(30 Desember 2012) Nasihat untuk hidup dalam kasi

Roma 12:10 »Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara & saling mendahului dalam memberi hormat.

Iklan

Batu Bavui

Ini adalah cerita Dayak yang aku copas dari blog ini….
selamat menikmati..

Bila bertemu dengan batu biasa orang Dayak melewati begitu saja tetapi bila bertemu dengan batu yang menyerupai sesuatu, entah kenyataan entah dalam khayalannya, batu itu menjadi bagi dia orang atau benda yang telah membatu. Kemudian ia menceriterakan bagaimana orang laki-laki atau perempuan ini, kampung ini, pondok ladang ini, tumpukan kayu ini atau perahu ini tiba-tiba pada suatu saat dijadikan batu oleh roh-roh sebagai hukuman.
Itulah beberapa catatan saya tentang sejarah batu suku Dayak yang belum saya terbitkan.
Batu Bavui di daerah kami Mahakam merupakan salah satu batu yang bernyawa dan sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggal roh-roh. Menurut ceritera imam wanita Devung Ajau kepada saya di Tering mulanya batu itu merupakan seekor binatang yaitu seekor babi-ratu bernama Nidan Bavui. Binatang kampung ini mempunyai keistimewaan mampu berbicara dengan orang secara manusiawi. Tetapi pada suatu hari tertentu babi ratu ini tiba-tiba dirobah menjadi suatu batu besar yang dahulu kala terletak di dekat kampung Tukul.
Pembatuan ini terjadi dengan cara sebagai berikut:
Seorang Dayak Tunjung pergi berburu babi bersama beberapa orang sekampung, bersenjata mandau dan sumpitan. Agak cepat mereka bertemu dengan seekor babi yang sangat besar. Babi itu berkata kepada mereka yang keheran-heranan:
“Jehima kamé nyatung ha akui meté panghut ha huhung akui, dang mulu akui.”
Artinya: “Besok kami akan berenang. Bila pada saat itu kepala saya berpanghut (sepotong kayu berkeriting), janganlah membunuh saya.”
Baleéh – seoang Tunjung di antara mereka – menjawab:
“Sayu”, artinya “Baiklah.”
Pagi hari berikut ia pergi bersama teman yang lain. Pagi hari mereka melihat bahwa di seberang sungai suatu kawanan babi besar mencempungkan diri ke dalam air. Tidak memikirkan lagi apa yang terjadi dan apa yang dijanjikan kemarin mereka naik perahu dengan cepat dan membunuh dengan parang mereka seluruh kawanan.
Tidak lama kemudian Nidan bersama babi yang lain berbaring di tepi sungai dalam sakratulmaut karena kehilangan darah banyak.
Ketika Nidan menghabiskan napas terakhir ia merengek-rengek, hampir tak terdengar:
“Ika Baleéh terana ika ngering dengaah para ngenaap atang. Ika temoo mepaang kelunaan arâ. Temo tevaak ayam tevaak uting, im ai kumaan dahâ. Dahin kumaan kui lim. Ha kam sayu terana kam jaan nâ nunaan, jaan kam sayu hamaan matê pah maang.” Artinya:
“Ah, kamu Baleêh! Bila kamu menerima berita adanya penyakit di daerah ini datanglah dengan segera ke mari, panggillah orang banyak kemudian sembelihlah ayam dan babi. Buatlah boneka sebagai “ganti-diri” dan sediakanlah makanan bagi saya supaya kalian akan sembuh dengan cara itu. Bila kalian tidak berbuat demikian kalian semua akan mati.”
Setelah berkata demikian Nidan meninggal. Semua orang yang hadir kejutan ketika Nidan tiba-tiba berubah menjadi batu besar. Mulai dari saat itu baik orang Dayak Tunjung maupun Dayak Bahau merasa diri wajib memenuhi perintah ini supaya menjadi sembuh dari penyakit. Sampai sekarang ini perintah itu dituruti dengan setia.
Bulan Juni 1931 duaratus orang Tunjung bersama limapuluh orang Dayak Tering telah berkumpul di sungai Map di mana orang mempersembahkan babi dan ayam kepada Batu Bavui; saya sendiri menyaksikan beberapa kali bahwa peraturan adat ini ditaati dengan tekad baik di daerah Tunjung maupun di sekitar stasi Misi kami Tering. Orang tidak tahu di mana batu itu berada pada saat ini. Ia melarikan diri dari pinggir Mahakam dan orang menduga kuat bahwa batu itu sekarang berada di suatu tempat di daerah Tunjung.
(Tulisan past. P. Vossen, msf, 1931)
sumber:http://msfmusafir.wordpress.com/2008/11/19/batu-bavui/#more-238

Kerajaan Penihing/Aoheng yang belum tersentuh tangan manusia

ini adalah kutipan asli yang aku copy-paste dari alamat ini: http://klewang.multiply.com/journal/item/69
Semoga berguna , dan bagi teman-teman yang mengerti mohon penjelasannya……..

Juli, 2006. Tanpa sengaja aku bertemu kawan lama. Mas Ahmadi dari komunitas BlueGrass. Pertemuan di warung nasi goreng itu berlanjut dengan bercerita tentang pengalaman masing-masing. Kawanku ini mantan Anggota Pecinta Alam yang sampai sekarang masih suka keluyuran kemana-mana. Saat itu, dia sedang gandrung dengan penjelajahan Kalimantan dan studi tentang suku-suku dayak. Banyak sekali kisah menakjubkan yang kudengar darinya waktu itu. Salah satunya adalah tentang harta karun sejarah dan kebudayaan salah satu kerajaan suku dayak yang sampai sekarang belum terjamah.
Di ujung pertemuan, kuminta dia mengirim tulisan perjalanannya ke emailku. dan inilah copy email yang dikirim padaku tertanggal 3 juni 2006.
Di hulu Sungai Mahakam ada peninggalan Kerajaan Dayak
Penihing, Berupa Tower batu setinggi 150m – 200m, yang
tadinya di jadikan Istana oleh Raja penihing beserta
keturunanya. Lorong masuk satu satunya kedalam Tower
tertutup batu besar, untuk memasukinya tinggal dua cara,
menggunakan Helycopter ke puncak cerobong tower batu, atau
dengan jalan panjat tebing. Mungkin menarik untuk diteliti
lebih jauh, karna peninggalan beserta singasananya masih
belum tersentuh manusia diluar Istana batu.

Latar belakang ( dari hasil wawancara dengan Tetua adat
Dayak Penihing pada tahun 1996 dan Buku Ekspedisi Muller
1886)

Raja Penihing adalah salah satu Raja terkaya di hulu sungai
Mahakam, tonggak perekonomian utama disokong hasil sarang
Burung dari gua2 sarang burung di kawasan kars wilayahnya.
Pada Abad XVlll barter sarang burung sudah merupakan barter
Ekslusif. Letak kerajaan di kawasan perbukitan batu kapur
nan terjal tersebut juga sangat mendukung pertahanan
alamiahnya, sangat menyulitkan pihak yang akan menaklukan
Kerajaan Penihing.

Namun tak lama setelah Kerajaan Kutai menaklukan para Raja
Suku dayak sepanjang aliran mahakam sampai keperbatasan
Serawak, Kerajaan Penihing yang menempati daratan Kars
sejauh -+ 30km dari tepian Mahakam menjadi target terakhir
Raja Kutai.

Istana Kerajaan Penihing berupa tower batu dengan lobang
besar berbentuk cerobong dari atas sampai kedasar tower.
Pintu masuk hanya satu, berupa lorong horizontal didasar
Tower yang kini masih tertutup batu besar.

Pada saat sebelum penyerbuan Pasukan Kerajaan Kutai, Raja
Penihing beserta Prajuritnya telah menutup dengan batu besar
lorong masuk kedalam Istana batu. Dengan harapan kalau Raja
penihing beserta Prajuritnya berhasil mengusir Pasukan
Kutai, maka batu besar penutup lorong tersebut akan mereka
buka kembali dari luar.

Raja Penihing lalu membawa pasukanya mencegat Laskar Kutai
dari kejauhan, menjauh dari perkampungan rakyat Penihing dan
Istana batu. Tindakan Kekhawatiran kalau kalah lalu di
jarah, memang berhasil membuat Laskar Kutai pulang dengan
tangan Kosong. Namun juga menyimpan tragedi bagi keluarga
penghuni Istana Batu. Raja penihing beserta Prajuritnya
gugur dan sampai kini tak seorangpun membuka pintu masuk
berupa batu besar tersebut. sementara rakyatnya pada saat
penyerbuan kerajaan Kutai melakukan Eklsodus ketepi Sungai
mahakam.

Peristiwa diatas terjadi sekitar Abad XVlll. Setelah Raja
Dayak Benuaq Sumbing Lawing kalah dan dipenggal kepalanya
oleh Raja Kutai( Sampai sekarang kepala Sumbing Lawing masih
tersimpan dalam Keraton Kutai Kertanegara di Kota
Tenggarong).

Pada tahun 1993 saya mendekati Istana Tower Batu tersebut,
setelah selama tiga hari melintasi perbukitan kars yang
cukup terjal. Usai survey awal untuk memastikan titik
lokasi, saya langsung balik ke Malang. Lalu pada tahun
berikutnya dengan Alat panjat tebing saya kembali berangkat
ke hulu Mahakam. Namun didesa terakhir saya sempat
diingatkan seorang kawan dari Malang ( yang menikah dengan
anak kepala adat Dayak Penihing), setiap kematian harus ada
ritual pemanggilan roh nenek moyang dan ritual pelepasan
roh, saya diperingatkan untuk mengadakan ritual itu
terdahulu, apabila berkeinginan memanjat Tower Batu
tersebut.

Karna keluarga kerajaan tower batu yang meninggal terkurung
di istananya tersebut, sampai saat ini upacara kematiannya
belum dilakukan oleh rakyat Penihing. Saya mundur dan mundur
karna upacara tersebut tidaklah murah biayanya bagi saya
saat itu, lagipula saya belum punya jalur ” diberikan kepada
siapa penemuan tersebut jadi berarti.”

Sampai akhirnya pada tahun 1998 saya mendapat kabar ada
perusahaan kayu dengan Helycopter mendekati Tower batu
tersebut. Bahkan sempat Turun vertical kedalam Cerobong
Tower, namun kekhawatiran pimpinan perusahaan ( ikut dalam
rombongan tersebut ) akan adanya ular besar didasar
cerobong, membuyarkan semuanya.
cerita diatas tujuanya jelas untuk menggugah darah petualangan para pembaca dan mungkin ada yg minat mendanai ekspedisi mengungkap misteri tower batu tersebut

Sekian

Semoga bermanfaat…..
Sumber: http://klewang.multiply.com/journal/item/69