Inkulturasi Tionghoa di Dayak Mempawah (Kalimantan Barat)

Orang Dayak memanggilnya “sobat” (sahabat), mereka memanggil orang Dayak “darat”, kadang-kadang dipanggilnya juga dengan sebutan laci. Laci artinya anak keturunan. La=anak, ci= orang atau keturunan. Anak hasil perkawinan Dayak dengan Cina disebut pantokng dan sebaliknya anak hasil perkawinan Cina dengan Dayak dikenal sebagai pantongla.

Tulisan ini hanya memotret singkat dalam konteks sejarah, bagaimana relasi Dayak dan Cina yang hampir sempurna, khususnya kenapa orang Dayak memanggil orang Cina “sobat”, sebuah tata nilai budaya yang sedemikian sempurna, sebagai perwujudan dari nilai-nilai hidup yang dijaga dan dikembangkan selama ini.

Cina dalam Dayak
Kata La Ci sering kali dipelesetkan orang luar untuk mempengaruhi relasi Dayak dengan Cina. Menurut Acui (2005), merujuk pada kata La Ci, mungkin mereka mengakui secara “implisit” bahwa Dayak adalah keturunan dari kelompok imigran yang telah datang masa 3000-1500 Sebelum Masehi (SM).

Panggilan “sobat” orang Dayak kepada orang Cina di atas bukanlah tanpa alasan. Dalam tradisi yang sangat sakral, misalnya dalam mitologi religiusnya, seorang tokoh Cina merupakan salah satu tokoh penting yang sangat dihormati bahkan diakui sebagai leluhur orang Dayak.

Disebutkan, ada lima orang tokoh, yang mencipta adat: Ne Unte’ Pamuka’ Kalimantatn, Ne Bancina ka Tanyukng Bunga, Ne Sali ka Sabakal, Ne Onton ka Babao, dan Ne Sarukng ka Sampuro.

Menurut pengakuan Singa Ajan (seorang Singa/Timanggong, tinggal di kampong Rees-Menjalin-Landak), Ne Bancina adalah leluhur Orang Cina, beliau tinggal di sebuah tanjung, yang bernama tanjung bunga, daerah pasir panjang-Singkawang sekarang ini.

Sebagaimana sejarahnya, Dayak adalah merupakan keturunan Bangsa Weddoid dan Negrito (Coomans,1987). Orang Negrito dan Weddoid telah ada di Kalimantan sejak tahun 8.000 SM. Mereka tinggal di dalam gua dan mata pencarian mereka berburu binatang. Kelompok ini menggunakan batu sebagai alat berburu dan meramu.

Warisan Weddoid yang masih bertahan hingga hari ini dan melekat pada sebagian kecil Orang Dayak adalah menjadikan hewan anjing sebagai hewan sembelih dan kurban pada Jubata (Tuhan).

Ini terjadi karena pada waktu itu banyak anjing hutan yang liar yang hidup di daerah ini. Binatang ini menjadi hewan buruan yang mudah bagi kaum Weddoid yang masih memiliki peralatan dari batu. Namun, kelompok ini sekarang telah lenyap sama sekali, setelah kedatangan imigran baru yang dikenal sebagai Bangsa Proto Melayu atau Melayu Tua (Wojowasito, 1957).

Proto Melayu merupakan imigran kedua yang datang sekitar tahun 3000-1500 SM. Menurut Asmah Haji Omar http://www.amazon.co.uk), peradaban kelompok ini lebih baik dari Negrito, mereka telah pandai membuat alat bercocok tanam, membuat barang pecah belah dan alat-alat perhiasan.

Gorys Keraf (1984) mengatakan bahwa, kelompok imigran ini juga telah mengenal logam, sehingga alat perburuan dan pertanian sudah menggunakan besi.

Karena emas
Emas merupakan penyebab terjadinya salah satu migrasi utama Orang Cina ke Kalbar pada akhir abad ke-18 (Jackson,1970). Dari catatan sejarah, tahun 1745, 20 orang Cina didatangkan dari Brunei oleh Sultan Sambas dan Panembahan Mempawah untuk bekerja pada pertambangan emas, utamanya di Mandor (wilayah Mempawah) dan di Monterado (Sambas). Hasil emas mencapai puncaknya antara tahun 1790 dan 1820.

Pada tahun 1810, produksi emas dari Kalbar melebihi 350.000 troy ons, dengan nilai lebih dari 3,7 juta dollar Spanyol (Raffles, 1817).

Keberhasilan pertambangan emas ini, menyebabkan Sultan Sambas dan Panembahan Mempawah terus mendatangkan Orang Cina, hingga pada tahun 1770 orang Cina sudah mencapai 20.000 orang.

Menghindari perkelahian sesama perantauan setali sedarah, Lo Fong Fak, pimpinan sebuah kongsi di Mandor menyatukan 14 kongsi yang tersebar dan mendirikan sebuah pemerintahan “Republik” Lan Fang pada tahun 1777.

Istilah republik, maksudnya pemimpin yang diambil dari rakyat berdasarkan kesepakatan dan kemampuan, bukan berdasarkan sistem keturunan atau dinasti.

Republik ini berkuasa selama 108 tahun, 1777-1884. Pada masa Presiden Lan Fang ke-10, Presiden Liu Konsin yang berkuasa sejak 1845-1848.

Republik ini pernah melakukan pertempuran dengan Orang Dayak di daerah Mandor, Lamoanak, Lumut, dan sekitarnya, hasilnya Orang Dayak kalah dan sebagian kecil memilih bermigrasi ke hilir Sungai Mandor, hingga akhirnya membentuk pemukiman di wilayah Kesultanan Pontianak. Mereka inilah yang menjadi leluhur Orang Dayak di Sei Ambawang. Perang ini dikenal sebagai “Perang Lamoanak”.

Sebagaimana bangsa lainnya, Orang Dayak sudah mengenal tradisi pertanian sebagai mata pencarian. Dalam mitologinya, sebelum padi dikenal, mereka meramu dan mengumpulkan sagu liar (eugeissona utilis). Sagu liar ini banyak tumbuh di tanah-tanah lembab, dikenal dengan nama rawa-rawa. Mereka mengambil pati dari sagu ini, lalu memelihara tumbuhan sagu, seperti sekarang dilakukan oleh orang Ambawang, Kubu Raya. Untuk mencampur sagu ini, mereka juga mengumpulkan dan memetik “kulat karakng” (sejenis jamur) sebagai makanan pokok kedua.

Karena hasil emas mulai berkurang pada tahun 1820-an dan terus menurun dalam dua dasawarsa berikutnya semakin banyak orang Cina di wilayah Republik Lan Fang yang beralih ke perdagangan dan pertanian dengan menanam padi, sayuran dan beternak babi. Hal ini sesuai dengan penelitian Jessup, bahwa tradisi pertanian, khususnya tanaman padi Orang Dayak setidaknya telah dilakukan sejak tahun 1820-an (Jessup, 1981).

Perkenalkan padi
Tanaman padi mungkin dibawa oleh imigran Cina ini (Bellwodd;1985). Bellwodd mencatat, padi liar dan padi-padian lain telah dibudidayakan di punggung Daerah Aliran Sungai Yangtze yaitu di lahan-lahan basah musiman di sebelah selatan Provinsi Kwang Tung, Fuk Chian, Yun Nan, dan Kwang Sie.

Hal ini cocok dengan sebuah tulisan (Asali;2005;3), yang menjelaskan bahwa imigran Cina yang datang ke Kalbar umumnya dari bagian selatan China, khususnya dari Provinsi Kwang Tung, Fuk Chian, Yun Nan, dan Kwang Sie.

Orang Dayak kemudian berubah dari masyarakat pengumpul sagu liar menjadi masyarakat yang aktiv menanam padi (Ave, J.B., King, V.T, 1986) dan menyelenggarakan siklus pertanian yang sarat ritual (Atok;2003;19). Padi pertama yang ditanam dikenal dengan nama padi antamu’. Oleh Petani Dayak, hingga sekarang jenis padi ini selalu ditanam, istilahnya “Ngidupatn Banih” (melestarikan benih).

Jika merunut sejarah tanaman padi ini, tidaklah mengherankan kalau dalam prosesi perladangan Dayak, dalam siklus tertentu dan keadaan tertentu pula, nyaris mengikuti kalender Cina. Penanggalan Cina amat berpengaruh dalam tradisi perladangan Dayak, hingga hari ini.

Pola pertanian di lahan basah, diyakini juga sebagai warisan Orang Cina di Kalimantan Barat. orang Dayak mengenalnya dengan istilah Papuk/ Gente’/Bancah (sawah). Budaya pertanian ini dibawa kelompok migrasi terakhir dari Provinsi Yun Nan terjadi tahun 1921-1929, ketika di Tiongkok (Cina) terjadi perang saudara.

Saat ini, di berbagai tempat kita masih menjumpai nama sawah berasal dari kata Cina. Di Kampung Nangka, 102 Km dari Pontianak, kita dengan mudah mendapatkan nama tempat berasal dari Cina; Ju Tet, Kubita, Pahui, dan lain-lain.

Ini sekaligus bukti, bahwa pencetakan sawah awalnya diperkenalkan mereka. Latar belakang kelompok imigran baru ini memang kebanyakan petani Orang Hakka.

Selain itu, sejak tahun 1880, orang Cina juga mulai membuka perkebunan lada, gambir dan setelah tahun 1910 memulai perkebunan karet (Hevea brasiliensis;Euphorbiaceae) (lihat Dove,R.Michael;1988) .

Acong, warga Sei Nyirih Selakau-Sambas, menceritakan pada saya bahwa pernah ada sebuah perusahaan besar “KAHIN”, milik Tjiap Sin. Perusahaan ini berdagang gambir, cengkeh, kopra dan lada, dijualnya ke Singapura. Ia memiliki kapal layar besar. Untuk ke Singapura, mereka hanya membutuhkan waktu sekitar 3 hari dari Selakau. Seiring menipisnya hasil Gambir, Cengkeh, Lada dan Kopra, pada tahun 1958, perusahaan ini tutup.

Kebudayaan unik
Pembauran Orang Dayak dengan Orang Cina yang terjadi sejak berabad-abad silam, menurunkan perilaku kebudayaan unik, khususnya peralatan adat istiadat dan hokum adat dalam budaya Dayak. Hari ini, masih dapat kita lihat dari alat-alat peraga adat (dan hukum adat) yang menggunakan keramik-keramik Cina.

Pengaruh ini mungkin hasil dari perdagangan dan hubungan diplomasi mereka dengan bangsa Cina yang sempat tercatat dalam sejarah dinasti Cina dari abad ke-7 sampai abad ke-16. Pedagang Cina menukar keramik, guci anggur dan uang logam dengan hasil-hasil hutan yang dikumpulkan Orang Dayak seperti kayu gaharu, gading burung rangok (enggang), serta sarang burung walet.

Pedagang dari Siam (Thailand) juga membawa guci-guci yang terbuat dari batu yang masih banyak digunakan orang Dayak untuk maskawin dan untuk upacara penguburan (Fridolin Ukur;1992).

Uniknya, pada peristiwa “demonstrasi” yang berlangsung sekitar dua bulan, dari Oktober hingga November 1967, satu titik waktu di mana rezim Orde Lama beralih ke Orde Baru, Orang Dayak menyebarkan ”Mangkok Merah” sebagai media komunikasinya, untuk ”penghukuman sosial” terhadap Cina di pedalaman yang ditengarai berafiliasi dengan gerombolan PGRS/Paraku yang berideologi komunis.

Ratusan ribu Orang Cina harus rela meninggalkan kampung-kampung di pedalaman, di mana sejak ratusan tahun mereka telah berinteraksi positif dengan Orang Dayak.

Tidak cuma itu, istilah keseharian dalam bahasa Cina dengan mudah kita temui dikalangan Orang Dayak. Di Kampung Rees, misalnya hampir semua proses pesta (baik pesta padi, perkawinan, sunatan, dll) istilah-istilah ini muncul. Dari menentukan waktu pesta (penanggalan Cina; ari segol, dll), nama tempat (tapsong, teosong,dll), nama alat (ten, teokang, dll), jenis masakan (saunyuk, tunyuk, dll) hingga prosesi makan (concok). Bahkan,alat-alat pesta maupun alat peraga adat (dan hokum adat) juga menggunakan prototive yang berasal dari Cina, misalnya; tempayan (tapayatn jampa, siam, manyanyi, batu, dll), mangkuk (mangkok), piring (pingatn), sendok (teokang), nampan (pahar), dll.

Dalam tradisi minuman, Cina dalam Dayak juga dapat kita lihat dari tradisi minuman keras, khususnya jenis arak. Sebelumnya Orang Dayak hanya mengenal tuak, yang terbuat dari saripati tanaman aren.

Di Cina, minum arak sudah menjadi budaya yang tak terpisahkan. Oleh karena itu kita mengenal dewa mabuk dalam cerita-cerita kungfu. Arak, selain untuk meramu obat tradisional Cina, yang dikenal sebagai “tajok/pujok” oleh Orang Dayak juga sebagai bahan penyedap. Kini, arak telah menjadi bagian sehari-hari bagi kehidupan Orang Dayak.

Tak cuma itu, Cina dalam Dayak juga dapat dilihat dari persenjataan, khususnya pembuatan senjata api “senjata lantak” sebagai alat berburu dari Orang Cina. Bubuk mesiu ditemukan oleh ahli kimia Cina pada abad ke-9 ketika sedang mencoba membuat ramuan kehidupan abadi. Bubuk mesiu ini dibawa tentara Cina yang menetap di Kalimantan setelah tujuan mereka menghukum Raja Kertanegara.

Banyak bukti bahwa penggunaannya dengan belerang banyak dipakai sebagai obat (Wayne Cocroft; 2000). Sebelum mengenal senjata lantak dan mesiu, senjata untuk berburu di kalangan Orang Dayak masih berupa tombak dan sumpit. Tidak cuma itu, “judi” juga diperkenalkan kelompok etnik ini kepada Orang Dayak. Beragam jenis judi; Liong Fu, Te Fo, Kolok-Kolok, Sung Fu, dan lain-lain sangat digemari Orang Dayak hingga hari ini. Di setiap pesta, keramaian, warung/toko, dengan mudah ita menjumpai jenis-jenis permainan judi ini.

Dan bahkan, kegigihan Orang Cina dalam politik juga menjadi inspirasi bagi Orang Dayak. Sejak tahun 1941, mereka mulai mengembangkan diri dalam perjuangan politik. Sebagaimana diketahui, umumnya kelompok Cina di Kalimantan Barat berasal dari Orang Hakka yang sangat terkenal keuletannya. Orang Hakka lebih independent-minded (berpikiran bebas), lebih mudah melepaskan diri dari tradisi dan menangkap idea baru untuk hidup.
Kegigihan Hakka

Tidak heran, orang Hakka adalah termasuk orang Tionghoa yang cepat mengadopsi ide-ide Barat dibanding dengan yang lain dan mengombinasikannya dengan budaya Hakka. Dan tekanan kepahitan hidup yang mereka rasakan menjadikan mereka lebih mudah menjadi kaum revolusioner, lebih progresif, dan lebih berani maju untuk menuntut pembaruan, dan banyak pelopor-pelopor pembaruan Cina modern berasal dari Hakka.

Fleksibilitas orang Hakka dalam menyerap ide-ide baru, tidak bersikeras untuk mempertahankan tradisi lama yang menghambat, menjadikan Hakka sebagai etnis yang unik dalam sejarah China modern. Bukan kebetulan, kalau pemberontakan terbesar di China pada abad ke-19 yang melibatkan puluhan juta manusia, dan termasuk pemberontakan paling berdarah dalam sejarah kemanusiaan di dunia, dimotori oleh orang Hakka.

Literasi sejarah inilah yang kemudian disambung Orang Hakka di Kalimantan Barat dengan mendirikan sebuah Negara “republic” Lan Fang tahun 1777-1884. Selama Kolonial Belanda, republic ini pernah 2 kali berperang dengan Belanda, yakni tahun 1854-1856 dan tahun 1914-1916. Perang itu dinamakan “Perang Kenceng” oleh masyarakat Kalbar.

Sikap revolusioner Orang Cina juga muncul ketika Jepang menduduki Pontianak tahun 1941. Sekelompok Cina mendirikan organisasi bawah tanah dan menyiapkan diri untuk perang terbuka, namun niat ini menjadi hilang ketika hadir ”tragedi mandor”, sebuah pembunuhan massal oleh Jepang di Mandor, bekas ibukota Republik Lan Fang.

Orang Cina kehilangan banyak sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu secara ekonomi. Dan karena sikap yang cenderung bersahabat dengan Orang Dayak, melalui Partai Persatuan Daya (PD), membuat sebagian elit Orang Cina yang lolos dari ”penyungkupan” berhasil mengkonsolidasi kekuatan politiknya, dan pada pemilu 1955 dan pemilu 1958, kelompok ini menang.

Hal ini kemudian mengantarkan JC Oevaang Oeray, tokoh Dayak asal Hulu Kapuas menjadi Gubernur Kalimantan Barat dan berhasil menempatkan dirinya sebagai representasi kelompok etnik yang berkuasa selama delapan tahun.

Di pergantian rezim Orde Lama ke rezim Orde Baru, hubungan Cina-Dayak terganggu dengan munculnya peristiwa “demonstrasi”, persahabatan sirna dan akibatnya puluhan ribu orang Cina harus rela “keluar” dari teritori Dayak dan mengkonsentrasikan diri di kawasan pesisir, yang selama ini menjadi teritori “Melayu”.

41 tahun terabaikan, di pengujung tahun 2007, konsolidasi politik Orang Cina dan Orang Dayak menemukan klimaksnya, mereka kembali menempatkan dirinya sebagai representasi kelompok etnik yang berkuasa di Kalimantan Barat.

Penutup
Jika merujuk pada fakta budaya pada kelompok etnik Dayak Mampawah di atas, bagi saya, kemungkinan besar budaya Dayak sekarang ini merupakan hasil inkulturasi budaya Cina, walaupun kenyataannya menjadi budaya yang diakui sebagai tradisi Dayak.

Mungkin saja, contoh di atas hanyalah contoh kecil dari inkulturasi Cina dalam Dayak. Saya memahami bahwa kebudayaan itu selalu bersifat dinamis, namun fakta bahwa tatanan sosial dan tradisi Dayak telah berinkulturasi secara tajam dan dalam dengan budaya Cina. Cina benar-benar telah masuk dalam diri Dayak, di berbagai bidang kehidupan, hingga hari ini.

Penulis: Yohanes Supriyadi, SE (Ketua Palma Institute)
Sumber: Equator-news.com
Minggu, 12 Juni 2011
Diakses: 15 November 2011 | 22:58
Didokumentasikan: 15 November 2011 | 22:58

Sumber : http://www.kalbariana.net/inkulturasi-tionghoa-di-dayak-mempawah




Iklan

Sungai Panjang dan Besar di Kalimantan

Hasilkan uang dari Blogmu, Klik Tautan dibawah ini
ACCESS TRADE REGISTER NOW!

penghasil uang terpercaya
ACCESS TRADE
1. Sungai Kapuas-Kalimantan (1.143 km)
Sungai Kapuas atau sungai batang Lawai (Laue) merupakan sungai yang berada di Kalimantan Barat. Sungai ini merupakan rumah dari lebih 300 jenis ikan. Belakangan ini sungai ini tercemar berat, akibat aktivitas penambangan emas di sungai ini. Walaupun telah mengalami pencemaran Sungai Kapuas tetap menjadi urat nadi bagi kehidupan masyarakat di sepanjang aliran sungai ini. Sebagai sarana transportasi yang murah, Sungai Kapuas dapat menghubungkan daerah satu ke daerah lain di wilayah Kalimantan Barat. Dan selain itu juga merupakan sumber mata pencaharian untuk menambah penghasilan keluarga dengan menjadi penangkap ikan.


2. Sungai Mahakam (920 km)
Mahakam merupakan nama sebuah sungai terbesar di provinsi Kalimantan Timur yang bermuara di Selat Makassar. Sungai dengan panjang sekitar 920 km ini melintasi wilayah Kabupaten Kutai Barat di bagian hulu, hingga Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda di bagian hilir. Di sungai hidup spesies mamalia ikan air tawar yang terancam punah, yakni Pesut Mahakam.
Sungai Mahakam sejak dulu hingga saat ini memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat di sekitarnya sebagai sumber air, potensi perikanan maupun sebagai prasarana transportasi.




3. Sungai Barito-Kalimantan (704 km)
Sungai Barito atau sungai Banjar Besar atau Sungai Banjarmasin adalah wilayah di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Barito. Nama Barito diambil berdasarkan nama daerah Barito yang berada di hulu termasuk wilayah provinsi Kalimantan Tengah, tetapi sering dipakai untuk menamakan seluruh daerah aliran sungai ini hingga ke muaranya pada Laut Jawa di Kalimantan Selatan yang dinamakan Muara Banjar/Kuala Banjar. Sungai Barito disebut juga Sungai Banjar (Banjar river) atau Sungai Cina (China river).

Siapakah Pribumi Asli Nusantara ?

oleh Tim Wacana Nusantara
21 March 2009
Kembali ke masa prasejarah, penduduk wilayah Nusantara hanya terdiri dari dua golongan yakni Pithecantropus Erectus beserta manusia Indonesia purba lainnya dan keturunan bangsa pendatang di luar Nusantara yang datang dalam beberapa gelombang.
Berdasarkan fosil-fosil yang telah ditemukan di wilayah Indonesia, dapat dipastikan bahwa sejak 2.000.000 (dua juta) tahun yang lalu wilayah ini telah dihuni. Penghuninya adalah manusia-manusia purba dengan kebudayaan batu tua atau mesolithicum seperti Meganthropus Palaeo Javanicus, Pithecanthropus Erectus, Homo Soloensis dan sebagainya. Manusia-manusia purba ini sesungguhnya lebih mirip dengan manusia-manusia yang kini dikenal sebagai penduduk asli Australia.

Dengan demikian, yang berhak mengklaim dirinya sebagai “penduduk asli Indonesia” adalah kaum Negroid, atau Austroloid, yang berkulit hitam. Manusia Indonesia purba membawa kebudayaan batu tua atau palaeolitikum yang masih hidup secara nomaden atau berpindah dengan mata pencaharian berburu binatang dan meramu. Wilayah Nusantara kemudian kedatangan bangsa Melanesoide yang berasal dari teluk Tonkin, tepatnya dari Bacson-Hoabinh. Dari artefak-artefak yang ditemukan di tempat asalnya menunjukan bahwa induk bangsa ini berkulit hitam berbadan kecil dan termasuk type Veddoid-Austrolaid.
Bangsa Melanesoide dengan kebudayaan mesolitikum yang sudah mulai hidup menetap dalam kelompok, sudah mengenal api, meramu dan berburu binatang.Teknologi pertanian juga sudah mereka genggam sekalipun mereka belum dapat menjaga agar satu bidang tanah dapat ditanami berkali-kali. Cara bertani mereka masih dengan sistem perladangan. Dengan demikian, mereka harus berpindah ketika lahan yang lama tidak bisa ditanami lagi atau karena habisnya makanan ternak. Gaya hidup ini dinamakan semi nomaden. Dalam setiap perpindahan manusia beserta kebudayaan yang datang ke Nusantara, selalu dilakukan oleh bangsa yang tingkat peradabannya lebih tinggi dari bangsa yang datang sebelumnya.
Dari semua gelombang pendatang dapat dilihat bahwa mereka adalah bangsa-bangsa yang mulai bahkan telah menetap. Jika kehidupannya mereka masih berpindah, maka perpindahan bukanlah sesuatu hal yang aneh. Namun dalam kehidupan yang telah menetap, pilihan untuk meninggalkan daerah asal bukan tanpa alasan yang kuat. Ketika kehidupan mulai menetap maka yang pertama dan yang paling dibutuhkan adalah tanah sebagai media untuk tetap hidup. Mereka sangat membutuhkan tanah yang luas karena teknologi pertaniannya masih rendah. Mereka belum sanggup menjaga, apalagi meningkatkan, kesuburan tanah. Mereka membutuhkan sistem pertanian yang ekstensif, dan perpindahan untuk penguasaan lahan-lahan baru setiap jangka waktu tertentu. Sebelum didatangi bangsa-bangsa pengembara dari luar, tanah di Nusantara belum menjadi kepemilikan siapapun.
Hal ini berbeda dengan Manusia Indonesia Purba yang tidak memerlukan tanah sebagai modal untuk hidup karena mereka berpindah-pindah. Ketika sampai di satu tempat yang dilakukannya adalah mengumpulkan makanan (food gathering). Biasanya tempat yang dituju adalah lembah-lembah atau wilayah yang terdapat aliran sungai untuk mendapatkan ikan atau kerang (terbukti dengan ditemukannya fosil-fosil manusia purba di wilayah Nusantara di lembah-lembah sungai) walaupun tidak tertutup kemungkinan ada pula yang memilih mencari di pedalaman. Ketika bangsa Melanesoide datang, mereka mulai menetap walaupun semi nomaden. Mereka akan pindah jika sudah tidak mendapatkan lagi makanan. Maka pilihan atas tempat-tempat yang akan ditempatinya adalah tanah yang banyak menghasilkan. Wilayah aliran sungai pula yang akan menjadi targetannya. Padahal, wilayah ini adalah juga wilayah di mana para penduduk asli mengumpulkan makanannya.
Ini mengakibatkan benturan yang tidak terelakan antara kebudayaan palaeolithikum dengan kebudayaan yang mesolithikum. Alat-alat sederhana seperti kapak genggam atau choppers, alat-alat tulang dan tanduk rusa berhadapan dengan kapak genggam yang lebih halus atau febble, kapak pendek dan sebagainya. Pertemuan ini dapat mengakibatkan beberapa hal yaitu:
1. Penduduk asli ditumpas, atau
2. Mereka diharuskan masuk dan bersembunyi di pedalaman untuk menyelamatkan diri, atau
3. Mereka yang ditaklukkan dijadikan hamba, dan kaum perempuannya dijadikan harem-harem untuk melayani para pemenang perang.

Sekitar tahun 2000 SM, bangsa Melanesoide yang akhirnya menetap di Nusantara kedatangan pula bangsa yang kebudayaannya lebih tinggi yang berasal dari rumpun Melayu Austronesia yakni bangsa Melayu Tua atau Proto Melayu, suatu ras mongoloid yang berasal dari daerah Yunan, dekat lembah sungai Yang Tze, Cina Selatan. Alasan-alasan yang me-nyebabkan bangsa Melayu tua meninggalkan asalnya yaitu :
1. Adanya desakan suku-suku liar yang datangnya dari Asia Tengah;
2. Adanya peperangan antar suku;
3. Adanya bencana alam berupa banjir akibat sering meluapnya sungai She Kiang dan sungai-sungai lainnya di daerah tersebut.

Suku-suku dari Asia tengah yakni Bangsa Aria yang mendesak Bangsa Melayu Tua sudah pasti memiliki tingkat kebudayaan yang lebih tinggi lagi. Bangsa Melayu Tua yang terdesak meninggalkan Yunan dan yang tetap tinggal bercampur dengan Bangsa Aria dan Mongol. Dari artefak yang ditemukan yang berasal dari bangsa ini yaitu kapak lonjong dan kapak persegi.Kapak lonjong dan kapak persegi ini adalah bagian dari kebudayaan Neolitikum. Ini berarti orang-orang Melayu Tua, telah mengenal budaya bercocok tanam yang cukup maju dan bukan mustahil mereka sudah beternak. Dengan demikian mereka telah dapat menghasilkan makanan sendiri (food producing). Kemampuan ini membuat mereka dapat menetap secara lebih permanen.
Pola menetap ini mengharuskan mereka untuk mengembangkan berbagai jenis kebudayaan awal. Mereka juga mulai membangun satu sistem politik dan pengorganisasian untuk mengatur pemukiman mereka.
Pengorganisasian ini membuat mereka sanggup belajar membuat peralatan rumah tangga dari tanah dan berbagai peralatan lain dengan lebih baik. Mereka mengenal adanya sistim kepercayaan untuk membantu menjelaskan gejala alam yang ada sehubungan dengan pertanian mereka. Sama seperti yang terjadi terdahulu, pertemuan dua peradaban yang berbeda kepentingan ini, mau tidak mau, melahirkan peperangan-peperangan untuk memperebutkan tanah. Dengan pengorganisiran yang lebih rapi dan peralatan yang lebih bermutu, kaum pendatang dapat mengalahkan penduduk asli. Kebudayaan yang mereka usung kemudian menggantikan kebudayaan penduduk asli. Sisa-sisa pengusung kebudayaan Batu Tua kemudian menyingkir ke pedalaman. Beberapa suku bangsa merupakan keturunan dari para pelarian ini, seperti suku Sakai, Kubu, dan Anak Dalam.
Arus pendatang tidak hanya datang dalam sekali saja. Pihak-pihak yang kalah dalam perebutan tanah di daerah asalnya akan mencari tanah-tanah di wilayah lain. Demikian juga yang menimpa bangsa Melayu Tua yang sudah mengenal bercocok tanam, beternak dan menetap. Kembali lagi, daerah subur dengan aliran sungai atau mata air menjadi incaran.
Wilayah yang sudah mulai ditempati oleh bangsa melanesoide harus diperjuangkan untuk dipertahankan dari bangsa Melayu Tua.Tuntutan budaya yang sudah menetap mengharuskan mereka mencari tanah baru. Dengan modal kebudayaan yang lebih tinggi, bangsa Melanesoide harus menerima kenyataan bahwa telah ada bangsa penguasa baru yang menempati wilayah mereka.
Namun kedatangan bangsa Melayu Tua ini juga memungkinkan terjadinya percampuran darah antara bangsa ini dengan bangsa Melanesia yang telah terlebih dahulu datang di Nusantara. Bangsa Melanesia yang tidak bercampur terdesak dan mengasingkan diri ke pedalaman. Sisa keturunannya sekarang dapat didapati orang-orang Sakai di Siak, Suku Kubu serta Anak Dalam di Jambi dan Sumatera Selatan, orang Semang di pedalaman Malaya, orang Aeta di pedalaman Philipina, orang-orang Papua Melanesoide di Irian dan pulau-pulau Melanesia.
Pada gelombang migrasi kedua dari Yunan di tahun 2000-300 SM, datanglah orang-orang Melayu Tua yang telah bercampur dengan bangsa Aria di daratan Yunan. Mereka disebut orang Melayu Muda atau Deutero Melayu dengan kebudayaan perunggunya. Kebudayaan ini lebih tinggi lagi dari kebudayaan Batu Muda yang telah ada karena telah mengenal logam sebagai alat perkakas hidup dan alat produksi. Kedatangan bangsa Melayu Muda mengakibatkan bangsa Melayu Tua yang tadinya hidup di sekitar aliran sungai dan pantai terdesak pula ke pedalaman karena kebudayaannya kalah maju dari bangsa Melayu Muda dan kebudayaannya tidak banyak berubah. Sisa-sisa keturunan bangsa melayu tua banyak ditemukan di daerah pedalaman seperti suku Dayak, Toraja, orang Nias, batak pedalaman, Orang Kubu dan orang Sasak. Dengan menguasai tanah, Bangsa Melayu Muda dapat berkembang dengan pesat kebudayaannya bahkan menjadi penyumbang terbesar untuk cikal-bakal bangsa Indonesia sekarang.
Dari seluruh pendatang yang pindah dalam kurun waktu ribuan tahun tersebut tidak seluruhnya menetap di Nusantara. Ada juga yang kembali bergerak ke arah Cina Selatan dan kemudian kembali ke kampung halaman dengan membawa kebudayaan setempat atau kembali ke Nusantara. Dalam kedatangan-kedatangan tersebut penduduk yang lebih tua menyerap bahasa dan adat para imigran. Jarang terjadi pemusnahan dan pengusiran bahkan tidak ada penggantian penduduk secara besar-besaran. Percampuran-percampuran inilah yang menjadi cikal bakal Nusantara yang telah menjadi titik pertemuan dari ras kuning (mongoloid) yang bermigrasi ke selatan dari Yunan, ras hitam yang dimiliki oleh bangsa Melanesoide dan Ceylon dan ras putih anak benua India.
Sehingga tidak ada penduduk atau ras asli wilayah Nusantara kecuali para manusia purba yang ditemukan fosil-fosilnya. Kalaupun memang ada penduduk asli Indonesia maka ia terdesak terus oleh pendatang-pendatang boyongan sehingga secara historis-etnologis terpaksa punah atau dipunahkan dalam arti sesungguhnya atau kehilangan ciri-ciri kebudayaannya dan terlebur di dalam masyarakat baru. Semua adalah bangsa-bangsa pendatang.

Kepustakaan

D. G. E. Hall. 1988Sejarah Asia Tenggara. . Surabaya-Usaha Nasional.
Stanley. 1998Makalah Arus Dari Utara. Tidak diterbitkan
Simbolon, T. Parakitri. 1995.. Menjadi Indonesia, buku I “Akar-akar kebangsaan Indonesia”. Jakarta-Kompas-Grasindo.
Prijohutomo & P.J. Reimer. Tentang Orang dan Kejadian Jang Besar Djilid I. Tjet.V. Djakarta-Amnsterdam: W.Versluys N.V.
Ananta Toer, Pramoedya.1998. Hoakiau di Indonesia. Jakarta-Garba Budaya.

(Sumber: http://wacananusantara.org/content/view/category/2/id/261)
DiambiL dari.. http://suciptoardi.wordpress.com/2009/03/22/siapakah-pribumi-asli-nusantara/#comment-4997

Kebudayaan Dayak Tunjung

B. Kebudayaan Fisik
1. Makanan/Minuman
Makanan khas suku Dayak Tunjung ada bermacam-macam dimana makanan tradisional ini selalu disajikan pada saat dilakukan acara perkawinan, acara kematian maupun acara syukuran.
• Tumpiiq
• Lemang


Lemang atau Solok dalam bahasa Dayak Tunjung merupakan salah satu makanan yang selalu ada dalam setiap acara yang diselenggarakan masyarakat Dayak Tunjung. Lemang ini terbuat dari beras ketan yang dimasak menggunakan bamboo yang dibakar menggunakan api.

• Tuak

Namun pada masa sekarang Tuaq sudah sangat jarang dihidang kan dalam acara-acara adat..

2. Pakaian

Pakaian tradisional ada beraneka macam warna. Ada yang berwarna Kuning, Merah, Biru, Hijau atau pun capuran dari warna-warna diatas. Pada bagian kepala biasanya menggunakan ikat kepala berwarna merah-putih (ada juga warna lain). Sedangkan baju biasanya terdapat ukiran-ukiran yang terbuat dari manic-manik maupun serat kulit kayu (Jomook). Untuk bagian bawah, Wanita menggunakan Ketau semacam kain yang dilingkarkan sepanjang kaki yang diikatkan di pinggang, sedangkan kaum pria menggunakan cawat seperti Dayak pada umumnya.

3. Kerajinan Tangan Tradisional
• Tas-tas manic
• Tas-tas rotan
• Seraung

4. Senjata Tradisional (Mandau)

C. Kebudayaan Non Fisik
1. Sistem Kemasyarakatan
System kemasyarakatan yang berlaku pada masa sekarang adalah system pemerintahan yang dianut setelah bangsa Indonesia merdeka yaitu:
a. Kepala kampung
b. Wakil kepala kampung
c. Sekretaris dan bendaraha
d. Kepala adat
e. Pengerak dan ketua padang : sebagai pembantu staff kelurahan
f. Rukun tetangga (RT)
g. Lembaga sosial desa (LSD)
h. PErtahanan sipil (Hansip)

2. Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian
Mayoritas system mata pencaharian Suku Dayak Tunjung adal bertani dan berladang dimana hal ini disesuaikan dengan kondisi geografis setempat yang berhutan lebat. Selain berladang, ada juga sebagian orang yang berprofesi sebagai pedagang, pegawai pemerintah, guru dan karyawan swasta, bahkan bupati yang sekarang menjabat adalah orang asli Suku Dayak Tunjung.

3. Sistem Kekerabatan
System kekerabatan yang dianut Suku Dayak Tunjung adalah Sistem dengan Prinsip Keturunan Ambilineal, yaitu system yang menghitung keturunan hubungan kekerabatan berdasarkan garis keturunan dari ayah dan ibu. Adapun sopan santun pergaulan dalam kekerabatan Suku Dayak Tunjung menunjukan hubungan pergaulan antara orang yang tua dan yang muda dimana yang muda menghormati orang yang lebih tua.
Kadang yang dihormati atau lebih dihormati adalah dari orang tuanya sendiri adalah mertuanya. Kepatuhan pada mertua tampak pada hal-hal patuh pada omongannya, berpantang memakai pakaian mertuanya, menyebut nama mertuanya, duduk berdampingan atau berhadapan dengan mertuanya sambil bercakap-cakap.

4. Sistem Religi
Agama asli Suku Dayak Tunjung dapat disebutkan termasuk dalam golongan Animisme. Dasar kepercayaan mereka adalah adanya roh-roh. Roh ini terbagi dalam dua bagian yaitu roh yang baik dan roh yang jahat.
Namun pada masa sekarang kepercayaan ini mulai ditiggalkan dimana masyarakat Suku Dayak Tunjung sudah memeluk Agama. Mayoritas Suku Dayak Tunjung menganut Kristen Protestas (50%), Khatolik (35%), Agama Asli (Kharingan) 10 (%), Islam (5%) orang Tunjung yang menganut Islam adalah yang menikah dengan Orang Halok .

5. Sistem Pelapisan Sosial
Dalam masyarakat Suku Dayak Tunjung terdapat system pelapisan sosial yang membedakan derajat Masyarakatnya. Ada tiga tingkat pelapisan sosial yaitu:
a. Golongan Mantiq : Mantiq merupaka golongan bangsawan dalam masyarakat Suku Dayak Tunjung yang diberi hak untuk memerintah dan memimpin serta harus dipatuhi. Bilamana tidak dipatuhi maka akan celaka. Ketentuan golongan ini ditentukan secara historis atau turun temurun berdasarkan garis keturunan.
b. Golongan Aji : Golongan ini adalah lapisan masyarakat biasa. Menurut cerita dongeng atau mitologi, golongan ini adalah keturunan Kilip
c. Golongan Rivat (Budak) : golongan ini sudah tidak ada lagi tetapi orang-orang masih dapat menyebutkan siapa-siapa bekas dari golongan itu. Dahulu orang yang ditangkap dalam peperangan terhadap suku lain dari sub suku sendiri yang dianggap sudah menjadi ketetapan Dewa ia tergolong dalam kelas ini

Sistem pelapisan sosial pada masa modern ini sudah tidak berlaku lagi. Semua masyarakat Dayak Tunjung itu sama dan tidak ada yang membedakan dari segi pelapisan sosial.




TOHOQ-KWANGKAI, UPACARA KEMATIAN SUKU DAYAK TUNJUNG

UPACARA KEMATIAN SUKU DAYAK TUNJUNG
TOHOOQ-KWANGKAI

A. Latar Belakang Sosial-Budaya Suku Dayak Tunjung
1. Lokasi Suku Dayak Tunjung
Suku Dayak Tunjung merupakan salah satu Anak Sub Suku Dayak yang mendiami sebuah tempat Dataran Tinggi yang disebut Dataran Tunjung yang berada di wilayah Kabupaten Kutai Barat, sebagian kecil di wilayah Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Suku Dayak Tunjung bermukim di wliayah Kecamatan Melak, Kec Barong Tongkok, Kec Sekolaq Darat, Kec Linggang Bigung, Kec Kembang Janggut, Kec Manoor Bulan, Kec Muara Pahuq, Kec Kota Bangun.
Wilayah yang didiami Suku Dayak Tunjung ini berhutan lebat, hutan primer yang banyak menghasilkan bermacam-macam kayu dan hasil hutan lainnya seperti : rotan, dammar, sarang burung wallet, bermacam-macam anggrek, buah-buahan dan sayur-sayuran. Sedangkan flora dan fauna seperti : orang utan, kera, babi, rusa, burung-burung dan ular.

2. Asal Usul Sejarah Suku Dayak Tunjung
Tidak ada data tertulis yang menyatakan asal usul Suku Dayak di Kalimantan, Suku Dayak Tunjung Khususnya dikarenakan Suku Dayak pada zaman dahulu tidak mengenal tulisan. Namun kita dapat mengetahuinya dari cerita-cerita rakyat yang diturunkan secara turun temurun.
Menurut Ceriteranya, Suku Dayak Tunjung ini berasal dari Khayangan, yaitu Dewa-Dewa yang menjelma kedunia sebagai manusia untuk memperbaiki dunia yang sedang rusak. Menurut Suku Dayak Tunjung, ama asli mereka Adalah Tonyooi Risitn Tunjung Bangka’as Malik’ng Panguru’q Ulak Alas yang berarti Suku Tunjung adalah pahlawan yang berfungsi sebagai dewa pelindung.
Suku Dayak Tunjung pada zaman dahulu memiliki sebuah bentuk Kerajaan namun hancur ketika masuknya pendudukan Jepang ke Indonesia. Menurut mereka, Raja-raja Suku Dayak Tunjung ini berasal dari langit dengan sang penciptanya yang disebut dengan Nayuk Sanghyang Juata Tonyooi. Akhir Dari Kerajaan Tunjung ini ialah bersama-sama dengan Kerajaan Kutai menggabungkan diri dengan Pemerintaha Indonesia.
Pada awalnya, seluruh masyarakat Suku Dayak Tunjung tinggal disebuah daerah yang bernama Sendawar (Sentawar dalam bahasa Dayak Tunjung). Namun pada zaman pemerintahan Jepang, karena perlakukan yang sangat menindas mereka, sehingga Suku Dayak Tunjung ini sangat tertekan sehingga mereka meninggalkan Kampung halaman dan menyebar kedaerah-daerah lain. Akibat penybaran itu terjadilah sedikit perbedaan logaat bahasa dan wujud kebudayaan, namun tidak begitu mendasar. Suku Dayak Tunjung setelah menyebar itu menyebabkan terwujudnya dengan sendirinya bermacam-macam jenis seperti :
a) Tunjung Bubut, mereka mendiami daerah Asa, Juhan Asa, baloq Asa, Pepas Asa, Juaq Asa, Muara Asa, Ongko Asa, Ombau Asa, Ngenyan Asa, Gemuhan Asa, Kelumpang dan sekitarnya.
b) Tunjung Asli, Mendiami daerah Geleo (baru dan Lama)
c) Tunjung Bahau, Mendiami Barong Tongkok, Sekolaq Darat, Sekolaq Muliaq, Sekolaq Oday, Sekolaq Joleq dan sekitarnya.
d) Tunjung Hilir, mendiami wilayah Empas, Empakuq, Bunyut, Kuangan dan sekitarnya.
e) Tunjung Lonokng, mendiami daerah seberang Mahakam yaitu Gemuruh, Sekong Rotoq, Sakaq Tada, Gadur dan sekitarnya.
f) Tunjung Linggang, mendiami didaerah dataran Linggang seperti Linggang Bigung, Linggang Melapeh, Linggang Amer, Linggang Mapan, Linggang Kebut, Linggang Marimun, Muara Leban, Muara Mujan, Tering, Jelemuq, lakan bilem, into lingau, muara batuq dan wilayah sekitarnya.
g) Tunjung Berambai, mendiami Wilayah hilir sungai Mahakam seperti Muara Pahu, Abit, Selais, Muara Jawaq, Kota Bangun, Enggelam, Lamin Telihan, Kemabgn janggut, Kelkat, dan Pulau Pinang

B. Maksud Dan Tujuan Upacara Kematian.
Pada dasarnya, Upacara Kematian ini dilaksanakan agar arwah orang yang telah meninggal diantarkan ke alam baka yang disebut Gunung Lumut dan hidup tentram ditempat tersebut tanpa mengganggu anak-cucu dan para keluarga yang ditinggalkan. Roh orang yang telah meninggal harus diantar ke Gunung Lumut yaitu dilakukan Upacara pengantaran arwah ke gunung Lumut.
Pada Upacara kematian ini dilaksanakan tarian yang disebut dengan tarian Calan’t Caruuq. Tarian ini dimaksudkan untuk membuka jalan ke Gunung Lumut bagi para roh yang telah meninggal agar tidak tersesat.
Suasana religious menguasai alam pikiran masyarakat Suku Dayak Tunjung. Kepercayaan akan kebahagian bagi Suku Dayak Tunjung di Puncak Gunung Lumut (kebahagiaan abadi) dan kepercayaan pada alam gaib serta hubungan manusia dengan roh-roh inilah yang yang membawa Suku Dayak Tunjung mengadakan Upacara Adat Kematian ini.

C. Persiapan Upacara
Persiapan upacara ini dimulai sesaat setelah ada orang meninggal yaitu dengan memukul tambur yang disebut dengan Neruak dan kemudian Gong yang disebut Titi. Setelah mendengar bunyi Titi, orang-orang kemudian berkumpul di rumah tempat orang meninggal. Orang yang memimpin Upacara ini dari awal hingga selesai adalah Penyentagih.
Perisapan lain adalah:
• Air : Air digunakan untuk memandikan mayat.
• Ayam : Ayam diambil darahnya yang digunakan untuk membuat titik-titik pada bagian tubuh orang yang meninggal
• Kepingan Uang Logam: Uang logam diletakan pada kedua belah mata, telapak tangan dan dadanya. Jadi jumlahnya ada 6 buah. Ini dilakukan jika yang meninggal adalah pria. Jika yang meninggal adalah wanita maka harus dipersiapkan anting-anting, gelang, kalung dan lain-lain.
• Kain Batik : Kain batik digunakan untuk pembungkus, banyaknya jumlah kain tergantung dari kemampuan orang yang meninggal, selain itu Tirai yang terbiat dari kain juga dipersapkan
• Lungun : Semacam peti mati yang terbuat dari pohon buah-buahan. (biasanya pohon Durian.)
• Seperangkat Alat Musik : alat music ini biasanya terdiri dari Sembilan buah gong, satu tambur dan satu set kelentangan. Alat music ini dibunyikan pada saat mayat dimasukkan dalam Lungun
• Makanan: makanan juga dipersiapkan di dalam Lungun sebagai bekal perjalanan menuju Gunung Lumut.
• Perlengkapan Pria : Mandau, Taji, Piring, Mangkok dan peralatan lain untuk pria
• Perlengkapan Wanita : Pisau, Piring, Mangkok, Perhiasan dan peralatan lain untuk wanita

D. Jalan Upacara Kematian Selengkapnya
Dalam menjalankan ritual Upacara Adat Kematian, Suku Dayak tunjung mengenal 2 jenis Upacara yang tidak harus dilaksanakan semua tergantung dari kemampuan masing-masing keluarga, jadi kedua jenis upacara itu merupakan satu kesatuan Upacara. Jenis-jenis upacar itu adalah :
1. Upacara Tohoq
Upacara Tohoq adalah upacara yang dilaksanakan bagi orang yang baru meninggal setelah enam/lima hari sesudah mayat dimasukan kedalam Lungun. Aturan lagu ini adalah bila yang meninggal perempuan, maka upacara ini dilaksanakan selama lima hari, tetapi jika yang meninggal pria upacara ini dilaksanakan selama enam hari.
Hari Pertama (Nau Neruak) : Kebiasaan Neruak, yaitu jika ada orang yang meninggal mereka memukul tambur sebagai tanda bahwa ada orang yang meninggal, kemdian disusul dengan titi, yaitu orang yang memukul gong secara sahut-sahutan seteleah nyawa lenyap dari jasad. Bersama denga berlupangnya seseorang kealam baka, maka akan terdengar suara ratap tangis keluarga yang ditinggali dimana ratap tangis ini berisikan kata-kata yang sedih didengar yang ditujukan kepada orang yang baru meninggal tersebut. Menagisi orang yang telah meniggal disebut Ngurik’ng. Setelah banyak orang yang datang, sebagian dari mereka mengambil air sungai, sementara itu gong berhenti berbunyi dan ketika mereka mulai memandikan mayat, gong dibunyikan kembali sampai upacara pemandian Mayat selesai dilakukan.
Setelah selesai memandikan mayat, orang mati diberi Patik, yaitu membuat titik-titik dengan darah ayam yang telah dipersiapkan sebelumnya pada muka, bagian badan, kedua lengan, dan kedua kakinya. Tanda Patik ini dipercaya agar roh-roh atau arwah-arwah lainnya dapat mengenali bahwa orang tersebut telah meninggal.
Mayat yang telah meniggal dibungkus dengan kain batik sebanyak 7 lapis, pada keluarga yang berada, jumlah kain ini dapat dikalikan 2 yaitu 14, 21, 27 lapis.
Hari Ke-2 (Nau Intakng) : hari ini deisbut juga dengan hari pembuatan Lungun (peti kubur yang terbuat dari batang kayu yang besar)
Hari Ke-3 (Nau Petamaq Bangkai) : Pada saat memasukkan mayat kedalam Lungun sebagai pengiringnya orang membunikan seperangkat alat music yang disesuaikan dengan irama yang khas bagi upacara kematian yang disebut dengan Dongkeq.
Hari Ke-4 (Malam Penyentagih) : penyentagih berarti orang yang khusus memimpin upacara untuk mengantar roh orang yang telah mati. Pada malam penyentagih ini, si penyentagih ini meriwayatkan orang yang meningal sejak ia kecil hingga orang itu mati kemudian diantar ke gunung lumut.
Hari Ke-5 (Nau Nyolook) : nylook berasal dari kata solook yang berarti lemang (beras ketan yang dibungkus dengan dau pisang. Pihak keluarga yang ditinggalkan membuat lemang, tumpiq dan lain2 untuk persediaan pada hari berikutnya yaitu untuk mengadakan acara syukuran bersama para tamu dan keluarga yang datang.
HariKe-6 (Tohoq/Param Apui) : hari ini merupakan puncak acara upacara adat kematian. Pada hari ini sanak saudara datang membawa bahan makanan seperti beras, beras ketan, ayam, babi dll yang bermaskud sumbangan bagi keluarga yang ditimpa kesusahan. Pada hari ini juga dilakukan pemadaman api, jadi segala api yang ada di didalam rumah maupun luar rumah harus dipadamkan. Menurut pandangan Suku Dayak Tunjung dengan dipadamkannya api berarti kematoan sudah berakhir dan tidak ada kelanjutan lagi.
Hari Ke-7 (Nau Ngelubakng) : hari ini disebut juga denga hari penguburan. Dimasyarakat suku Dayak Tunjung dikenal 2 jenis penguburan:
– Sistim Garai (Templaaq ), yaiut lungun dimasukan kedalam sebuah rumah kecil yang ukurannya disesuaikan dengan ukuran lungun. Tingginya kurang lebih 2 meter.
– Sistim kubur Lungun dimasukan kedalam tanah yang dibuat berdinding seperti pagar, kemudian ditutupi dengan papan dan ditimbuni tanah. Pada atasnya diberi batu atau nisan.

2. Upacara Kwangkai
Kwangkai berarti adat bangkai mai atau adat bagi orang yang telah lama meninggal. Maksud dari upacara Kwangkai adalah memindahkan tulang-tulang pemakaman terdahulu pada upacara tohooq ke pemakaman yang terlebih dahulu dibawa kedalam Lamin (rumah adat) dan diadakan upacara Kwangkai
Kwangkai adalah Upacara adat terbesar atau bisa dikatakan dengan sebutan Pesta Kematian karena pada saat ini seluruh masyarakat akan memenuhi kampung dalam suasana yang benarbenar pesta. Banyak orang yang berasal dari kampung lain datang untuk menghadiri acara ini.

Hari Ke-1 (Nau Nengaq Uman) : Hari pertama adalah hari persiapan dimana orang mulai menyemblih binatang-binatang korban seperti babi,ayam,serta membuat lemang, kue tumpiq, dll.
Hari Ke-2 sampai hari ke-6 (Tingaaq) : Tingaq merupakan suatu rangkaian nyanyian-nyanyian yang menceritakan perjalanan mereka mengantarkan roh kealam baka. Tingaq ini berlangsung sampai hari keenam dimana dilakukan setiap malam berturut-turut.
Hari Ke-7 (Nau Netak Biyoyak’ng) : netak Biyoyakng berarti hari dimana orang mulai memotong serat kayu atau jomok yang dipergunakan untuk ikat kepala pada waktu menari tarian khusus untuk tarian kematian, Ngerangkau. Ikat kepala ini biasanya berjumlah empat puluh buah. Ikat kepala ini dalam bahasa Dayak Tunjung adalah Laung Biyoyang. Selain ikat kepala, mereka juga mengenakan Ketau Putiiq (Tapeh Putih) dan Sapai Putiiq (Baju Putih).
Hari Ke-8 (Nau Pesagaaq Beluntak’ng ) : maksudnya adalah penyesuaian dengan patung yang telah dipilih (Belontakng).
Hari Ke-9 (Nau Molaaq Beluntak’ng) : Hari ini disebut juga dengan penanaman Beluntang di dalam tanah. Panjang beluntakng biasanya tiga sampai empat meter yang terbuat dari kayu besi (kayu ulin) dipahat mntuk menyerupai bentuk manusia dan binatang yang dihias denga ukiran-ukiran. Beluntang yang ditanam menghadap kebarat, sesuai dengan pandangan Dayak Tunjung arah barat adalah arah matahari terbenam sebagai lambang kematian. Beluntang berfungsi untuk menambatkan kerbau yang hendak di korbankan.
Hari Ke-11 : pada hari kesebelas tidak ada upacara khusus. Hari ini dipergunakan untuk mengadakan persiapan upacara selanjutnya.
Hari Ke-12 (Nau Kille Kelalungan) : kile kelalungan berarti menurunkan kelalungan , sebab menurut mereka bahwa ada roh yang ada pada tengkorak harus diantarkan ke Talian Tangkir LAngit dengan diadakannya upacara Kwangkai sedangkan roh yang ada pada badan disebut Pedaraaq yang harus diantar ke Gunung Lumut.
Hari Ke-13 ( Nau Nooq Pedaraaq) : Noq Pedaraq berarti menyambut roh yang datang dari Gunung Lumut. Jadi pada hari ini si penyentagih menyambut para roh-roh yang datang dari Gunung Lumut dengam membacakan mantera-mantera.
Hari Ke-14 (Nau Pekateq Kerewau) : nau pekateq kerewau berarti hari Penyemblihan Kerbau. Pada pagi hari kerbau sudah dimasukan kedalam Suncong (Kandang Kerbau yang berbentuk segitiga). Setelah selesai upacara penyentagih, kerbau dilepaskan dari dalam suncong untuk ditombak. Penmbakan pertama dilakukan oleh pemimpin penyentagih yang mewakili Pedaraq (roh-roh) lalu diikuti orang lain. Apabila kerbau sudah tidak berdaya maka orang-orang menahan kerbau dengan kayu untuk mengatur arah rebahnya kerbau, rebahnya kerbau harus sejajar dengan arah lamin dengan kepala bagian timur menghadap kebarat untuk menghindari malapetaka. Setelah kerbau mati, gong dipukul menandakan kerbau sudah mati. Setelah kerbau mati maka selesailah upacara adat Kwangkai.
Demikian lah seluruh jalannya Upacara kematian yang ada di Suku Dayak Tunjung. Kedua upaca ini merupakan sebuah kesatuan yang diyakini oleh mesyarakat Dayak Tunjung sebagai cara untuk mengantar arwah kerabat yang telah meninggal dunia kea lam baka yang mereka sebut Gunung Lumut. Namun pelaksanaan upacara ini semakin berkurang, dikarena kan sebagian besar masyarakat Dayak Tunjung sudah memeluk agama (Kristen dan Khatolik) sehingga pelaksanaan upacara semacam ini mulai dibatasi.

Np: Sebenarnya masih ada satu Upacara Lagi yaitu Upacara Kenyau. cuma belum sempat dibahas…heheh… ntar aja kapan-kapan…

(Hargai hasil jerih Payah Orang Lain, Bagi yang ingin mengcopi-paste.. diharapkan mencantumkan Linknya. Capek Cooyy nuLis ne…hehhehehe… Ok Kawan.)

Hudoq, Tarian yang penuh Makna…..

Tari Hudoq

Tari Hudoq adalah salah satu jenis tarian tpoeng yang berasal dari sub Suku Dayak Bahau. Yaa…. Hudoq, pertama kali saya melihat Tarian Hudoq ini ketika ada tetangga saya yang menikah. Saya ingat ketika itu saya masih berumur sekitar 6 tahun dimana disebelah rumah saya sedang dilangsungkan sebuah acara pernikahan. Tidak lama kemudian, keluarlah para rombongan para penari Hudoq ini.
Brrrr……. Aku yang saat itu masih kecil langsung ketakutan ketika pertama kali melihat pertunjukan ini. Anehnya walaupun dalam keadaan yang sangat ketakutan, tetapi aku sangat menyukai dan ingin tetap menonton pertunjukan tari-tarian tersebut. Pertama melihat Hodoq yang aku bayangkan adalah sosok hantu yang sangat mengerikan…hahhahahha… Yaa… itu karena tampangnya yang sangat menyeramkan. Namun dibalik sosok menyeramkan itu tersimpan makna yang dalam bagi masyarakat Dayak Bahau…
Makna Tarian: Berdasarkan kepercayaan suku Dayak Bahau dan Dayak Modang, Tari Hudoq ini digelar untuk mengenang jasa para leluhur mereka yang berada di alam nirwana. Mereka meyakini di saat musim tanam tiba roh-roh nenek moyang akan selalu berada di sekeliling mereka untuk membimbing dan mengawasi anak cucunya. Leluhur mereka ini berasal dari Asung Luhung atau Ibu Besar yang diturunkan dari langit di kawasan hulu Sungai Mahakam Apo Kayan. Asung Luhung memiliki kemampuan setingkat dewa yang bisa memanggil roh baik maupun roh jahat. Oleh Asung Luhung, roh-roh yang dijuluki Jeliwan Tok Hudoq itu ditugaskan untuk menemui manusia. Namun karena wujudnya yang menyeramkan mereka diperintahkan untuk mengenakan baju samaran manusia setengah burung. Para Hudoq itu datang membawa kabar kebaikan. Mereka berdialog dengan manusia sambil memberikan berbagai macam benih dan tanaman obat-obatan sesuai pesan yang diberikan oleh Asung Luhung. Dari kisah itulah, nama Hudoq melekat di masyarakat Dayak Bahau dan Modang.
(Sumber Asli : http://dunialain-laindunia.blogspot.com/2009/04/tari-hudoq-dari-kalimantan-timur.html)

Adapun pakaian yang digunakan oleh para penari Hudoq biasanya menggunakan Daun Pisang yang di rangkai sedemikian rupa sehingga menutupi seluruh badan. Selain Daun Pisang, terkadang juga digunakanan Tali Rafia. Topeng terbuat dari kayu yang ringan.

Topeng Hudoq

hudoq Longpahangai

Tarian Hudoq pada masa sekarang sudah sangat sering ditampilkan.. tidak hanya pada acara adat tetapi juga pada acara pernikahan, maupun ulangtahun Kabupaten dan lain sebagainya.

(Hargai hasil jerih Payah Orang Lain, Bagi yang ingin mengcopi-paste.. diharapkan mencantumkan Linknya. Capek Cooyy nuLis ne…hehhehehe… Ok Kawan.)