SUKU DAYAK BERASAL DARI KHAYANGAN KE TANAH BORNEO :ASLI SUKU KALIAMANTAN(BORNEO),KARYA ANDEAS Y.P,S.KOM ,PENELUSURAN SASTRA LISAN

Versi Ibanic Grop

Di masa lalu masyarakat yang kini disebut Dayak Mualang ini hidup dan bergabung dengan kelompok serumpun Iban lainnya dan masa itu mereka tergabung sebagai masyarakat Pangau Banyau ( kumpulan orang-orang khayangan dan manusia )kemudian kesemuanya itu disebut Urang Negeri Panggau/Orang Menua artinya orang yang berasal dari tanah ini (Borneo).

Tampun Juah

‘Tampun Juah’ merupakan tempat pertemuan dan gabungan bangsa Dayak yang dimasa lalu yang kini disebut Ibanic group. Sebelum di Tampun Juah masyarakat Pangau Banyau hidup di daerah bukit kujau’ dan bukit Ayau, kira-kira di daerah Kapuas Hulu, kemudian pindah ke Air berurung, Balai Bidai, Tinting Lalang kuning dan Tampun Juah, dalam pengembaraannya dari satu tempat ke tempat lain di mungkinkan ada yang berpisah dan membentuk suku atau kelompok lainnya. Daerah persinggahan akhir yakni di Tampun Juah. Di sana mereka hidup dan mencapai zaman Eksistensi / keemasan, dalam tiga puluh buah Rumah Panjai ( rumah panggung yang panjang ) dan tiga puluh buah pintu utama. Mereka hidup aman, damai dan harmonis.

Tampun Juah sendiri berasal dari dua buah kata yakni: Tampun dan Juah, terkait dengan suatu peristiwa yang bersejarah yang merupakan peringatan akhir terhadap suatu larangan yang tak boleh terulang selama-lamanya. Tampun sendiri adalah suatu kegiatan pelaksanaan Eksekusi terhadap dua orang pelanggar berat yang tidak dapat ditolelir, yakni dengan cara memasung terlentang dan satunya ditelungkupkan pada pasangan yang terlentang tersebut, kemudian dari punggung yang terlungkup di tumbuk dengan bambu runcing, kemudian keduanya dihanyutkan di sungai.

Kesalahan tersebut dikarenakan keduanya terlibat dalam perkawian terlarang (mali) hubungan dengan sepupu sekali (mandal). Laki-laki bernama Juah dan perempuan bernama Lemay. Eksekusi dilakukan oleh seorang yang bernama lujun (algojo / tukang eksekusi) pada Ketemenggungan Guntur bedendam Lam Sepagi/Jempa.

kehidupan Tampun juah juga erat hubungannya dengan kehidupan ritual dan keagamaan. Pemimpin spiritual tersebut adalah sepasang suami istri yang bernama Ambun menurun ( laki-laki ) dan Pukat Mengawang ( perempuan).

Kedua orang tersebut merupakan symbol terciptanya manusia pertama ke dunia, sesuai dengan arti dari nama keduanya. Ambun menurun yaitu embun yang turun ke bumi, symbol seorang laki –laki dan pukat mengawan adalah celah – celah dari jala / pukat yang membentang, symbol wanita. Embun tersebut menerobos atau menembus celah pukat merupakan symbol hubungan intim antara pria dan wanita. Pasangan suami istri tersebut, mempunyai sepuluh orang anak yakni: Tujuh orang laki –laki dan tiga orang perempuan. Yaitu:

Puyang Gana ( Roh Bumi / Penguasa tanah, meninggal sewaktu lahir )
Puyang Belawan
Dara Genuk ( perempuan )
Bejid manai
Belang patung
Belang pinggang
Belang bau
Dara kanta” ( perempuan )
Putong Kempat ( perempuan )
Bui Nasi ( awal mula adanya nasi)

– Puyang Gana lahir tidak seperti kelahiran manusia normal, ia mempunyai kaki satu, tangan satu dan lahir dalam keadaan meninggal. Karena mempunyai tubuh yang tidak lazim atau jelek, ia diberi nama Gana, ia di kubur dibawah tangga. Ketika ada pembagian warisan ia datang dalam rupa yang menyeramkan (hantu) dan meminta bagiannya hingga karna suatu alasan maka ia mengklaim dirinya sebagai penguasa seluruh tanah dan hutan.( Baca, tentang kerajaan Sintang pada buku Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat hal.184 – 188 ). – Puyang Belawan lahir secara normal seperti manusia biasa. – Dara Genuk lahir kerdil atau mempunyai tangan dan kaki yang pendek, oleh sebab itu ia di sebut Dara genuk. – Bejid Manai lahir dan mempunyai sedikit kelainan pada bagian tubuhnya, yakni kemaluannya besar. Oleh sebab itulah ia disebut Bejid Manai. – Belang Patung lahir dan mempunyai kelainan pada setiap ruas tulangnya yang belang – belang, oleh sebab itu ia disebut Belang Patung. – Belang Pinggang lahir dan mempunyai pinggang yang belang, oleh sebab itu ia disebut Belang Pinggang. – Belang Bau lahir dalam keadaan belang dan tubuhnya bau, oleh sebab itu ia disebut Belang Bau. – Dara Kanta” lahir normal tetapi mempunyai Cala ( tanda hitam ) dipipinya, oleh sebab itu ia disebut Dara Kanta”. – Putong Kempat lahir dalam keadaan normal dan ia mempunyai tubuh yang indah dan kecantikannya luar biasa tak terbayangkan, Upa Deatuh / upa dadjangka” oleh sebab itu ia disebut Putong Kempat. – Bui Nasi lahir dalam keadaan aneh, karena lansung dapat bicara dan merengek minta nasi dan kelahiran inilah awal mula orang Pangau Banyau makan Nasi.2. ( Baca, tentang kerajaan Sintang pada buku Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat hal.185). Menyebabkan ayah dan Ibunya memohon kepada Petara untuk mengubahnya menjadi bibit padi.

Orang Buah Kana

Di masa itu kehidupan manusia dan para Dewa serta mahluk halus, sama seperti hubungan antara manusia yang satu dengan yang lainnya, termasuklah hubungan yang sangat akrab dan harmonis antara masyarakat Tampun Juah dengan Orang Buah Kana ( Dewa pujaan ).

versi Kharinga : Dayak Kalteng

Menurut kepercayaan agama Hindu Kaharingan, manusia berasal dari keturunan Raja Bunu yang menuju jalan pulang ke Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa).

Raja Bunu adalah anak dari pasangan Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut dan Kameloh Putak Bulau Janjulen Karangan Limut Batu Kamasan Tambun. Manyamei Tunggul Garing dan Kameloh Putak Bulau merupakan menurut Hindu Kaharingan adalah manusia yang pertama kali diciptakan oleh Ranying Hatalla Langit. Dan Raja Bunu memang diwariskan untuk menghuni bumi dengan ciri–ciri keturunannya bisa mati atau meninggal setelah keturunan ke sembilan. Ciri–ciri yang lain adalah Raja Bunu tidak bisa menginang, maka diganti makanannya diganti menjadi beras, lauk–pauk, dan lain-lain seperti makanan kita sekarang ini.

Raja Bunu dianugrahi oleh Ranying Hatalla Langit sebuah besi bernama Sanaman Lenteng. Sanaman Lenteng adalah sebuah besi yang tidak sengaja ditemukan oleh Raja Bunu sewaktu ia bermain di sungai dengan kedua saudaranya. Kedua saudara Raja Bunu itu masing–masing bernama Raja Sangen dan Raja Sangiang. Besi yang ditemukan oleh tiga bersaudara ini aneh, karena yang satu ujung besinya timbul ke permukaan air dan ujung yang lain tenggelam. Kalo dianalogikan, seharusnya seluruh batang besi itu tenggelam.

Raja Bunu secara tidak sengaja memegang ujung Sanaman Lenteng yang tenggelam dan kedua saudaranya memegang ujung yang timbul ke permukaan air, sehingga menurut ceritanya gara-gara Raja Bunu tidak sengaja memegang ujung dari Sanaman Lenteng yang tenggelam, maka kehidupannya tidak abadi seperti kedua saudaranya yang lain, yaitu Raja Sangen dan Raja Sangiang. Besi yang mereka dapati itu akhirnya dibuat menjadi Dohong Papan Benteng (sejenis alat khas yang bentuknya seperti pisau) oleh ayah mereka.

Raja Bunu dan kedua saudaranya dianugrahi juga oleh Ranying Hatalla Langit seekor burung yang bernama Gajah Bakapek Bulau Unta Hajaran Tandang Barikur Hintan. Mereka dianugrahi seekor burung itu ketika mereka sedang berada di sebuah bukit yang bernama Bukit Engkan Penyang.

Ketika mereka sudah mendapati burung itu, rupanya tiga saudara itu tidak ada yang mau mengalah dan terus berebut untuk mendapatkan burung itu. Tiba–tiba Raja Sangen menghunus dohong-nya lalu menghujamkannya ke arah burung itu. Sehingga darah burung itu pun keluar dan Raja Sangen pun berinisiatif untuk menampung darah burung tersebut ke sebuah sangku (sejenis mangkok). Dan dengan sekejap darah burung yang ditampung di dalam sangku itu pun berubah menjadi emas, berlian, dan permata.

Rupanya ayah ketiga bersaudara itu mengetahui perbuatan ketiga anaknya itu. Maka, dengan kesaktiannya sang ayah pun pergi menemui ketiga anaknya itu. Sesampainya di sana Manyamei Tunggul Garing (ayah mereka) melihat apa yang telah diperbuat oleh anaknya karena sang ayah merasa iba kepada burung itu dan takut ketiga anaknya kualat dengan Ranying Hatalla Langit atas perbuatan mereka, sang ayah pun dengan kesaktiannya menyembuhkan luka pada burung itu.

Karena rasa iri terhadap saudaranya yang mendapatkan emas, berlian, dan harta itu. Maka, Raja Sangiang pun menghujamkan dohong-nya ke arah burung itu sehingga darah burung itu pun keluar dengan derasnya dan ia pun melakukan hal yang sama yaitu mengambi sangku untuk menampung darah burung itu. Kejadiannya pun sama persis dengan yang didapatkan oleh Raja Sangen yaitu, emas, berlian, dan lain-lain. Dan ayah mereka pun akhirnya menyembuhkan luka pada burung tersebut. Sehingga burung itu pun sehat kembali.

Dan lagi–lagi keserakahan dan rasa iri itu menghinggapi Raja Bunu. Ia pun melakukan apa yang telah dilakukan oleh kedua saudaranya itu dan ia pun mendapatkan hasil yang sama seperti yang diperoleh oleh kedua saudaranya. Dan lagi–lagi sang ayah pun karena merasa iba akan burung itu maka ia pun menyembuhkan luka burung itu. Tetapi rupanya luka burung itu tidak dapat sembuh seperti sedia kala. Akhirnya burung itu terbang dengan membawa luka dan darahnya menetes membasahi wilayah itu. Darah burung yang menetes itulah yang kemudian menjadi kekayaan yang berlimpah ruah. Karena kondisi fisik burung itu yang semakin lelah dan lukanya semakin parah, burung itu pun akhirnya mati.

Akhirnya tempat burung itu mati dipenuhi dengan kekayaan yang abadi, dan menurut kepercayaan agama Hindu Kaharingan tempat itu disebut dengan Lewu Tatau (Surga).

Versi :kanayant:

Sejarah dapat dilihat berawal dari kisah cerita Ne’ Baruakng Kulup ( salah satu versi cerita) yang menurunkan padi dari atas langit, ke bumi. Ne’ Baruakng adalah anak Ne’ Ja’ek, yang berjasa memperoleh tangkai padi untuk pertama kalinya dari seekor burung pipit, yang membawangnya diantara dua buah batu badangkop ( batu kembar) dan sekarang dapat ditemui dibukit Talaga.

Alkisah, mereka tinggal diatas (langit) . Ne’ Baruakng ini yang sering turun ke bumi berkomunikasi dengan mahluk di bumi, suatu hari melihat mereka (penduduk bumi) makan kulat karakng (cendawan), yang sangat asing baginya. Secara kebetulan pula Ne’ Baruakng waktu di bumi membawa butir butir putih ( yang kemudian dikenal dengan nasi).

Keadaan ini terlihat oleh mahluk di bumi. Mereka meminta dan memakannya. Terasa enak. Singkat kata, sejak saat itulah Ne’ Baruakng lalu memperkenalkan padi di Bumi.

Sejak itu pula mahluk dibawah (bumi) mulai makan nasi dan meninggalkan cendawan kerang.

Kepercayaan masyarakat Talaga bahwa asal Dayak, khususnya Kanayatn( mereka sebut pula dengan Dayak Bukit) adalah atas, tempat yang serba menyenangkan dan dikenal dengan sebutan Bawakng. Karenanya, dalam setiap bentuk upacara adat para tokoh Dayak ini tidak melupakan sebuatan Bawakng ini, yang menyatakan sumber atau asal usul Dayak Kanayatn. Nampaknya tempat inilah dulunya yang merupakan asal usul keluarga Ne’ Baruakng, yang sudah menjadi Talino. Melihat bukti sejarah, seperti batu badangkop di bukit Telagadapat diketahui bahwa Talaga adalah bagian dari tempat diatas (langit) atau Bawakng.

Dayak Kanayatn yang bermukim di Binua Talaga yang terdapat di kecamatan Sengah Temila kini menyebar kebeberapa Kampung ( Sahamp, Palo’atn, Aur Sampuk, Sinakin. Gombang)

Asal Mula Manusia dan Alam Semesta dalam Pandangan Orang Taman

Orang Daya Taman sebagaimana juga orang Daya sebagai keseluruhan, tidak memilki tradisi tertulis dalam sejarah peradabannya. Mereka hanya memiliki tradisi lisan, dan tradisi lisan itupun sekarang hampir terlupakan karena orang Daya telah mengenal tulisan. Pengenalan akan tulisan ini lahir dari pengaruh masuknya misi agama Katolik dan pendidikan formal pemerintah. Dalam sejarahnya, tradisi lisan sangat vital bagi masyarakat Daya. Inilah satu-satunya cara untuk menyampaikan detil-detil tradisi atau aturan-aturan hidup kepada anak cucu secara turun temurun. Dalam cerita yang disampaikan secara turun temurun itu diketahui bahwa manusia dan alam semesta memiliki awal kejadian yang tak lepas dari adanya wujud tertinggi.

Asal mula alam semesta dan manusia dalam pandangan orang Daya Taman dapat diketahui dalam kisah penciptaan yang dituturkan tiga malam berturut-turut dalam acara bumbulan yang disebut cerita kalimongonan. Kalimongonan adalah acara penuturan kembali peristiwa kejadian asal mula alam semesta dan manusia. Menceritakan kembali persitiwa penciptaan merupakan bagian inti dari acara bumbulan. Upacara bumbulan merupakan upacara penting menjelang pesta Gawai raa. Dalam cerita tersebut dikatakan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Alaatala.

Alaatala menciptakan alam semesta yakni langit dan bumi beserta isinya dengan kuasa mujizat atau disebut dengan panyunyua. Panyunyua adalah cara Alaatala menggunakan kehendaknya untuk mengadakan segala sesuatu menjadi ada seketika tanpa bahan dan alat. Setelah Alaatala menciptakan langit dan bumi beserta isinya, Alaatala memberi tugas kepada Piang Sampulo untuk membuat manusia sesuai dengan rupa Piang Sampulo sendiri. Piang Sampulo inilah yang kemudian mengajarkan cara hidup kepada manusia pertama yang ia ciptakan. Manusia pertama yang diciptakan oleh Piang Sampulo dan Bai’ Kunyanyik bernama Bai’ Idi’langilangsuan dan Piang Tina.

VERSI DAYAK TAMAN KAPUAS

Asal Mula Manusia dan Alam Semesta dalam Pandangan Orang Taman

Orang Daya Taman sebagaimana juga orang Daya sebagai keseluruhan, tidak memilki tradisi tertulis dalam sejarah peradabannya. Mereka hanya memiliki tradisi lisan, dan tradisi lisan itupun sekarang hampir terlupakan karena orang Daya telah mengenal tulisan. Pengenalan akan tulisan ini lahir dari pengaruh masuknya misi agama Katolik dan pendidikan formal pemerintah. Dalam sejarahnya, tradisi lisan sangat vital bagi masyarakat Daya. Inilah satu-satunya cara untuk menyampaikan detil-detil tradisi atau aturan-aturan hidup kepada anak cucu secara turun temurun. Dalam cerita yang disampaikan secara turun temurun itu diketahui bahwa manusia dan alam semesta memiliki awal kejadian yang tak lepas dari adanya wujud tertinggi.

Asal mula alam semesta dan manusia dalam pandangan orang Daya Taman dapat diketahui dalam kisah penciptaan yang dituturkan tiga malam berturut-turut dalam acara bumbulan yang disebut cerita kalimongonan. Kalimongonan adalah acara penuturan kembali peristiwa kejadian asal mula alam semesta dan manusia. Menceritakan kembali persitiwa penciptaan merupakan bagian inti dari acara bumbulan. Upacara bumbulan merupakan upacara penting menjelang pesta Gawai raa. Dalam cerita tersebut dikatakan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Alaatala.

Alaatala menciptakan alam semesta yakni langit dan bumi beserta isinya dengan kuasa mujizat atau disebut dengan panyunyua. Panyunyua adalah cara Alaatala menggunakan kehendaknya untuk mengadakan segala sesuatu menjadi ada seketika tanpa bahan dan alat. Setelah Alaatala menciptakan langit dan bumi beserta isinya, Alaatala memberi tugas kepada Piang Sampulo untuk membuat manusia sesuai dengan rupa Piang Sampulo sendiri. Piang Sampulo inilah yang kemudian mengajarkan cara hidup kepada manusia pertama yang ia ciptakan. Manusia pertama yang diciptakan oleh Piang Sampulo dan Bai’ Kunyanyik bernama Bai’ Idi’langilangsuan dan Piang Tina.

Menurut Y. C. Thambun Anyang, kepercayaan terhadap Alaatala sudah ada jauh sebelum kedatangan agama Hindu, Budha, Islam, Katolik, dan Protestan. Orang Taman percaya bahwa tujuan hidup manusia ialah Alaatala. Alaatala itu berupa roh kekal dan dianggap sebagai sumber keselamatan bagi manusia. Meskipun dianggap sebagai sumber keselamatan, orang Taman tidak memiliki upacara yang dipersembahkan secara istimewa kepada Alaatala, kecuali doa untuk meminta agar hidup selamat, terhindar dari segala penyakit dan marabahaya. Upacara untuk penghormatan dengan kurban atau sesajen diadakan untuk para arwah leluhur atau roh-roh nenek moyang. Upacara adat sebagai ungkapan religiositas asli selalu melibatkan leluhur. Upacara adat Gawai raa permohonan keselamatan bagi kehidupan manusia dialamatkan kepada Alaatala, melalui leluhur.

Orang Daya Taman meyakini adanya eksistensi roh. Roh dalam kepercayaan tradisional sangat berpengaruh kuat dalam kehidupan. Roh dalam bahasa Taman ialah Sumangat. Keberadaan Sumangat ini tidak hanya pada manusia tetapi juga ada pada makhluk-makhluk lain, seperti binatang dan juga pada benda-benda hidup maupun benda mati yang ada dalam alam semesta ini. Roh-roh yang ada pada setiap makhluk dan benda itu berasal dari Sang Pencipta atau Alaatala, sebab roh yang ada tersebut merupakan ciptaan Alaatala. Alaatala dengan kuasanya menciptakan langit dan bumi serta manusia bersama ciptaan lain untuk hidup dan tinggal di dalamnya.

Kepercayaan tertinggi orang Taman adalah kepercayaan kepada Alaatala. Mula-mula Alaatala dengan kuasaNya, menciptakan Sampulo, kemudian Sampulo diberi kuasa oleh Alaatala untuk menciptakan manusia. Maka, atas dasar kuasa Alaatala itu pula Sampulo diberi tugas untuk membuat manusia sesuai dengan citra Sampulo yang diciptakan oleh Alaatala sendiri. Manusia yang diciptakan Sampulo atas kuasa Alaatala itu memiliki roh yang berasal dari Alaatala sendiri. Roh yang ada pada manusia dimasukkan oleh Sampulo lewat kepala pada saat Sampulo menciptakan manusia pertama. Kepala merupakan tempat Sampulo meniupkan nafas kehidupan sehingga manusia dapat hidup, bergerak, berbicara dan berjalan. Maka ubun-ubun di kepala manusia merupakan pintu keluar masuknya roh itu.

Orang Taman meyakini keberadaan roh yang disebut Sumangat itu. Selain roh yang berasal dari Alaatala, diyakini pula keberadaan roh-roh lain sebagai lawan dari roh yang hidup dalam ciptaan Alaatala itu, yakni roh halus yang suka menangkap jiwa manusia. Dalam bahasa Taman roh halus itu disebut Sai. Dalam kepercayaan orang Taman, munculnya penyakit yang diderita oleh manusia merupakan perbuatan dari Sai yang suka menangkap jiwa manusia tersebut. Maka untuk menyembuhkan orang dari penyakitnya ialah dengan mengambil kembali roh (Sumangat) orang tersebut dari cengkraman roh halus (Sai). Untuk itu diadakanlah upacara penyembuhan pengambilan kembali Sumangat yang telah ditangkap oleh Sai itu. Upacara ini disebut dengan upacara bermanang atau Balian (bahasa Melayu) atau upacara arabalien (bahasa Taman). Upacara bermanang atau arabalien itu dikerjakan oleh Manang (Melayu), Balien (Taman). Manang atau Balien adalah orang yang memiliki kharisma tertentu dan bisa berkomunikasi dengan Sai, maka hanya merekalah yang dapat melakukan upacara penyembuhan.

INILAH SEJARAH ASLI ASAL MULA ORANG DAYAK YANG ADA DI TANAH BORNEO DARI SASTRA LISAN DAYAK YANG TUMBUH SECARA TURUN TEMURUN BUKAN BERASAL DARI DAERAH APA DAN SIAPA MENURUT TEORY IMIGRASI

YANG DI PERCAYAI BERASAL DARI KHAYANGAN TURUN KE BORNEO

Sumber:CINTA DAYAK – Adi W. NegaraBorneo

Untuk versi dayak Tonyooi/Tunjungnya ditunggu ya…

Iklan

Indahnya Kutai Barat, Tanaa Purai Ngeriman

 

bangga menjadi warga Kubar….. beraneka ragam budaya ada disini… 🙂

Kerajaan Penihing/Aoheng yang belum tersentuh tangan manusia

ini adalah kutipan asli yang aku copy-paste dari alamat ini: http://klewang.multiply.com/journal/item/69
Semoga berguna , dan bagi teman-teman yang mengerti mohon penjelasannya……..

Juli, 2006. Tanpa sengaja aku bertemu kawan lama. Mas Ahmadi dari komunitas BlueGrass. Pertemuan di warung nasi goreng itu berlanjut dengan bercerita tentang pengalaman masing-masing. Kawanku ini mantan Anggota Pecinta Alam yang sampai sekarang masih suka keluyuran kemana-mana. Saat itu, dia sedang gandrung dengan penjelajahan Kalimantan dan studi tentang suku-suku dayak. Banyak sekali kisah menakjubkan yang kudengar darinya waktu itu. Salah satunya adalah tentang harta karun sejarah dan kebudayaan salah satu kerajaan suku dayak yang sampai sekarang belum terjamah.
Di ujung pertemuan, kuminta dia mengirim tulisan perjalanannya ke emailku. dan inilah copy email yang dikirim padaku tertanggal 3 juni 2006.
Di hulu Sungai Mahakam ada peninggalan Kerajaan Dayak
Penihing, Berupa Tower batu setinggi 150m – 200m, yang
tadinya di jadikan Istana oleh Raja penihing beserta
keturunanya. Lorong masuk satu satunya kedalam Tower
tertutup batu besar, untuk memasukinya tinggal dua cara,
menggunakan Helycopter ke puncak cerobong tower batu, atau
dengan jalan panjat tebing. Mungkin menarik untuk diteliti
lebih jauh, karna peninggalan beserta singasananya masih
belum tersentuh manusia diluar Istana batu.

Latar belakang ( dari hasil wawancara dengan Tetua adat
Dayak Penihing pada tahun 1996 dan Buku Ekspedisi Muller
1886)

Raja Penihing adalah salah satu Raja terkaya di hulu sungai
Mahakam, tonggak perekonomian utama disokong hasil sarang
Burung dari gua2 sarang burung di kawasan kars wilayahnya.
Pada Abad XVlll barter sarang burung sudah merupakan barter
Ekslusif. Letak kerajaan di kawasan perbukitan batu kapur
nan terjal tersebut juga sangat mendukung pertahanan
alamiahnya, sangat menyulitkan pihak yang akan menaklukan
Kerajaan Penihing.

Namun tak lama setelah Kerajaan Kutai menaklukan para Raja
Suku dayak sepanjang aliran mahakam sampai keperbatasan
Serawak, Kerajaan Penihing yang menempati daratan Kars
sejauh -+ 30km dari tepian Mahakam menjadi target terakhir
Raja Kutai.

Istana Kerajaan Penihing berupa tower batu dengan lobang
besar berbentuk cerobong dari atas sampai kedasar tower.
Pintu masuk hanya satu, berupa lorong horizontal didasar
Tower yang kini masih tertutup batu besar.

Pada saat sebelum penyerbuan Pasukan Kerajaan Kutai, Raja
Penihing beserta Prajuritnya telah menutup dengan batu besar
lorong masuk kedalam Istana batu. Dengan harapan kalau Raja
penihing beserta Prajuritnya berhasil mengusir Pasukan
Kutai, maka batu besar penutup lorong tersebut akan mereka
buka kembali dari luar.

Raja Penihing lalu membawa pasukanya mencegat Laskar Kutai
dari kejauhan, menjauh dari perkampungan rakyat Penihing dan
Istana batu. Tindakan Kekhawatiran kalau kalah lalu di
jarah, memang berhasil membuat Laskar Kutai pulang dengan
tangan Kosong. Namun juga menyimpan tragedi bagi keluarga
penghuni Istana Batu. Raja penihing beserta Prajuritnya
gugur dan sampai kini tak seorangpun membuka pintu masuk
berupa batu besar tersebut. sementara rakyatnya pada saat
penyerbuan kerajaan Kutai melakukan Eklsodus ketepi Sungai
mahakam.

Peristiwa diatas terjadi sekitar Abad XVlll. Setelah Raja
Dayak Benuaq Sumbing Lawing kalah dan dipenggal kepalanya
oleh Raja Kutai( Sampai sekarang kepala Sumbing Lawing masih
tersimpan dalam Keraton Kutai Kertanegara di Kota
Tenggarong).

Pada tahun 1993 saya mendekati Istana Tower Batu tersebut,
setelah selama tiga hari melintasi perbukitan kars yang
cukup terjal. Usai survey awal untuk memastikan titik
lokasi, saya langsung balik ke Malang. Lalu pada tahun
berikutnya dengan Alat panjat tebing saya kembali berangkat
ke hulu Mahakam. Namun didesa terakhir saya sempat
diingatkan seorang kawan dari Malang ( yang menikah dengan
anak kepala adat Dayak Penihing), setiap kematian harus ada
ritual pemanggilan roh nenek moyang dan ritual pelepasan
roh, saya diperingatkan untuk mengadakan ritual itu
terdahulu, apabila berkeinginan memanjat Tower Batu
tersebut.

Karna keluarga kerajaan tower batu yang meninggal terkurung
di istananya tersebut, sampai saat ini upacara kematiannya
belum dilakukan oleh rakyat Penihing. Saya mundur dan mundur
karna upacara tersebut tidaklah murah biayanya bagi saya
saat itu, lagipula saya belum punya jalur ” diberikan kepada
siapa penemuan tersebut jadi berarti.”

Sampai akhirnya pada tahun 1998 saya mendapat kabar ada
perusahaan kayu dengan Helycopter mendekati Tower batu
tersebut. Bahkan sempat Turun vertical kedalam Cerobong
Tower, namun kekhawatiran pimpinan perusahaan ( ikut dalam
rombongan tersebut ) akan adanya ular besar didasar
cerobong, membuyarkan semuanya.
cerita diatas tujuanya jelas untuk menggugah darah petualangan para pembaca dan mungkin ada yg minat mendanai ekspedisi mengungkap misteri tower batu tersebut

Sekian

Semoga bermanfaat…..
Sumber: http://klewang.multiply.com/journal/item/69

Dayak Tunjung Rentenukng VS Dayak Penihing/Aoheng, Saudara yang terpisah??????

Seperti yang kita ketahui bahwa suku Dayak Tunjung dan Suku Penihing/Aoheng adalah salah dua dari salah banyak suku-suku yang mendiami wilayah Kabupaten Kutai Barat. Secara Geografis, lokasi tempat kedua suku ini diami juga cukup berjauhan.. jika suku Dayak Tunjung mendiami wilahay Kec. Linggang Bigung, Kec. Barong Tongkok, Kec. Sekolaq Darat, Kec. Manoor BuLaant, Kec. Tering dl l yang mayoritas kampugnnya berada di wilayah ibukota kabupaten (sekitar)… sedangkan suku Penihing sebagian besar mendiami wilayah Hulu Mahakam…

Sumber Gambar Dari Web…

berhubungan dengan judul yang saya ambil di atas, Dayak Tunjung Rentenukng VS Dayak Penihing/Aoheng, Saudara yang terpisah?? Ada pertanyaan yang sangat mengganjal dan saya sangat ingin mencari tahu kebenarannya. Saya pernah mendengar dari beberapa teman yang menyebutkan bahwa suku Dayak Tunjung Rentenuukng sebenarnya merupakan suku Penihing yang milir mengikuti arus sungai mahakam dari daerah hulu sungai mahakam.. bukan hanya dari satu orang saya pernah mendengar cerita ini melainkan dari beberapa orang yang berbeda…
yang menjadi pertanyaan saya adalah:
1. Apakah benar kalo suku Dayak Tunjung Rentenukng sebenarnya adalah suku Penihing yang mencari daerah baru untuk memenuhi kebutuhannya?
2. Mengapa pada masa sekarang suku Tunjung Rentenukng sudah tidak ada terlihat sama sekali persamaannya dengan suku Penihing, kecuali dari alunan / logat bahasa yang lembut.
3. Apa yang menyebabkan hilangnya budaya Penihing dalam orang rentenukng?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, saya akan memberkan sedikit bagaimana Gambaran Suku Dayak Tunjung, Khususnya rentenukng…
Sekilas Mengenai Suku Dayak Tunjung Rentenukng…..
Dayak Tunjung Rentenukng tentu saja adalah salah satu bagian dari sub suku Dayak Tunjung yang ada di Kutai Barat. Orang Rentenukng tentunya berbeda dengan suku Tunjung yang ada di bagian hilir. Rentenukng ada sebutan untuk Suku Tunjung yang berada di bagian hulu (wilayah kec. Linggang Bigung, Kec. Tering, Kec. Long Iram) , selain itu rentenukng diambil dari kata Nuukng yang berarti hulu, maka dapat disebut bahwa orang rentenukng adalah orang yang berasal dari hulu. Untuk memudahkan membedakan antara orang Tunjung hilir dengan tunjung Hulu maka saya akan menggunakan Tonyooi untuk orang tunjung hilir dan Rentenukng untuk orang Tunjung HuLu tanpa bermaksud untuk memisahkan kedua sub ini(hanya untuk memudahkan dalam pemahaman).

Rentenukng ini memiliki beberapa perbedaan yang cukup sigifikan dengan Tonyooi , khususnya dalam tata bahasa. Orang Tunjung pasti akan langsung mengenali dari cara bicara antara Rentenukng dan Tonyooi..
Umumnya orang rentenukng berbicara dengan alunan yang sangat lembut, perlahan dan halus walaupun dalam keadaan marah sekalipun tepat saja alunan lembut ini terlihat khas.. sedangkan untuk Tonyooi umumnya berbicara dengan nada yang agak cepat, keras , alunan yang meninggi seperti, serta penekanan-penekanan yang cukup banyak. sangat berbeda dari segi alunan /logatnya….

untuk kata-kata yang digunakan dalam bahasa daerah cukup berbedam namun keduanya pasti akan mengerti jika saling berkomunikasi satu dengan yang lain..
contohnya:
Bahasa Indonesia : Kamu, aku, jangan
Rentenukng : Koq, Akuq, Adui
Tonyooi: Koi, Ab, Boteq

menurut saya bahasa Tunjung Hilir lbih banyak persamaan dengan Dayak Benuaq, namun cukup berbeda baq bumi dan awan,,,ehehhehe

walaupun ada beberapa perbedaan dalam segi bahasa, keduanya pada masa sekarang adalah merupakan satu kesatuan yang sudah tidakdapat dipisahkan. Terkadang orang Rentenukng jika ditanya dia suku apa, orang itu akan menjawab kalau dia adalah Rentenukng, begitu juga orang tonyooi menyebut mereka dengan sebutan rentenukng….

Saya hanya menduga untuk jawaban nomor 2 karena Suku Rentenukng yang datang dari daerah hulu telah tinggal berdampingan dengan suku Tonyooi sehingga terjadi akulturasi, asimilasi dan inkulturasi kebudayaan sehingga kebudayaan asli yang mereka bawa ditinggalkan dan mengnyesuaikan dengan daerah sekitarnya.. Selain itu saya juga pernah mendengar bahwa suku Rentenukng itu mempunyai bahasa asli yang dulu mereka gunakan dan berbeda dengan bahasa Tunjung…. Namun sayangnya bahasa itu hanya dipahami oleh sedikit orang rentenukng dan umumnya mereka adalah para tetua-tetua rentenukng itu, dan suku ini juga mempunyai kalender asli namun lagi-lagi saya hanya mendengar dan belum menemukannya.

Mohon jika ada dari antara kalian yang tau atau pernah mendengar mengenai ini bisa di sharingkan supaya kita bisa tau mengenai sejarah dan kebudayaan kita….. hehehehhe

Pesona Air Terjun Di Bumi Kalimantan

1. Air Terjun Haratai, KAL-SEL

Objek wisata Air terjun Haratai terletak di desa Haratai, lebih kurang 15 menit perjalanan dengan jalan kaki dari Balai Haratai, dapat ditempuh dengan memasuki hutan bambu dan perkebunan karet atau kayu manis. Objek wisata Air terjun Haratai merupakan salah satu objek wisata yang ada di kalimantan selatan. air terjun Haratai terletak di kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Air terjun Haratai merupakan salah satu obyek wisata yang menjadi primadona bagi masyarakat Kalimantan Selatan, karena daerahnya yang asri dan juga pemandangannya yang indah.
Saat pertama kali kita mendatangi tempat ini, mata kita akan terkagum melihat keindahan deburan air yang jatuh, dengan suara gemuruh yang cukup keras.Air terjun tersebut bertingkat tiga dengan ketinggian masing-masing 13 meter. selain itu di tempat ini juga di sediakan gazebo untuk kita beristirahat, atau bersantai sambil menikmati suasana.Wisata Indonesia Surga Dunia. Sumber: http://www.slowbos.com/thread/109481/menikmati-wisata-air-terjun-haratai

2. Air Terjun Balang Daras, KAL-SEL
Air terjun Balangdaras adalah sebuah air terjun yang terletak 25 km dari Kota Pelaihari, Tanah Laut, Kalsel, tepatnya di Desa Tanjung, Pelaihari, Tanah Laut.
Air terjun Balangdaras memiliki panorama pegunungan yang indah dan eksotik. Berada di ketinggian pegunungan dengan ketinggian ± 45 meter. Air Terjun Balangdaras yang berada di kawasan Pegunungan Meratus. Sumber:http://mylifemeiyanna.blogspot.com/2010/06/air-terjun-balang-daras-kalimantan.html

3. Air Terjun Tosah, KAL-TENG
berolakasi di Desa Muara Ja,an Kecamatan Murung Kabupaten Murung Raya, keindahan alam yang disebut air terjun tosah ini terletak, meski di Kabupaten paling utara Kalteng ini banyak terdapat air terjun, namun air terjun tosah ini memiliki keunikan tersendiri.
Saat pertama kali menghampirinya, kami terkesima dengan keindahan air terjun yang, memiliki ketinggian yang sempurna menambah derasnya percikan air yang menghempas ke bebatuan cadas dan embunnya pun membasahi hutan rimbun membuat air terjun tersebut benar benar merupakan keindahan alam masa lalu yang tidak perbah terjamah oleh tangan manusia.
Ditambah perjalanan menuju objek wisata ini pun tidak terlalu sulit karena hanya dengan menempuh perjalanan sekitar 1 jam dengan kendaraan mobil. Kita dapat secara langsung melihat keindahan hasil ciptaan tuhan yang benar benar membuat kita sendiri terkesima dan hatipun sejuk dan tentram saat menikmati keindahan alam nan asri di dekatnya.
Berada di kawasan jalan menuju Puruk Cahu- Muara Teweh air terjun yang memiliki tinggi sekitar 5 meter dengan luas sekitar 10 meter ini pun dapat kita jumpai dengan melewati mendan jalan yang tidak begitu berat.
Dengan suara hempasan air yang seolah memecah keheningan hutan rimbun ditambah suara desiran angin diantara dedaunan menambah suasana alam sekita air terjun benar benar asri. Bebatuan berukuran besar pun seperti tidak kalah indahnya, terhampar mengelilingi aliran air, bebantuan ini memiliki bentuk bentuk nya yang unik dan seperti sengaja dibuat untuk tempat duduk bersantai memandang desiran air gunung yang jernih itu berjatuhan.
Namun sayang air terjun ini masih banyak belum dketahui oleh masyarakat setempat, dan kurang mendapat perhatian dari Pemerintah, sehingga sangat jarang didatangi oleh masyarakat atau wisatawan. Mungkin karena jalan nya yangmasih menggunakan jalan setapak yang sedikit becek.
Bisa dipastikan apabila asset wisata nan indah ini benar benar dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin akan menjadi objek wisata yang membahwa nama Mura dikenal di dunia wisata nasional bahkan internasional.
Karena dari hasil pantauan kami, banyak potensi potensi lain yang bisa dikembangkan di sekitar air terjun itu, baik ekowisata, hingga out bond.
Namun warga sekitar tampaknya lebih tanggap,warga desa Muara Ja,an sudah menyampaikan usul untuk mereka mengelola sendiri secara swadaya air terjun tersebut. Termasuk membuat akses jalan secara bergotong royong yang nanti akan menjadi sumber pedapatan desa.
“ masyarakat desa Muara Ja,an sudah menyampaikan usulan untuk mengelola air terjun Tosah terrsebut kepada saya, tentunya saya sangat mendukung dan akkan memfasilitasi mereka. Saya bersyukur masyarakat punya inisiatif seperti ini untuk ikut membantu mengembangkan pariwisata di Murung Raya dan berharap air terjun Tosah nantinya apabila dikelola dengan baik bisa menjadi objek wisata yang mampu menarik para wisatawan. Sumber : http://pariwisatamura.blogspot.com

4. Air Terjun Bumbun, KAL-BAR
Air Terjun Bumbun memiliki tujuh tingkatan, dengan tingkatan tertinggi mencapai 20 an meter tingginya Air.terjun ini hanya berjarak kurang dari 100 meter dari jalan yang menghubungkan Saripoi–Laas.
Lokasi Terletak di Desa Muara Tuhup/Tumbang Olong, Kecamatan Uut Murung, Kabupaten, Propinsi Kalimantan Tengah.
Peta dan Koordinat GPS:Aksesbilitas
Berjarak ± 35 Km dari Kota Puruk Cahu. Wisata Lain Sekitar 7 Km dari Air Terjun Bumbun ke arah utara, tepatnya di Laas, Kecamatan Uut Murung, terdapat Equatorial Monument atau tugu khatulistiwa yang menunjukkan bahwa daerah ini berada persis di garis khatulistiwa. Akan tetapi tugu khatulistiwa ini tidak sebesar tugu khatulistiwa yang ada di Pontianak. Sumber :
http://pariwisatamura.blogspot.com/2011_08_01_archive.html
/2011_08_01_archive.html




5. Air Terjun Inar, KAL-TIM
Air Terjun Inar terletak di Kampung Temula Kecamatan Nyuatan. merupakan air terjun tertinggi di Kabupaten Kutai Barat dengan ketinggian 30 m. Jantur itu masih kelihatan alami dengan lumut-lumut yang menempel di batu-batu dan tumbuhan liar disekelilingnya. Untuk melihat keindahan jantur inar pengunjung harur menurunu sekitar 200 anak tangga berjarak 20 cm antara satu sama lain. Jika berada disekitar lokasi pemandian serasa hawa sejuk yang berasal dari hempasan air yang jatuh menerpa bebatuan. Pesona inilahsalah satunya yang menjadi daya tarik dari Jantur Inar. Untuk menuju lokasi ini bisa mengunakan sepada motor atau mobil menempuh jarak 30 km dari pusat kota Sendawar. Sumber:http://www.kubarkab.go.id/wisata-budaya.php?id=15



6. Air Terjun Keneheq, KAL-TIM



wewe

7. Air Terjun Pancur Aji, KAL-BAR
kota sanggau terdapat tempat rekreasi yang menarik yang dinamakan air terjun pancur aji yang terletak didaerah bunut yang mana disepanjang jalan melewati pemukiman masyarakat dan melewati tempat rekreasi kolam renang pak donat, perjalanannya dari kota sanggau menempuh jarak kira-kira 30 menit, untuk menempuh jalan ke sana kita menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat.
dalam perjalanan menuju ke Air Terjun Pancur Aji kita melewati jalan yang berliku-liku dan bergunung disamping itu tempat rekreasi air terjun pancur aji terdapat pula kebun binatang yang ada diwilayah sanggau seperti:buaya,orang hutan,burung,bangau,ular,kijang dan lain-lain.
sebelum memasuki daerah air terjun kita melewati pintu gerbang dan membayar tiket dengan kendaraan roda 2 Rp.9000 dan kendaraan roda 4 Rp. 20.000. selanjutnya kita jalan menuju parkir yang mana dikenakan biaya Rp 1000, dan kita menuju keair terjun kira-kira 5 menit.
Setiap hari libur banyak pengunjung yang berkunjung disana suasana air terjunnya sangat dingin dan pemandangan air yang sangat indah dan arusnya yang sangat deras, tempat air terjun itu cocok untuk arung jeram, di sana juga terdapat toko yang menjual makanan dan cinderamata khas sanggau yaitu :kalung manik-manik, gantungan kunci serta tas anyaman dari rotan dan bambu dan lain-lain, dan makanannya berupa lempok durian, lemang, dodol,dan di sana juga terdapat kebun buah yang mana kita bisa memetik sendiri dan membeli untuk di bawa pulang untuk oleh-oleh sebuah tangan. Sumber: http://entikong.web.id/air-terjun-pancur-aji



8. Air Terjun Tikalong, KAL-BAR

9. Air Terjun/Jantur Menarung, KAL-TIM


10. Air Terjun/Jantur Mapan, KAL-TIM

(cukup segini duluu…. tapi Masih Banyak Lgi puluhan bahkan hingga Ratusan Air terjun yang masih tersembunyi dan susah dijangkau…. mungkin lain kali baru di share lagi.. bye..byee)

Keajaiban Alam Bumi Kalimantan

1. Batu Dinding, Kutai Barat- KALTIM
Batu dinding merupakan sebuah keunikan dan keindahan alam yang ada di kalimantan timur. bantu dinding ini berada di hulu mahakam yang berada di kecamatan Long Bagun daerah kabupaten Kutai Barat.
Panjang batu dinding sekitar 800 meter dan tingginya mencapai kurang lebih 100 – 120 meter. hubungan batu dinding dengan Kecamatan sungai Boh adalah merupakan jalur akses air yang menghubungkan Kabupaten Kutai Barat dengan Kabupaten Malinau. long bagun merupakan kecamatan tetangga dari kecamatan sungai boh sebelah selatan. Untuk mencapai sungai boh dari Kecamatan long bagun setelah jalur air di lanjut dengan jalur darat sektar 5 – 6 jam perjalanan untuk bisa sampai ke kecamatan sungai boh. jika kita ingin menuju ke kecamatan sungai boh dari samarinda dengan jalur air maka kita akan melewati bantu dinding ini.

Keunikan lain dari batu dinding ini selain dari bentuk, di batu dinding ini terdapat sebuah kuburan..!! Sumber: http://sutrisman-anakkenyahbankung.blogspot.com/2011/06/batu-dinding-sungai-mahakam-long-bagun.html





2. Bukit Kelam, Sintang-KALBAR
Kawasan Wisata Bukit Kelam yang berada di wilayah Kecamatan Kelam Permai. Daya tarik objek wisata alam perbukitan khususnya kawasan wisata alam Bukit Kelam dapat dilihat dari kondisi perbukitan itu sendiri yang memiliki keindahan yang khas. Hutan wisata Bukit Kelam berada diantara dua sungai besar yaitu Sungai Melawi dan Sungai Kapuas dan termasuk didalam SdubDAS Melawi dimana keberadaan hutan wisata tersebut merupakan kawasan sumber air yang mengalir sebagai sungai yang dimanfaatkan penduduk setempat untuk keperluan air minum, MCK dan irigasi.
Berdasarkan pengamatan diketahui kualitas baik perairan sungai di hutan wisata didominasi oleh perbukitan dan hutan wisata ini sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata alarn dan untuk lokasi terbang layang dan panjat tebing karena terletak pada ketinggian 50 – 900 meter dari permukaan laut dengan kemiringan antara 15° – 40° serta kemiringan diatas 45°. Pohon yang tumbuh dikaki bukit umumnya berbatang tinggi, sedangkan dipuncaknya ditumbuhi semak semak. Pada dinding bukit jarang ditumbuhi tumbuhan karena terdiri dari batu terjal sehingga pepohonan yang yang tumbuh dan tertata rapi didalam jambangan.
Di Bukit ini juga terdapat tumbuh-tumbuhan langka seperti Kantong Semar Raksasa yang oleh masyarakat setempat dipergunakan sebagai wadah untuk menanak nasi, selain itu juga terdapat Anggrek Hitam. Saat ini kawasan Bukit Kelam sudah direnopasi dan kawasan ini dijadikan sebagai Pusat Perkemahan bagi pramuka. Untuk mencapai puncak Bukit Kelam saat ini sudah dibangun sebuah tangga dengan ketinggian 90 m yang terletak disebelah barat. Kawasan Bukit Kelam saat ini terus dikembangkan karena punya rentetan perbukitan lainnya seperti Bukit Luit dan Bukit Rentab. Selain itu juga kawasan ini sangat baik jika dibangun tempat peristirahatan yang nantinya dapat dikembangkan menjadi desa wisata yang menarik dan unik.
Hal ini juga tidak terlepas dari keberadaan dua rumah panjang didekat lokasi perbukitan ini yaitu Rumah Panjang Ensaid Pendek dan Ensaid Panjang.
Bagi pengunjung yang suka bertualang menghadapi tantangan alam dan merindukan pemandangan alam yang asli maka Bukit Kelam adalah tempat yang cocok dalam memenuhi selera anda. Pendakian ke puncak bukit dapat ditempuh melalui dua cara:
* Menggunakan Tangga
* Melalui Tebing Batu yang sangat terjal dan menantang.
Dari Puncak Bukit dapat terlihat pemandangan alam yang sangat indah seperti:
* Hutan tropis dan berbagai jenis tanaman langka
* Dua aliran sungai yang mengapit Kota kabupaten
* Tata Kota Sintang dan persawahan yang ada dibawahnya. Sumber:http://www.kalimantan-news.com/wisata.php?idw=1
Yang kesemuanya merupakan pemandangan alam yang sangat menakjubkan dan panorama alam yang sangat nyaman, dapat dikunjungi melalui transportasi darat dengan jarak dari Kota 18 Km.






3. Kersik Luway (Padang Pasir ditengah hutan Kutai Barat, menyimpan berbagai macam jenis Anggrek langka.. Anggrek hitam), Kutai Barat-KALTIM
Anggrek Hitam berada dikawasan Kersik Luway terletak di Kampung Sekolaq Darat Kecamatan Sekolaq Darat, mempunyai keunikan tersendiri dengan bentuk dan corak anggrek hitam (Coelogyne pandurata) yang sangat khas, Ada beberapa jenis anggerek lain yang bisa ditemukan disini selain anggrek hitam di antaranya Erya Vania, Erya Florida,Coelogy Rocus Roini dan Bulpophylum Mututina. Selain anggerek juga terdapat Kantung semar . Fasilitas di likasi terdapat ruang informasi, fasilitas kebutuhan bagi wisatawan tersedia. Namun saat ini kondisi cagar alam ini cukup memprihatinkan akibat sering terjadi kebakaran hutan yang mengakibatkan terus berkurangnya vegetasi anggerek, kelompok penangkaran anggerek. Menuju lokasi ini dapat menggunakan mobil dan bus menempuh jarak 15 Km dari pusat kota Sendawar.Sumber:http://www.wisatakaltim.com/tempat-wisata/kutai-barat/anggrek-hitam-kersik-luway/