Sungai Panjang dan Besar di Kalimantan

Hasilkan uang dari Blogmu, Klik Tautan dibawah ini
ACCESS TRADE REGISTER NOW!

penghasil uang terpercaya
ACCESS TRADE
1. Sungai Kapuas-Kalimantan (1.143 km)
Sungai Kapuas atau sungai batang Lawai (Laue) merupakan sungai yang berada di Kalimantan Barat. Sungai ini merupakan rumah dari lebih 300 jenis ikan. Belakangan ini sungai ini tercemar berat, akibat aktivitas penambangan emas di sungai ini. Walaupun telah mengalami pencemaran Sungai Kapuas tetap menjadi urat nadi bagi kehidupan masyarakat di sepanjang aliran sungai ini. Sebagai sarana transportasi yang murah, Sungai Kapuas dapat menghubungkan daerah satu ke daerah lain di wilayah Kalimantan Barat. Dan selain itu juga merupakan sumber mata pencaharian untuk menambah penghasilan keluarga dengan menjadi penangkap ikan.


2. Sungai Mahakam (920 km)
Mahakam merupakan nama sebuah sungai terbesar di provinsi Kalimantan Timur yang bermuara di Selat Makassar. Sungai dengan panjang sekitar 920 km ini melintasi wilayah Kabupaten Kutai Barat di bagian hulu, hingga Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda di bagian hilir. Di sungai hidup spesies mamalia ikan air tawar yang terancam punah, yakni Pesut Mahakam.
Sungai Mahakam sejak dulu hingga saat ini memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat di sekitarnya sebagai sumber air, potensi perikanan maupun sebagai prasarana transportasi.




3. Sungai Barito-Kalimantan (704 km)
Sungai Barito atau sungai Banjar Besar atau Sungai Banjarmasin adalah wilayah di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Barito. Nama Barito diambil berdasarkan nama daerah Barito yang berada di hulu termasuk wilayah provinsi Kalimantan Tengah, tetapi sering dipakai untuk menamakan seluruh daerah aliran sungai ini hingga ke muaranya pada Laut Jawa di Kalimantan Selatan yang dinamakan Muara Banjar/Kuala Banjar. Sungai Barito disebut juga Sungai Banjar (Banjar river) atau Sungai Cina (China river).

Iklan

Pesona Air Terjun Di Bumi Kalimantan

1. Air Terjun Haratai, KAL-SEL

Objek wisata Air terjun Haratai terletak di desa Haratai, lebih kurang 15 menit perjalanan dengan jalan kaki dari Balai Haratai, dapat ditempuh dengan memasuki hutan bambu dan perkebunan karet atau kayu manis. Objek wisata Air terjun Haratai merupakan salah satu objek wisata yang ada di kalimantan selatan. air terjun Haratai terletak di kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Air terjun Haratai merupakan salah satu obyek wisata yang menjadi primadona bagi masyarakat Kalimantan Selatan, karena daerahnya yang asri dan juga pemandangannya yang indah.
Saat pertama kali kita mendatangi tempat ini, mata kita akan terkagum melihat keindahan deburan air yang jatuh, dengan suara gemuruh yang cukup keras.Air terjun tersebut bertingkat tiga dengan ketinggian masing-masing 13 meter. selain itu di tempat ini juga di sediakan gazebo untuk kita beristirahat, atau bersantai sambil menikmati suasana.Wisata Indonesia Surga Dunia. Sumber: http://www.slowbos.com/thread/109481/menikmati-wisata-air-terjun-haratai

2. Air Terjun Balang Daras, KAL-SEL
Air terjun Balangdaras adalah sebuah air terjun yang terletak 25 km dari Kota Pelaihari, Tanah Laut, Kalsel, tepatnya di Desa Tanjung, Pelaihari, Tanah Laut.
Air terjun Balangdaras memiliki panorama pegunungan yang indah dan eksotik. Berada di ketinggian pegunungan dengan ketinggian ± 45 meter. Air Terjun Balangdaras yang berada di kawasan Pegunungan Meratus. Sumber:http://mylifemeiyanna.blogspot.com/2010/06/air-terjun-balang-daras-kalimantan.html

3. Air Terjun Tosah, KAL-TENG
berolakasi di Desa Muara Ja,an Kecamatan Murung Kabupaten Murung Raya, keindahan alam yang disebut air terjun tosah ini terletak, meski di Kabupaten paling utara Kalteng ini banyak terdapat air terjun, namun air terjun tosah ini memiliki keunikan tersendiri.
Saat pertama kali menghampirinya, kami terkesima dengan keindahan air terjun yang, memiliki ketinggian yang sempurna menambah derasnya percikan air yang menghempas ke bebatuan cadas dan embunnya pun membasahi hutan rimbun membuat air terjun tersebut benar benar merupakan keindahan alam masa lalu yang tidak perbah terjamah oleh tangan manusia.
Ditambah perjalanan menuju objek wisata ini pun tidak terlalu sulit karena hanya dengan menempuh perjalanan sekitar 1 jam dengan kendaraan mobil. Kita dapat secara langsung melihat keindahan hasil ciptaan tuhan yang benar benar membuat kita sendiri terkesima dan hatipun sejuk dan tentram saat menikmati keindahan alam nan asri di dekatnya.
Berada di kawasan jalan menuju Puruk Cahu- Muara Teweh air terjun yang memiliki tinggi sekitar 5 meter dengan luas sekitar 10 meter ini pun dapat kita jumpai dengan melewati mendan jalan yang tidak begitu berat.
Dengan suara hempasan air yang seolah memecah keheningan hutan rimbun ditambah suara desiran angin diantara dedaunan menambah suasana alam sekita air terjun benar benar asri. Bebatuan berukuran besar pun seperti tidak kalah indahnya, terhampar mengelilingi aliran air, bebantuan ini memiliki bentuk bentuk nya yang unik dan seperti sengaja dibuat untuk tempat duduk bersantai memandang desiran air gunung yang jernih itu berjatuhan.
Namun sayang air terjun ini masih banyak belum dketahui oleh masyarakat setempat, dan kurang mendapat perhatian dari Pemerintah, sehingga sangat jarang didatangi oleh masyarakat atau wisatawan. Mungkin karena jalan nya yangmasih menggunakan jalan setapak yang sedikit becek.
Bisa dipastikan apabila asset wisata nan indah ini benar benar dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin akan menjadi objek wisata yang membahwa nama Mura dikenal di dunia wisata nasional bahkan internasional.
Karena dari hasil pantauan kami, banyak potensi potensi lain yang bisa dikembangkan di sekitar air terjun itu, baik ekowisata, hingga out bond.
Namun warga sekitar tampaknya lebih tanggap,warga desa Muara Ja,an sudah menyampaikan usul untuk mereka mengelola sendiri secara swadaya air terjun tersebut. Termasuk membuat akses jalan secara bergotong royong yang nanti akan menjadi sumber pedapatan desa.
“ masyarakat desa Muara Ja,an sudah menyampaikan usulan untuk mengelola air terjun Tosah terrsebut kepada saya, tentunya saya sangat mendukung dan akkan memfasilitasi mereka. Saya bersyukur masyarakat punya inisiatif seperti ini untuk ikut membantu mengembangkan pariwisata di Murung Raya dan berharap air terjun Tosah nantinya apabila dikelola dengan baik bisa menjadi objek wisata yang mampu menarik para wisatawan. Sumber : http://pariwisatamura.blogspot.com

4. Air Terjun Bumbun, KAL-BAR
Air Terjun Bumbun memiliki tujuh tingkatan, dengan tingkatan tertinggi mencapai 20 an meter tingginya Air.terjun ini hanya berjarak kurang dari 100 meter dari jalan yang menghubungkan Saripoi–Laas.
Lokasi Terletak di Desa Muara Tuhup/Tumbang Olong, Kecamatan Uut Murung, Kabupaten, Propinsi Kalimantan Tengah.
Peta dan Koordinat GPS:Aksesbilitas
Berjarak ± 35 Km dari Kota Puruk Cahu. Wisata Lain Sekitar 7 Km dari Air Terjun Bumbun ke arah utara, tepatnya di Laas, Kecamatan Uut Murung, terdapat Equatorial Monument atau tugu khatulistiwa yang menunjukkan bahwa daerah ini berada persis di garis khatulistiwa. Akan tetapi tugu khatulistiwa ini tidak sebesar tugu khatulistiwa yang ada di Pontianak. Sumber :
http://pariwisatamura.blogspot.com/2011_08_01_archive.html
/2011_08_01_archive.html




5. Air Terjun Inar, KAL-TIM
Air Terjun Inar terletak di Kampung Temula Kecamatan Nyuatan. merupakan air terjun tertinggi di Kabupaten Kutai Barat dengan ketinggian 30 m. Jantur itu masih kelihatan alami dengan lumut-lumut yang menempel di batu-batu dan tumbuhan liar disekelilingnya. Untuk melihat keindahan jantur inar pengunjung harur menurunu sekitar 200 anak tangga berjarak 20 cm antara satu sama lain. Jika berada disekitar lokasi pemandian serasa hawa sejuk yang berasal dari hempasan air yang jatuh menerpa bebatuan. Pesona inilahsalah satunya yang menjadi daya tarik dari Jantur Inar. Untuk menuju lokasi ini bisa mengunakan sepada motor atau mobil menempuh jarak 30 km dari pusat kota Sendawar. Sumber:http://www.kubarkab.go.id/wisata-budaya.php?id=15



6. Air Terjun Keneheq, KAL-TIM



wewe

7. Air Terjun Pancur Aji, KAL-BAR
kota sanggau terdapat tempat rekreasi yang menarik yang dinamakan air terjun pancur aji yang terletak didaerah bunut yang mana disepanjang jalan melewati pemukiman masyarakat dan melewati tempat rekreasi kolam renang pak donat, perjalanannya dari kota sanggau menempuh jarak kira-kira 30 menit, untuk menempuh jalan ke sana kita menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat.
dalam perjalanan menuju ke Air Terjun Pancur Aji kita melewati jalan yang berliku-liku dan bergunung disamping itu tempat rekreasi air terjun pancur aji terdapat pula kebun binatang yang ada diwilayah sanggau seperti:buaya,orang hutan,burung,bangau,ular,kijang dan lain-lain.
sebelum memasuki daerah air terjun kita melewati pintu gerbang dan membayar tiket dengan kendaraan roda 2 Rp.9000 dan kendaraan roda 4 Rp. 20.000. selanjutnya kita jalan menuju parkir yang mana dikenakan biaya Rp 1000, dan kita menuju keair terjun kira-kira 5 menit.
Setiap hari libur banyak pengunjung yang berkunjung disana suasana air terjunnya sangat dingin dan pemandangan air yang sangat indah dan arusnya yang sangat deras, tempat air terjun itu cocok untuk arung jeram, di sana juga terdapat toko yang menjual makanan dan cinderamata khas sanggau yaitu :kalung manik-manik, gantungan kunci serta tas anyaman dari rotan dan bambu dan lain-lain, dan makanannya berupa lempok durian, lemang, dodol,dan di sana juga terdapat kebun buah yang mana kita bisa memetik sendiri dan membeli untuk di bawa pulang untuk oleh-oleh sebuah tangan. Sumber: http://entikong.web.id/air-terjun-pancur-aji



8. Air Terjun Tikalong, KAL-BAR

9. Air Terjun/Jantur Menarung, KAL-TIM


10. Air Terjun/Jantur Mapan, KAL-TIM

(cukup segini duluu…. tapi Masih Banyak Lgi puluhan bahkan hingga Ratusan Air terjun yang masih tersembunyi dan susah dijangkau…. mungkin lain kali baru di share lagi.. bye..byee)

Keajaiban Alam Bumi Kalimantan

1. Batu Dinding, Kutai Barat- KALTIM
Batu dinding merupakan sebuah keunikan dan keindahan alam yang ada di kalimantan timur. bantu dinding ini berada di hulu mahakam yang berada di kecamatan Long Bagun daerah kabupaten Kutai Barat.
Panjang batu dinding sekitar 800 meter dan tingginya mencapai kurang lebih 100 – 120 meter. hubungan batu dinding dengan Kecamatan sungai Boh adalah merupakan jalur akses air yang menghubungkan Kabupaten Kutai Barat dengan Kabupaten Malinau. long bagun merupakan kecamatan tetangga dari kecamatan sungai boh sebelah selatan. Untuk mencapai sungai boh dari Kecamatan long bagun setelah jalur air di lanjut dengan jalur darat sektar 5 – 6 jam perjalanan untuk bisa sampai ke kecamatan sungai boh. jika kita ingin menuju ke kecamatan sungai boh dari samarinda dengan jalur air maka kita akan melewati bantu dinding ini.

Keunikan lain dari batu dinding ini selain dari bentuk, di batu dinding ini terdapat sebuah kuburan..!! Sumber: http://sutrisman-anakkenyahbankung.blogspot.com/2011/06/batu-dinding-sungai-mahakam-long-bagun.html





2. Bukit Kelam, Sintang-KALBAR
Kawasan Wisata Bukit Kelam yang berada di wilayah Kecamatan Kelam Permai. Daya tarik objek wisata alam perbukitan khususnya kawasan wisata alam Bukit Kelam dapat dilihat dari kondisi perbukitan itu sendiri yang memiliki keindahan yang khas. Hutan wisata Bukit Kelam berada diantara dua sungai besar yaitu Sungai Melawi dan Sungai Kapuas dan termasuk didalam SdubDAS Melawi dimana keberadaan hutan wisata tersebut merupakan kawasan sumber air yang mengalir sebagai sungai yang dimanfaatkan penduduk setempat untuk keperluan air minum, MCK dan irigasi.
Berdasarkan pengamatan diketahui kualitas baik perairan sungai di hutan wisata didominasi oleh perbukitan dan hutan wisata ini sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata alarn dan untuk lokasi terbang layang dan panjat tebing karena terletak pada ketinggian 50 – 900 meter dari permukaan laut dengan kemiringan antara 15° – 40° serta kemiringan diatas 45°. Pohon yang tumbuh dikaki bukit umumnya berbatang tinggi, sedangkan dipuncaknya ditumbuhi semak semak. Pada dinding bukit jarang ditumbuhi tumbuhan karena terdiri dari batu terjal sehingga pepohonan yang yang tumbuh dan tertata rapi didalam jambangan.
Di Bukit ini juga terdapat tumbuh-tumbuhan langka seperti Kantong Semar Raksasa yang oleh masyarakat setempat dipergunakan sebagai wadah untuk menanak nasi, selain itu juga terdapat Anggrek Hitam. Saat ini kawasan Bukit Kelam sudah direnopasi dan kawasan ini dijadikan sebagai Pusat Perkemahan bagi pramuka. Untuk mencapai puncak Bukit Kelam saat ini sudah dibangun sebuah tangga dengan ketinggian 90 m yang terletak disebelah barat. Kawasan Bukit Kelam saat ini terus dikembangkan karena punya rentetan perbukitan lainnya seperti Bukit Luit dan Bukit Rentab. Selain itu juga kawasan ini sangat baik jika dibangun tempat peristirahatan yang nantinya dapat dikembangkan menjadi desa wisata yang menarik dan unik.
Hal ini juga tidak terlepas dari keberadaan dua rumah panjang didekat lokasi perbukitan ini yaitu Rumah Panjang Ensaid Pendek dan Ensaid Panjang.
Bagi pengunjung yang suka bertualang menghadapi tantangan alam dan merindukan pemandangan alam yang asli maka Bukit Kelam adalah tempat yang cocok dalam memenuhi selera anda. Pendakian ke puncak bukit dapat ditempuh melalui dua cara:
* Menggunakan Tangga
* Melalui Tebing Batu yang sangat terjal dan menantang.
Dari Puncak Bukit dapat terlihat pemandangan alam yang sangat indah seperti:
* Hutan tropis dan berbagai jenis tanaman langka
* Dua aliran sungai yang mengapit Kota kabupaten
* Tata Kota Sintang dan persawahan yang ada dibawahnya. Sumber:http://www.kalimantan-news.com/wisata.php?idw=1
Yang kesemuanya merupakan pemandangan alam yang sangat menakjubkan dan panorama alam yang sangat nyaman, dapat dikunjungi melalui transportasi darat dengan jarak dari Kota 18 Km.






3. Kersik Luway (Padang Pasir ditengah hutan Kutai Barat, menyimpan berbagai macam jenis Anggrek langka.. Anggrek hitam), Kutai Barat-KALTIM
Anggrek Hitam berada dikawasan Kersik Luway terletak di Kampung Sekolaq Darat Kecamatan Sekolaq Darat, mempunyai keunikan tersendiri dengan bentuk dan corak anggrek hitam (Coelogyne pandurata) yang sangat khas, Ada beberapa jenis anggerek lain yang bisa ditemukan disini selain anggrek hitam di antaranya Erya Vania, Erya Florida,Coelogy Rocus Roini dan Bulpophylum Mututina. Selain anggerek juga terdapat Kantung semar . Fasilitas di likasi terdapat ruang informasi, fasilitas kebutuhan bagi wisatawan tersedia. Namun saat ini kondisi cagar alam ini cukup memprihatinkan akibat sering terjadi kebakaran hutan yang mengakibatkan terus berkurangnya vegetasi anggerek, kelompok penangkaran anggerek. Menuju lokasi ini dapat menggunakan mobil dan bus menempuh jarak 15 Km dari pusat kota Sendawar.Sumber:http://www.wisatakaltim.com/tempat-wisata/kutai-barat/anggrek-hitam-kersik-luway/



Siapakah Pribumi Asli Nusantara ?

oleh Tim Wacana Nusantara
21 March 2009
Kembali ke masa prasejarah, penduduk wilayah Nusantara hanya terdiri dari dua golongan yakni Pithecantropus Erectus beserta manusia Indonesia purba lainnya dan keturunan bangsa pendatang di luar Nusantara yang datang dalam beberapa gelombang.
Berdasarkan fosil-fosil yang telah ditemukan di wilayah Indonesia, dapat dipastikan bahwa sejak 2.000.000 (dua juta) tahun yang lalu wilayah ini telah dihuni. Penghuninya adalah manusia-manusia purba dengan kebudayaan batu tua atau mesolithicum seperti Meganthropus Palaeo Javanicus, Pithecanthropus Erectus, Homo Soloensis dan sebagainya. Manusia-manusia purba ini sesungguhnya lebih mirip dengan manusia-manusia yang kini dikenal sebagai penduduk asli Australia.

Dengan demikian, yang berhak mengklaim dirinya sebagai “penduduk asli Indonesia” adalah kaum Negroid, atau Austroloid, yang berkulit hitam. Manusia Indonesia purba membawa kebudayaan batu tua atau palaeolitikum yang masih hidup secara nomaden atau berpindah dengan mata pencaharian berburu binatang dan meramu. Wilayah Nusantara kemudian kedatangan bangsa Melanesoide yang berasal dari teluk Tonkin, tepatnya dari Bacson-Hoabinh. Dari artefak-artefak yang ditemukan di tempat asalnya menunjukan bahwa induk bangsa ini berkulit hitam berbadan kecil dan termasuk type Veddoid-Austrolaid.
Bangsa Melanesoide dengan kebudayaan mesolitikum yang sudah mulai hidup menetap dalam kelompok, sudah mengenal api, meramu dan berburu binatang.Teknologi pertanian juga sudah mereka genggam sekalipun mereka belum dapat menjaga agar satu bidang tanah dapat ditanami berkali-kali. Cara bertani mereka masih dengan sistem perladangan. Dengan demikian, mereka harus berpindah ketika lahan yang lama tidak bisa ditanami lagi atau karena habisnya makanan ternak. Gaya hidup ini dinamakan semi nomaden. Dalam setiap perpindahan manusia beserta kebudayaan yang datang ke Nusantara, selalu dilakukan oleh bangsa yang tingkat peradabannya lebih tinggi dari bangsa yang datang sebelumnya.
Dari semua gelombang pendatang dapat dilihat bahwa mereka adalah bangsa-bangsa yang mulai bahkan telah menetap. Jika kehidupannya mereka masih berpindah, maka perpindahan bukanlah sesuatu hal yang aneh. Namun dalam kehidupan yang telah menetap, pilihan untuk meninggalkan daerah asal bukan tanpa alasan yang kuat. Ketika kehidupan mulai menetap maka yang pertama dan yang paling dibutuhkan adalah tanah sebagai media untuk tetap hidup. Mereka sangat membutuhkan tanah yang luas karena teknologi pertaniannya masih rendah. Mereka belum sanggup menjaga, apalagi meningkatkan, kesuburan tanah. Mereka membutuhkan sistem pertanian yang ekstensif, dan perpindahan untuk penguasaan lahan-lahan baru setiap jangka waktu tertentu. Sebelum didatangi bangsa-bangsa pengembara dari luar, tanah di Nusantara belum menjadi kepemilikan siapapun.
Hal ini berbeda dengan Manusia Indonesia Purba yang tidak memerlukan tanah sebagai modal untuk hidup karena mereka berpindah-pindah. Ketika sampai di satu tempat yang dilakukannya adalah mengumpulkan makanan (food gathering). Biasanya tempat yang dituju adalah lembah-lembah atau wilayah yang terdapat aliran sungai untuk mendapatkan ikan atau kerang (terbukti dengan ditemukannya fosil-fosil manusia purba di wilayah Nusantara di lembah-lembah sungai) walaupun tidak tertutup kemungkinan ada pula yang memilih mencari di pedalaman. Ketika bangsa Melanesoide datang, mereka mulai menetap walaupun semi nomaden. Mereka akan pindah jika sudah tidak mendapatkan lagi makanan. Maka pilihan atas tempat-tempat yang akan ditempatinya adalah tanah yang banyak menghasilkan. Wilayah aliran sungai pula yang akan menjadi targetannya. Padahal, wilayah ini adalah juga wilayah di mana para penduduk asli mengumpulkan makanannya.
Ini mengakibatkan benturan yang tidak terelakan antara kebudayaan palaeolithikum dengan kebudayaan yang mesolithikum. Alat-alat sederhana seperti kapak genggam atau choppers, alat-alat tulang dan tanduk rusa berhadapan dengan kapak genggam yang lebih halus atau febble, kapak pendek dan sebagainya. Pertemuan ini dapat mengakibatkan beberapa hal yaitu:
1. Penduduk asli ditumpas, atau
2. Mereka diharuskan masuk dan bersembunyi di pedalaman untuk menyelamatkan diri, atau
3. Mereka yang ditaklukkan dijadikan hamba, dan kaum perempuannya dijadikan harem-harem untuk melayani para pemenang perang.

Sekitar tahun 2000 SM, bangsa Melanesoide yang akhirnya menetap di Nusantara kedatangan pula bangsa yang kebudayaannya lebih tinggi yang berasal dari rumpun Melayu Austronesia yakni bangsa Melayu Tua atau Proto Melayu, suatu ras mongoloid yang berasal dari daerah Yunan, dekat lembah sungai Yang Tze, Cina Selatan. Alasan-alasan yang me-nyebabkan bangsa Melayu tua meninggalkan asalnya yaitu :
1. Adanya desakan suku-suku liar yang datangnya dari Asia Tengah;
2. Adanya peperangan antar suku;
3. Adanya bencana alam berupa banjir akibat sering meluapnya sungai She Kiang dan sungai-sungai lainnya di daerah tersebut.

Suku-suku dari Asia tengah yakni Bangsa Aria yang mendesak Bangsa Melayu Tua sudah pasti memiliki tingkat kebudayaan yang lebih tinggi lagi. Bangsa Melayu Tua yang terdesak meninggalkan Yunan dan yang tetap tinggal bercampur dengan Bangsa Aria dan Mongol. Dari artefak yang ditemukan yang berasal dari bangsa ini yaitu kapak lonjong dan kapak persegi.Kapak lonjong dan kapak persegi ini adalah bagian dari kebudayaan Neolitikum. Ini berarti orang-orang Melayu Tua, telah mengenal budaya bercocok tanam yang cukup maju dan bukan mustahil mereka sudah beternak. Dengan demikian mereka telah dapat menghasilkan makanan sendiri (food producing). Kemampuan ini membuat mereka dapat menetap secara lebih permanen.
Pola menetap ini mengharuskan mereka untuk mengembangkan berbagai jenis kebudayaan awal. Mereka juga mulai membangun satu sistem politik dan pengorganisasian untuk mengatur pemukiman mereka.
Pengorganisasian ini membuat mereka sanggup belajar membuat peralatan rumah tangga dari tanah dan berbagai peralatan lain dengan lebih baik. Mereka mengenal adanya sistim kepercayaan untuk membantu menjelaskan gejala alam yang ada sehubungan dengan pertanian mereka. Sama seperti yang terjadi terdahulu, pertemuan dua peradaban yang berbeda kepentingan ini, mau tidak mau, melahirkan peperangan-peperangan untuk memperebutkan tanah. Dengan pengorganisiran yang lebih rapi dan peralatan yang lebih bermutu, kaum pendatang dapat mengalahkan penduduk asli. Kebudayaan yang mereka usung kemudian menggantikan kebudayaan penduduk asli. Sisa-sisa pengusung kebudayaan Batu Tua kemudian menyingkir ke pedalaman. Beberapa suku bangsa merupakan keturunan dari para pelarian ini, seperti suku Sakai, Kubu, dan Anak Dalam.
Arus pendatang tidak hanya datang dalam sekali saja. Pihak-pihak yang kalah dalam perebutan tanah di daerah asalnya akan mencari tanah-tanah di wilayah lain. Demikian juga yang menimpa bangsa Melayu Tua yang sudah mengenal bercocok tanam, beternak dan menetap. Kembali lagi, daerah subur dengan aliran sungai atau mata air menjadi incaran.
Wilayah yang sudah mulai ditempati oleh bangsa melanesoide harus diperjuangkan untuk dipertahankan dari bangsa Melayu Tua.Tuntutan budaya yang sudah menetap mengharuskan mereka mencari tanah baru. Dengan modal kebudayaan yang lebih tinggi, bangsa Melanesoide harus menerima kenyataan bahwa telah ada bangsa penguasa baru yang menempati wilayah mereka.
Namun kedatangan bangsa Melayu Tua ini juga memungkinkan terjadinya percampuran darah antara bangsa ini dengan bangsa Melanesia yang telah terlebih dahulu datang di Nusantara. Bangsa Melanesia yang tidak bercampur terdesak dan mengasingkan diri ke pedalaman. Sisa keturunannya sekarang dapat didapati orang-orang Sakai di Siak, Suku Kubu serta Anak Dalam di Jambi dan Sumatera Selatan, orang Semang di pedalaman Malaya, orang Aeta di pedalaman Philipina, orang-orang Papua Melanesoide di Irian dan pulau-pulau Melanesia.
Pada gelombang migrasi kedua dari Yunan di tahun 2000-300 SM, datanglah orang-orang Melayu Tua yang telah bercampur dengan bangsa Aria di daratan Yunan. Mereka disebut orang Melayu Muda atau Deutero Melayu dengan kebudayaan perunggunya. Kebudayaan ini lebih tinggi lagi dari kebudayaan Batu Muda yang telah ada karena telah mengenal logam sebagai alat perkakas hidup dan alat produksi. Kedatangan bangsa Melayu Muda mengakibatkan bangsa Melayu Tua yang tadinya hidup di sekitar aliran sungai dan pantai terdesak pula ke pedalaman karena kebudayaannya kalah maju dari bangsa Melayu Muda dan kebudayaannya tidak banyak berubah. Sisa-sisa keturunan bangsa melayu tua banyak ditemukan di daerah pedalaman seperti suku Dayak, Toraja, orang Nias, batak pedalaman, Orang Kubu dan orang Sasak. Dengan menguasai tanah, Bangsa Melayu Muda dapat berkembang dengan pesat kebudayaannya bahkan menjadi penyumbang terbesar untuk cikal-bakal bangsa Indonesia sekarang.
Dari seluruh pendatang yang pindah dalam kurun waktu ribuan tahun tersebut tidak seluruhnya menetap di Nusantara. Ada juga yang kembali bergerak ke arah Cina Selatan dan kemudian kembali ke kampung halaman dengan membawa kebudayaan setempat atau kembali ke Nusantara. Dalam kedatangan-kedatangan tersebut penduduk yang lebih tua menyerap bahasa dan adat para imigran. Jarang terjadi pemusnahan dan pengusiran bahkan tidak ada penggantian penduduk secara besar-besaran. Percampuran-percampuran inilah yang menjadi cikal bakal Nusantara yang telah menjadi titik pertemuan dari ras kuning (mongoloid) yang bermigrasi ke selatan dari Yunan, ras hitam yang dimiliki oleh bangsa Melanesoide dan Ceylon dan ras putih anak benua India.
Sehingga tidak ada penduduk atau ras asli wilayah Nusantara kecuali para manusia purba yang ditemukan fosil-fosilnya. Kalaupun memang ada penduduk asli Indonesia maka ia terdesak terus oleh pendatang-pendatang boyongan sehingga secara historis-etnologis terpaksa punah atau dipunahkan dalam arti sesungguhnya atau kehilangan ciri-ciri kebudayaannya dan terlebur di dalam masyarakat baru. Semua adalah bangsa-bangsa pendatang.

Kepustakaan

D. G. E. Hall. 1988Sejarah Asia Tenggara. . Surabaya-Usaha Nasional.
Stanley. 1998Makalah Arus Dari Utara. Tidak diterbitkan
Simbolon, T. Parakitri. 1995.. Menjadi Indonesia, buku I “Akar-akar kebangsaan Indonesia”. Jakarta-Kompas-Grasindo.
Prijohutomo & P.J. Reimer. Tentang Orang dan Kejadian Jang Besar Djilid I. Tjet.V. Djakarta-Amnsterdam: W.Versluys N.V.
Ananta Toer, Pramoedya.1998. Hoakiau di Indonesia. Jakarta-Garba Budaya.

(Sumber: http://wacananusantara.org/content/view/category/2/id/261)
DiambiL dari.. http://suciptoardi.wordpress.com/2009/03/22/siapakah-pribumi-asli-nusantara/#comment-4997

Kebudayaan Dayak Tunjung

B. Kebudayaan Fisik
1. Makanan/Minuman
Makanan khas suku Dayak Tunjung ada bermacam-macam dimana makanan tradisional ini selalu disajikan pada saat dilakukan acara perkawinan, acara kematian maupun acara syukuran.
• Tumpiiq
• Lemang


Lemang atau Solok dalam bahasa Dayak Tunjung merupakan salah satu makanan yang selalu ada dalam setiap acara yang diselenggarakan masyarakat Dayak Tunjung. Lemang ini terbuat dari beras ketan yang dimasak menggunakan bamboo yang dibakar menggunakan api.

• Tuak

Namun pada masa sekarang Tuaq sudah sangat jarang dihidang kan dalam acara-acara adat..

2. Pakaian

Pakaian tradisional ada beraneka macam warna. Ada yang berwarna Kuning, Merah, Biru, Hijau atau pun capuran dari warna-warna diatas. Pada bagian kepala biasanya menggunakan ikat kepala berwarna merah-putih (ada juga warna lain). Sedangkan baju biasanya terdapat ukiran-ukiran yang terbuat dari manic-manik maupun serat kulit kayu (Jomook). Untuk bagian bawah, Wanita menggunakan Ketau semacam kain yang dilingkarkan sepanjang kaki yang diikatkan di pinggang, sedangkan kaum pria menggunakan cawat seperti Dayak pada umumnya.

3. Kerajinan Tangan Tradisional
• Tas-tas manic
• Tas-tas rotan
• Seraung

4. Senjata Tradisional (Mandau)

C. Kebudayaan Non Fisik
1. Sistem Kemasyarakatan
System kemasyarakatan yang berlaku pada masa sekarang adalah system pemerintahan yang dianut setelah bangsa Indonesia merdeka yaitu:
a. Kepala kampung
b. Wakil kepala kampung
c. Sekretaris dan bendaraha
d. Kepala adat
e. Pengerak dan ketua padang : sebagai pembantu staff kelurahan
f. Rukun tetangga (RT)
g. Lembaga sosial desa (LSD)
h. PErtahanan sipil (Hansip)

2. Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian
Mayoritas system mata pencaharian Suku Dayak Tunjung adal bertani dan berladang dimana hal ini disesuaikan dengan kondisi geografis setempat yang berhutan lebat. Selain berladang, ada juga sebagian orang yang berprofesi sebagai pedagang, pegawai pemerintah, guru dan karyawan swasta, bahkan bupati yang sekarang menjabat adalah orang asli Suku Dayak Tunjung.

3. Sistem Kekerabatan
System kekerabatan yang dianut Suku Dayak Tunjung adalah Sistem dengan Prinsip Keturunan Ambilineal, yaitu system yang menghitung keturunan hubungan kekerabatan berdasarkan garis keturunan dari ayah dan ibu. Adapun sopan santun pergaulan dalam kekerabatan Suku Dayak Tunjung menunjukan hubungan pergaulan antara orang yang tua dan yang muda dimana yang muda menghormati orang yang lebih tua.
Kadang yang dihormati atau lebih dihormati adalah dari orang tuanya sendiri adalah mertuanya. Kepatuhan pada mertua tampak pada hal-hal patuh pada omongannya, berpantang memakai pakaian mertuanya, menyebut nama mertuanya, duduk berdampingan atau berhadapan dengan mertuanya sambil bercakap-cakap.

4. Sistem Religi
Agama asli Suku Dayak Tunjung dapat disebutkan termasuk dalam golongan Animisme. Dasar kepercayaan mereka adalah adanya roh-roh. Roh ini terbagi dalam dua bagian yaitu roh yang baik dan roh yang jahat.
Namun pada masa sekarang kepercayaan ini mulai ditiggalkan dimana masyarakat Suku Dayak Tunjung sudah memeluk Agama. Mayoritas Suku Dayak Tunjung menganut Kristen Protestas (50%), Khatolik (35%), Agama Asli (Kharingan) 10 (%), Islam (5%) orang Tunjung yang menganut Islam adalah yang menikah dengan Orang Halok .

5. Sistem Pelapisan Sosial
Dalam masyarakat Suku Dayak Tunjung terdapat system pelapisan sosial yang membedakan derajat Masyarakatnya. Ada tiga tingkat pelapisan sosial yaitu:
a. Golongan Mantiq : Mantiq merupaka golongan bangsawan dalam masyarakat Suku Dayak Tunjung yang diberi hak untuk memerintah dan memimpin serta harus dipatuhi. Bilamana tidak dipatuhi maka akan celaka. Ketentuan golongan ini ditentukan secara historis atau turun temurun berdasarkan garis keturunan.
b. Golongan Aji : Golongan ini adalah lapisan masyarakat biasa. Menurut cerita dongeng atau mitologi, golongan ini adalah keturunan Kilip
c. Golongan Rivat (Budak) : golongan ini sudah tidak ada lagi tetapi orang-orang masih dapat menyebutkan siapa-siapa bekas dari golongan itu. Dahulu orang yang ditangkap dalam peperangan terhadap suku lain dari sub suku sendiri yang dianggap sudah menjadi ketetapan Dewa ia tergolong dalam kelas ini

Sistem pelapisan sosial pada masa modern ini sudah tidak berlaku lagi. Semua masyarakat Dayak Tunjung itu sama dan tidak ada yang membedakan dari segi pelapisan sosial.