bulungan yang merupakan basis dari suku dan anak suku (Uma) Dayak Kenyah terletak di ujung barat Kabupaten Bulungan, berbatasan langsung dengan Serawak Malaysia Timur.

Dari Apokayan inilah orang orang Kenyah berkembang pesat, baik secara budaya maupun adat sebelum akhirnya mereka berpencar ke berbagai wilayah di Kalimantan, seperti Kutai, Berau, Paser, kemudian memasuki pula Kalimantan Barat serta Serawak dan Sabah. Wilayah yang disebut Apokayan saat ini termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Kayan Hulu dengan luas sekitar 3.500 Kilometer persegi dengan penyebaran pada 14 desa dengan jumlah sekitar 5.000 jiwa. Jumlah ini adalah jumlah mereka yang menetap di Kayan Hulu, belum termasuk di daerah Kecamatan Kayan Hilir serta yang tersebar diberbagai wilayah Kalimantan secara keseluruhan.

Asal cerita orang orang Apokayan ini berawal dari daerah perkampungan “Lundaye“ warga yang berdiam di perbatasan Serawak dan Bulungan, yang bertujuan mencari daerah baru karena populasi mereka kian berkembang. Mereka secara berkelompok menyebar meninggalkan daerah Lundaye. Dari penyebaran tersebut salah satu kelompok terbesar mereka adalah orang orang yang disebut sebagai suku Kenyah sampai ke daerah Apau Da’a Bulungan dan bermukim di tempat tersebut karena daerah ini subur dan kaya dengan hasil bumi yang mereka butuhkan.

Setelah cukup lama bermukim di Apau Da’a, populasi mereka kian pula bertambah, maka untuk lebih berkembang mereka membentuk 12 kelompok keluarga dan mengembara mencari wilayah baru untuk didiami. 12 kelompok tersebut terdiri dari 40 anak suku (Uma) atau keluarga menyusuri daratan dan sungai Kayan hingga sampai kemana mana. Mereka yang keluar meninggalkan Apau Da’a, adalah Uma Bakung, Uma Lepu Tau, Uma Tukung, Uma Jalan, Uma Timai, Uma Baja, Uma Bem, Uma Badeng, Uma Ujok, Uma Pawa, Uma Awai, dan Uma Kayan Ma’ Leken.

Anak suku Kenyah ini amat ulet, berani, dan sangat menjaga kekerabatan serta adat budaya leluhur mereka sampai kemanapun. Pada setiap pemukiman mereka selalu ada balai adat atau Lamin Pertemuan keluarga, selain untuk upacara dan penyambutan tamu. Pada saat kini yang telah menetap seperti Uma Tau dan Uma Bakung mendiami Desa Sungai Barang, Desa Long Uro di Apokayan, sedang Uma Jalan menempati Desa Long Ampung, Long Nawang, dan Nawang Baru. Sedang anak suku lainnya menyebar dan menempati dibeberapa desa wilayah adad Apokayan , seperti Desa Long Bata’oh, Long Temuyat, Long Top,Long Lebusan, Long Anye, Lidung Payau, Long Payau, Mahak Baru, dan Dumu Mahak. Namun walau desa mereka berjauhan mereka tetap menjaga kekerabatan dan saling kunjung mengunjungi bila ada upacara perkawinan, kematian, dan pesta panen tahunan.

Daerah Apokayan ditemukan oleh orang orang Kenyah asal Lundaye pada abad ke 16 dan menjadikan Apokayan sebagai basis dan kawasan adat Suku Dayak Kenyah, dimana setelah berkembang pesat dan berjalan selama dua abab maka pada abad ke 18 mereka mulai eksodus dan menyebar ke arah Kabupaten Kutai menyusuri Sungai Mahakam, Sungai Kapuas Hulu, memasuki daerah kerajaan Berau, terus kehilir Sungai Kayan menuju Tanjung Peso, Tanjung Palas dan Tanjung Selor.

Perubahan adat kepercayaan terjadi pada awal abad 20 pada Suku Kenyah yang dibawa oleh Pemerintah kolonialis Belanda. Mereka mulai mengenal peradaban baru dan secara perlahan mengikis kepercayaan pada kepercayaan leluhur serta tradisi lain yang tak sejalan dengan hukum masyarakat modern, termasuk mereka mulai memeluk kepercayaan Kristen dan Islam, pendidikan serta sosial kemasyarakatan. Yang mengenal perubahan ini adalah masyarakat yang telah meninggalkan daerah Apokayan dengan jumlah tak sedikit, yaitu sekitar 12 ribu jiwa sehingga di Apokayan sendiri tersisa sekitar 3.000 jiwa yang bertahan.

Namun demikian walau tersisa sudah tak banyak, mereka yang tinggal tetap teguh dengan segala kepercayaan dan adat yang mereka percayai semenjak leluhur mereka. Pada setiap waktu mereka selalu melaksanakan upacara sakral yang mereka yakini. Mereka juga tidak perduli dengan keadaan di luar kawasan adat mereka.

Tetapi orang orang Kenyah ini adalah orang yang selalu menjaga kekerabatan secara utuh. Pada kenyataannya walau mereka pergi jauh dan terpencar kemana mana, namun tetap saja mereka pada waktu waktu tertentu kembali ke Apokayan untuk bertemu dengan warga dan tetuha adat yang masih ada. Selain mereka kembali ke Apokayan dalam urusan adat dan keluarga, pada waktu waktu tertentu, mereka juga tak melupakan asal usul mereka yaitu daerah pertama yang disebut desa orang-orang Lundaye dan desa desa asal usul pertama di pedalaman perbatasan Bulungan Serawak.

Dasar utama mereka meninggalkan Apokayan adalah berkaitan pada masalah ekonomi. Karena lahan di Apokayan kian sempit terjadilah perpindahan mereka ke berbagai daerah di samping menghindari persaingan dan perebutan sesuatu wilayah subur yang bisa terjadi antara anak suku (Uma ) Kenyah. Perginya penduduk ke daerah daerah subur yang ditemukan atau diberitakan oleh keluarga dan kerabat yang telah lebih dahulu pergi membuat Apokayan bertambah sepi.

Dalam upaya mengembalikan kehidupan Apokayan untuk menjadi sentral seni budaya dan adat Suku Kenyah, serta mengupayakan agar orang-orang Kenyah yang tadinya pergi bisa kembali ke Apokayan dan membangun Apokayan sebagai pusat keberadaan Suku Kenyah, pada tahun 1994 lalu di Apokayan dilaksanakan pertemuan adat seluruh anak suku (Uma ) Kenyah disertai pesta penen dan pagelaran budaya yang mereka sebut “Bangen Jenai Lale.” Atau dengan arti Bangen adalah Pesta, Jernai adalah Makanan dan Beras, Lale adalah Adat. Yang diambil dari kebiasaan sakral Suku Kenyah.

Sejak itulah kebanggaan sebagai Suku Kenyah ditampakkan ke berbagai wilayah. Semua orang yang berasal dari Suku Kenyah memiliki atau memakai tanda kalau mereka adalah orang orang Dayak Kenyah yang terbesar dan tersebar di seluruh pelosok Kalimantan.. Apokayan yang termasuk di dalam wilayah Bulungan ini memang tak berkaitan budaya atau darah dengan masyarakat atau bangsawan Bulungan. Orang Dayak Kenyah tak memiliki raja atau kerajaan, namun mereka memiliki Kepala Suku dan Kepala Adat yang kedudukannya hampir sama dengan seorang raja. Apa kata Kepala Suku atau Kepala Adat, itulah yang menjadi putusan hukum bagi masyarakat Kenyah.

Sebenarnya daerah Apokayan ini adalah suatu daerah yang sangat indah dan alami, sehingga banyak turis mancanegara yang bertualang di daerah ini untuk menikmati keindahan alam serta ragam budaya yang dimiliki oleh masyarakat Dayak Suku Kenyah. Selain itu banyak pula dari kalangan budayawan asing melakukan penelitian sejarah dan budaya keberadaan Kenyah yang mereka anggap unik serta langka.

Keindahan alam Apokayan kini sudah dikenal oleh masyarakat mancanegara. Apalagi Apokayan juga memiliki hutan yang masih utuh penuh dengan flora dan fauna sehingga merupakan asset jual yang bernilai tinggi. Keindahan Apokayan adalah salah satu dari seribu keindahan alam Kabupaten Bulungan, yang membentang dari ujung Apokayan hingga ke sisi pegunungan Kerayan, membujur kea rah Lumbis, Malinau dan Mentarang; Kemudian dari Long Peso memanjang ke Long Pujungan, Sesayap, Sembakung, dan Nunukan, sampai ke pulau Sebatik. Keadaan ini ketika Kabupaten Bulungan belum terbagi menjadi empat bagian yaitu Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan dan Kota Tarakan. Namun demikian hal tersebut adalah hanya persoalan pembagian administrasi dan untuk kepentingan percepatan pembanguan di wilayah utara Kalimantan Timur.

Walau demikian alamnya serta seni budaya dan kondisi lingkungan tetap saja sama tak berubah. Keramahan penduduk Suku Kenyah ini sangat membuat siapapun akan terkesan selama hidupnya. Apalagi bagi kalangan turis mancanegara. Ada diantara mereka yang jatuh cinta dengan Apokayan. Mereka rela tinggal dan mengawini gadis Apokayan yang kebanyakan cantik-cantik alami.

Pada umumnya mereka yang bertualang ke pedalaman dan desa desa di kawasan ini sudah merasa jenuh hidup di tengah tengah kota yang penuh bangunan bangunan beton. Apalagi dengan kebebasan dan cara hidup mereka juga sangat berbeda, walau agama kepercayaan mereka ada yang sama yaitu Kristen Protestan atau Katolik. Di lain itu disini mereka menemukan ketenangan dan kedamaian jiwa terlepas dengan segala tututan hidup yang selalu dalam persaingan.

Sebagai orang Kalimantan apalagi Kalimantan Timur sendiri amatlah rugi jika belum pernah menikmati keindahan dan keramahan masyarakat Apokayan. Penulis yakin jika Anda kesana, Anda pasti jatuh hati dengan situasi yang sangat mempersona. Terutama pada pemuda-pemuda kekar dan tampan serta gadis gadis semampai yang cantik di samping alam yang begitu indah mempersona. Saya yakin Anda tak akan kecewa .Cobalah jangan disia siakan semasa kesempatan masih ada.- *habis

Sumber:
http://www.bongkar.co.id/khas-kaltim/cerita-khas-johansya-balham/694-legenda-apokayan.pdf
http://www.ceritadayak.com/2010/02/legenda-apokayan.html

Bahasa Dayak Tunjung / Gahan tonyooi Part 2

Pada sesi ini kita akan mempelajari mengenai Imbuhan yang ada di dalam bahasa Dayak Tunjung. BAhasa Dayak Tunjung Juga sama dengan Bahasa Indonesia dalam penggunaannya sehari-hari.. namun ada beberapa perbedaan seperti:
1. Penggunaan kata Di-
Penggunaan kada Di- didalam bahasa Dayak Tunjung ada sedikit perbedaan dengan Bahasa Indonesia dimana perbedaan ini tergantung pada kata apa yang ingin kita ucapkan (Kata Kerja / Kata Benda /Kata Keterangan). Ada 2 kata Di- dalam bahasa Dayak Tunjung seperti Te- dan De-.
– Te- / Di-
Jadi untuk Te- ini lebih tepat kita gunakan dalam menyatakan kata kerja. misalnya :
– dimakan = Te-nguman = Tenguman (Walaupun kata dasarnya adalah Kuman (makan), tapi yang kita pakai adapah nguman.)
– digigit = te-ngeket = tengeket
– Diminum = te-muruuq = temuruq
– dibantu = Te-ngawat= tengawat (kata dasar AWAT=Bantu)
– dipeluk = te-ngepakng = tengepakg
– dicium = te-ngenuuk = tengenuk
– dijelekan = te-ngempejai = tengempejai (kata dasar PEJAI=Jelek)
– Dibaguskan = Te-ngempore= tengempore (kata dasar=PORE=bagus)
– dibuat = te-nengaq = tenengaq
– dijemur – te-nuhiq= tenuhiq

2. Kata yang memiliki makna Ambigu
Sama halnya dengan Bahasa Indonesia, didalam Bahasa Tunjung juga memiliki sebuag kata yang ambigu atau memiliki makna ganda. dalam hal ini, sebuah kata bisa jadi mengandung 2 arti. contoh:
Nengaq= kata ini mengandung 2 arti yaitu MENYISAKAN atau MEMBUAT. Jauh bukan…hehhe…. Ya ini tergantung dari bagaimana kita mengucapkan huruf “e”nya.
Jika kita mengatakan kata Nengaq (huruf e dibaca seperti huruf e pada kata leptop/depan) maka nengaq akan berarti MENYISAKAN. Tapi jika kita mengatakan kata Nengaq (huruf e dibaca seperti e pada kata bersama/kemana) maka ia akan berarti MEMBUAT.
Nyaman= kata nyaman juga memiliki makna Ambigu, tergantung bagaimana kalimat yang kita gunakan. “NYAMAN kem unya” = ” Namamu siapa” , “Nyaman ke ugai tieh” = enak banget buah ini…. hanya tergantung pada kalimat yang kita gunakan
(masih banyak sebenarnya, cuman agak lupa, tar kalo ingat baru deh diposting) heheheeh

3. Kata yang memiliki makna khusus
Kata khusus disini salam arti dimana sebuah kata itu hanya khusus digunakan untuk kata tertentu sedangkan hal yang dilakukan sama.
-Mencuci, dalam hal ini adalah mencuci pakaian dan memncuci piring. walaupun keduanya sama-sama dalam dalam konteks mencuci namun penggunaan kata dalam bahasa Tunjung kedaunya tidaklah sama.
Berupuk= Kata berupuk lebih tepat digunakan dalam hal “mencuci pakaian”. Jika kita mengucapkan kata “Berupuk”, maka orang pasti tau jika kita ingin mencuci pakaian.
Beroheq= Kata ini Lebih tepat digunakan dalam hal mencuci piring (alat dapur). sama halnya dengan “beroheq”, jika kita mnegatakan “beroheq” orang pasti tau kalao kita akan mencuci alat dapur.
Kita tidak bisa menggunakan kata “berupuk” jika ingin mencuci piring (alat dapur) begitu juga sebaliknya.

4. Kata Bantu/Kata penegas
Bahasa Dayak Tunjung juga memiliki kata bantu atau kata penegas dimana kata ini tidak mempunyai arti melainka hanya sebagai pelengkap kalimat.
-saaq = ini merupaka sebuah kata bantu yang digunakan untuk MEYAKINKAN/ KATA PENEGAS. misalnya.. Koi saaq yaq nengaq ke = kamu yang buatnya, disini kata SAAQ ingin menegaskan kalau yang harus membuat itu adalah KAMU, bukan AKU. “Iyaq saaq” = Iya dong…
-ming=biasanya Ming umumnya digunakan sebagai pelengkap kata PENYANGKALAN/TIDAK MEMPERCAYAI SESUATU namun bisa juga digunakan sebagai tanda Ketakutan jika diteriakan MiiiiiiiiiiiiiiiiiiiNG dengan sangat panjang..
-alee= juga sebagai kata pelengkap. bisanya jika ada orang yang berkata sombong.. org cendrung menggunakan kata aleeee kuq…. kurang lebih hampir sama dengan kata Ming, tidak mempercayai / tidak mengiyakan
-mam = Nah kalo kata yang ini juga diartikan sebagai kata penegas terhadap suatu benda untuk meyakinkan org yang mendengar…. misalnya sebuah yang sangat besar = Hajaq Maam (artinya kita ingin menegaskan bahwa sesuatu itu memang sangat besar). Itit maaam (artinya kita ingin menegaskan bahwa sesuatu itu memang kecil)
-ah= kalo yang ini biasanya kata pelangkap yang digunakan dalam kata tanya. Gin kepm ah? = punyamu bukan? , Bujur ah?= betul kah? ,
-eh= kata eh juga biasanya digunakan untuk pelengkap dlam kata tanya. ewah menya koq eh?? mau kemana kamu??
-pooh/puuh= biasanya digunakan untuk mengeluhkan sesuatu
-bee
-ceh/seh

(Kalo ada kata-kata yang salah atau kurang tepat, mohon dikoreksi ya teman)hehhehehe



TOHOQ-KWANGKAI, UPACARA KEMATIAN SUKU DAYAK TUNJUNG

UPACARA KEMATIAN SUKU DAYAK TUNJUNG
TOHOOQ-KWANGKAI

A. Latar Belakang Sosial-Budaya Suku Dayak Tunjung
1. Lokasi Suku Dayak Tunjung
Suku Dayak Tunjung merupakan salah satu Anak Sub Suku Dayak yang mendiami sebuah tempat Dataran Tinggi yang disebut Dataran Tunjung yang berada di wilayah Kabupaten Kutai Barat, sebagian kecil di wilayah Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Suku Dayak Tunjung bermukim di wliayah Kecamatan Melak, Kec Barong Tongkok, Kec Sekolaq Darat, Kec Linggang Bigung, Kec Kembang Janggut, Kec Manoor Bulan, Kec Muara Pahuq, Kec Kota Bangun.
Wilayah yang didiami Suku Dayak Tunjung ini berhutan lebat, hutan primer yang banyak menghasilkan bermacam-macam kayu dan hasil hutan lainnya seperti : rotan, dammar, sarang burung wallet, bermacam-macam anggrek, buah-buahan dan sayur-sayuran. Sedangkan flora dan fauna seperti : orang utan, kera, babi, rusa, burung-burung dan ular.

2. Asal Usul Sejarah Suku Dayak Tunjung
Tidak ada data tertulis yang menyatakan asal usul Suku Dayak di Kalimantan, Suku Dayak Tunjung Khususnya dikarenakan Suku Dayak pada zaman dahulu tidak mengenal tulisan. Namun kita dapat mengetahuinya dari cerita-cerita rakyat yang diturunkan secara turun temurun.
Menurut Ceriteranya, Suku Dayak Tunjung ini berasal dari Khayangan, yaitu Dewa-Dewa yang menjelma kedunia sebagai manusia untuk memperbaiki dunia yang sedang rusak. Menurut Suku Dayak Tunjung, ama asli mereka Adalah Tonyooi Risitn Tunjung Bangka’as Malik’ng Panguru’q Ulak Alas yang berarti Suku Tunjung adalah pahlawan yang berfungsi sebagai dewa pelindung.
Suku Dayak Tunjung pada zaman dahulu memiliki sebuah bentuk Kerajaan namun hancur ketika masuknya pendudukan Jepang ke Indonesia. Menurut mereka, Raja-raja Suku Dayak Tunjung ini berasal dari langit dengan sang penciptanya yang disebut dengan Nayuk Sanghyang Juata Tonyooi. Akhir Dari Kerajaan Tunjung ini ialah bersama-sama dengan Kerajaan Kutai menggabungkan diri dengan Pemerintaha Indonesia.
Pada awalnya, seluruh masyarakat Suku Dayak Tunjung tinggal disebuah daerah yang bernama Sendawar (Sentawar dalam bahasa Dayak Tunjung). Namun pada zaman pemerintahan Jepang, karena perlakukan yang sangat menindas mereka, sehingga Suku Dayak Tunjung ini sangat tertekan sehingga mereka meninggalkan Kampung halaman dan menyebar kedaerah-daerah lain. Akibat penybaran itu terjadilah sedikit perbedaan logaat bahasa dan wujud kebudayaan, namun tidak begitu mendasar. Suku Dayak Tunjung setelah menyebar itu menyebabkan terwujudnya dengan sendirinya bermacam-macam jenis seperti :
a) Tunjung Bubut, mereka mendiami daerah Asa, Juhan Asa, baloq Asa, Pepas Asa, Juaq Asa, Muara Asa, Ongko Asa, Ombau Asa, Ngenyan Asa, Gemuhan Asa, Kelumpang dan sekitarnya.
b) Tunjung Asli, Mendiami daerah Geleo (baru dan Lama)
c) Tunjung Bahau, Mendiami Barong Tongkok, Sekolaq Darat, Sekolaq Muliaq, Sekolaq Oday, Sekolaq Joleq dan sekitarnya.
d) Tunjung Hilir, mendiami wilayah Empas, Empakuq, Bunyut, Kuangan dan sekitarnya.
e) Tunjung Lonokng, mendiami daerah seberang Mahakam yaitu Gemuruh, Sekong Rotoq, Sakaq Tada, Gadur dan sekitarnya.
f) Tunjung Linggang, mendiami didaerah dataran Linggang seperti Linggang Bigung, Linggang Melapeh, Linggang Amer, Linggang Mapan, Linggang Kebut, Linggang Marimun, Muara Leban, Muara Mujan, Tering, Jelemuq, lakan bilem, into lingau, muara batuq dan wilayah sekitarnya.
g) Tunjung Berambai, mendiami Wilayah hilir sungai Mahakam seperti Muara Pahu, Abit, Selais, Muara Jawaq, Kota Bangun, Enggelam, Lamin Telihan, Kemabgn janggut, Kelkat, dan Pulau Pinang

B. Maksud Dan Tujuan Upacara Kematian.
Pada dasarnya, Upacara Kematian ini dilaksanakan agar arwah orang yang telah meninggal diantarkan ke alam baka yang disebut Gunung Lumut dan hidup tentram ditempat tersebut tanpa mengganggu anak-cucu dan para keluarga yang ditinggalkan. Roh orang yang telah meninggal harus diantar ke Gunung Lumut yaitu dilakukan Upacara pengantaran arwah ke gunung Lumut.
Pada Upacara kematian ini dilaksanakan tarian yang disebut dengan tarian Calan’t Caruuq. Tarian ini dimaksudkan untuk membuka jalan ke Gunung Lumut bagi para roh yang telah meninggal agar tidak tersesat.
Suasana religious menguasai alam pikiran masyarakat Suku Dayak Tunjung. Kepercayaan akan kebahagian bagi Suku Dayak Tunjung di Puncak Gunung Lumut (kebahagiaan abadi) dan kepercayaan pada alam gaib serta hubungan manusia dengan roh-roh inilah yang yang membawa Suku Dayak Tunjung mengadakan Upacara Adat Kematian ini.

C. Persiapan Upacara
Persiapan upacara ini dimulai sesaat setelah ada orang meninggal yaitu dengan memukul tambur yang disebut dengan Neruak dan kemudian Gong yang disebut Titi. Setelah mendengar bunyi Titi, orang-orang kemudian berkumpul di rumah tempat orang meninggal. Orang yang memimpin Upacara ini dari awal hingga selesai adalah Penyentagih.
Perisapan lain adalah:
• Air : Air digunakan untuk memandikan mayat.
• Ayam : Ayam diambil darahnya yang digunakan untuk membuat titik-titik pada bagian tubuh orang yang meninggal
• Kepingan Uang Logam: Uang logam diletakan pada kedua belah mata, telapak tangan dan dadanya. Jadi jumlahnya ada 6 buah. Ini dilakukan jika yang meninggal adalah pria. Jika yang meninggal adalah wanita maka harus dipersiapkan anting-anting, gelang, kalung dan lain-lain.
• Kain Batik : Kain batik digunakan untuk pembungkus, banyaknya jumlah kain tergantung dari kemampuan orang yang meninggal, selain itu Tirai yang terbiat dari kain juga dipersapkan
• Lungun : Semacam peti mati yang terbuat dari pohon buah-buahan. (biasanya pohon Durian.)
• Seperangkat Alat Musik : alat music ini biasanya terdiri dari Sembilan buah gong, satu tambur dan satu set kelentangan. Alat music ini dibunyikan pada saat mayat dimasukkan dalam Lungun
• Makanan: makanan juga dipersiapkan di dalam Lungun sebagai bekal perjalanan menuju Gunung Lumut.
• Perlengkapan Pria : Mandau, Taji, Piring, Mangkok dan peralatan lain untuk pria
• Perlengkapan Wanita : Pisau, Piring, Mangkok, Perhiasan dan peralatan lain untuk wanita

D. Jalan Upacara Kematian Selengkapnya
Dalam menjalankan ritual Upacara Adat Kematian, Suku Dayak tunjung mengenal 2 jenis Upacara yang tidak harus dilaksanakan semua tergantung dari kemampuan masing-masing keluarga, jadi kedua jenis upacara itu merupakan satu kesatuan Upacara. Jenis-jenis upacar itu adalah :
1. Upacara Tohoq
Upacara Tohoq adalah upacara yang dilaksanakan bagi orang yang baru meninggal setelah enam/lima hari sesudah mayat dimasukan kedalam Lungun. Aturan lagu ini adalah bila yang meninggal perempuan, maka upacara ini dilaksanakan selama lima hari, tetapi jika yang meninggal pria upacara ini dilaksanakan selama enam hari.
Hari Pertama (Nau Neruak) : Kebiasaan Neruak, yaitu jika ada orang yang meninggal mereka memukul tambur sebagai tanda bahwa ada orang yang meninggal, kemdian disusul dengan titi, yaitu orang yang memukul gong secara sahut-sahutan seteleah nyawa lenyap dari jasad. Bersama denga berlupangnya seseorang kealam baka, maka akan terdengar suara ratap tangis keluarga yang ditinggali dimana ratap tangis ini berisikan kata-kata yang sedih didengar yang ditujukan kepada orang yang baru meninggal tersebut. Menagisi orang yang telah meniggal disebut Ngurik’ng. Setelah banyak orang yang datang, sebagian dari mereka mengambil air sungai, sementara itu gong berhenti berbunyi dan ketika mereka mulai memandikan mayat, gong dibunyikan kembali sampai upacara pemandian Mayat selesai dilakukan.
Setelah selesai memandikan mayat, orang mati diberi Patik, yaitu membuat titik-titik dengan darah ayam yang telah dipersiapkan sebelumnya pada muka, bagian badan, kedua lengan, dan kedua kakinya. Tanda Patik ini dipercaya agar roh-roh atau arwah-arwah lainnya dapat mengenali bahwa orang tersebut telah meninggal.
Mayat yang telah meniggal dibungkus dengan kain batik sebanyak 7 lapis, pada keluarga yang berada, jumlah kain ini dapat dikalikan 2 yaitu 14, 21, 27 lapis.
Hari Ke-2 (Nau Intakng) : hari ini deisbut juga dengan hari pembuatan Lungun (peti kubur yang terbuat dari batang kayu yang besar)
Hari Ke-3 (Nau Petamaq Bangkai) : Pada saat memasukkan mayat kedalam Lungun sebagai pengiringnya orang membunikan seperangkat alat music yang disesuaikan dengan irama yang khas bagi upacara kematian yang disebut dengan Dongkeq.
Hari Ke-4 (Malam Penyentagih) : penyentagih berarti orang yang khusus memimpin upacara untuk mengantar roh orang yang telah mati. Pada malam penyentagih ini, si penyentagih ini meriwayatkan orang yang meningal sejak ia kecil hingga orang itu mati kemudian diantar ke gunung lumut.
Hari Ke-5 (Nau Nyolook) : nylook berasal dari kata solook yang berarti lemang (beras ketan yang dibungkus dengan dau pisang. Pihak keluarga yang ditinggalkan membuat lemang, tumpiq dan lain2 untuk persediaan pada hari berikutnya yaitu untuk mengadakan acara syukuran bersama para tamu dan keluarga yang datang.
HariKe-6 (Tohoq/Param Apui) : hari ini merupakan puncak acara upacara adat kematian. Pada hari ini sanak saudara datang membawa bahan makanan seperti beras, beras ketan, ayam, babi dll yang bermaskud sumbangan bagi keluarga yang ditimpa kesusahan. Pada hari ini juga dilakukan pemadaman api, jadi segala api yang ada di didalam rumah maupun luar rumah harus dipadamkan. Menurut pandangan Suku Dayak Tunjung dengan dipadamkannya api berarti kematoan sudah berakhir dan tidak ada kelanjutan lagi.
Hari Ke-7 (Nau Ngelubakng) : hari ini disebut juga denga hari penguburan. Dimasyarakat suku Dayak Tunjung dikenal 2 jenis penguburan:
– Sistim Garai (Templaaq ), yaiut lungun dimasukan kedalam sebuah rumah kecil yang ukurannya disesuaikan dengan ukuran lungun. Tingginya kurang lebih 2 meter.
– Sistim kubur Lungun dimasukan kedalam tanah yang dibuat berdinding seperti pagar, kemudian ditutupi dengan papan dan ditimbuni tanah. Pada atasnya diberi batu atau nisan.

2. Upacara Kwangkai
Kwangkai berarti adat bangkai mai atau adat bagi orang yang telah lama meninggal. Maksud dari upacara Kwangkai adalah memindahkan tulang-tulang pemakaman terdahulu pada upacara tohooq ke pemakaman yang terlebih dahulu dibawa kedalam Lamin (rumah adat) dan diadakan upacara Kwangkai
Kwangkai adalah Upacara adat terbesar atau bisa dikatakan dengan sebutan Pesta Kematian karena pada saat ini seluruh masyarakat akan memenuhi kampung dalam suasana yang benarbenar pesta. Banyak orang yang berasal dari kampung lain datang untuk menghadiri acara ini.

Hari Ke-1 (Nau Nengaq Uman) : Hari pertama adalah hari persiapan dimana orang mulai menyemblih binatang-binatang korban seperti babi,ayam,serta membuat lemang, kue tumpiq, dll.
Hari Ke-2 sampai hari ke-6 (Tingaaq) : Tingaq merupakan suatu rangkaian nyanyian-nyanyian yang menceritakan perjalanan mereka mengantarkan roh kealam baka. Tingaq ini berlangsung sampai hari keenam dimana dilakukan setiap malam berturut-turut.
Hari Ke-7 (Nau Netak Biyoyak’ng) : netak Biyoyakng berarti hari dimana orang mulai memotong serat kayu atau jomok yang dipergunakan untuk ikat kepala pada waktu menari tarian khusus untuk tarian kematian, Ngerangkau. Ikat kepala ini biasanya berjumlah empat puluh buah. Ikat kepala ini dalam bahasa Dayak Tunjung adalah Laung Biyoyang. Selain ikat kepala, mereka juga mengenakan Ketau Putiiq (Tapeh Putih) dan Sapai Putiiq (Baju Putih).
Hari Ke-8 (Nau Pesagaaq Beluntak’ng ) : maksudnya adalah penyesuaian dengan patung yang telah dipilih (Belontakng).
Hari Ke-9 (Nau Molaaq Beluntak’ng) : Hari ini disebut juga dengan penanaman Beluntang di dalam tanah. Panjang beluntakng biasanya tiga sampai empat meter yang terbuat dari kayu besi (kayu ulin) dipahat mntuk menyerupai bentuk manusia dan binatang yang dihias denga ukiran-ukiran. Beluntang yang ditanam menghadap kebarat, sesuai dengan pandangan Dayak Tunjung arah barat adalah arah matahari terbenam sebagai lambang kematian. Beluntang berfungsi untuk menambatkan kerbau yang hendak di korbankan.
Hari Ke-11 : pada hari kesebelas tidak ada upacara khusus. Hari ini dipergunakan untuk mengadakan persiapan upacara selanjutnya.
Hari Ke-12 (Nau Kille Kelalungan) : kile kelalungan berarti menurunkan kelalungan , sebab menurut mereka bahwa ada roh yang ada pada tengkorak harus diantarkan ke Talian Tangkir LAngit dengan diadakannya upacara Kwangkai sedangkan roh yang ada pada badan disebut Pedaraaq yang harus diantar ke Gunung Lumut.
Hari Ke-13 ( Nau Nooq Pedaraaq) : Noq Pedaraq berarti menyambut roh yang datang dari Gunung Lumut. Jadi pada hari ini si penyentagih menyambut para roh-roh yang datang dari Gunung Lumut dengam membacakan mantera-mantera.
Hari Ke-14 (Nau Pekateq Kerewau) : nau pekateq kerewau berarti hari Penyemblihan Kerbau. Pada pagi hari kerbau sudah dimasukan kedalam Suncong (Kandang Kerbau yang berbentuk segitiga). Setelah selesai upacara penyentagih, kerbau dilepaskan dari dalam suncong untuk ditombak. Penmbakan pertama dilakukan oleh pemimpin penyentagih yang mewakili Pedaraq (roh-roh) lalu diikuti orang lain. Apabila kerbau sudah tidak berdaya maka orang-orang menahan kerbau dengan kayu untuk mengatur arah rebahnya kerbau, rebahnya kerbau harus sejajar dengan arah lamin dengan kepala bagian timur menghadap kebarat untuk menghindari malapetaka. Setelah kerbau mati, gong dipukul menandakan kerbau sudah mati. Setelah kerbau mati maka selesailah upacara adat Kwangkai.
Demikian lah seluruh jalannya Upacara kematian yang ada di Suku Dayak Tunjung. Kedua upaca ini merupakan sebuah kesatuan yang diyakini oleh mesyarakat Dayak Tunjung sebagai cara untuk mengantar arwah kerabat yang telah meninggal dunia kea lam baka yang mereka sebut Gunung Lumut. Namun pelaksanaan upacara ini semakin berkurang, dikarena kan sebagian besar masyarakat Dayak Tunjung sudah memeluk agama (Kristen dan Khatolik) sehingga pelaksanaan upacara semacam ini mulai dibatasi.

Np: Sebenarnya masih ada satu Upacara Lagi yaitu Upacara Kenyau. cuma belum sempat dibahas…heheh… ntar aja kapan-kapan…

(Hargai hasil jerih Payah Orang Lain, Bagi yang ingin mengcopi-paste.. diharapkan mencantumkan Linknya. Capek Cooyy nuLis ne…hehhehehe… Ok Kawan.)