Inkulturasi Tionghoa di Dayak Mempawah (Kalimantan Barat)

Orang Dayak memanggilnya “sobat” (sahabat), mereka memanggil orang Dayak “darat”, kadang-kadang dipanggilnya juga dengan sebutan laci. Laci artinya anak keturunan. La=anak, ci= orang atau keturunan. Anak hasil perkawinan Dayak dengan Cina disebut pantokng dan sebaliknya anak hasil perkawinan Cina dengan Dayak dikenal sebagai pantongla.

Tulisan ini hanya memotret singkat dalam konteks sejarah, bagaimana relasi Dayak dan Cina yang hampir sempurna, khususnya kenapa orang Dayak memanggil orang Cina “sobat”, sebuah tata nilai budaya yang sedemikian sempurna, sebagai perwujudan dari nilai-nilai hidup yang dijaga dan dikembangkan selama ini.

Cina dalam Dayak
Kata La Ci sering kali dipelesetkan orang luar untuk mempengaruhi relasi Dayak dengan Cina. Menurut Acui (2005), merujuk pada kata La Ci, mungkin mereka mengakui secara “implisit” bahwa Dayak adalah keturunan dari kelompok imigran yang telah datang masa 3000-1500 Sebelum Masehi (SM).

Panggilan “sobat” orang Dayak kepada orang Cina di atas bukanlah tanpa alasan. Dalam tradisi yang sangat sakral, misalnya dalam mitologi religiusnya, seorang tokoh Cina merupakan salah satu tokoh penting yang sangat dihormati bahkan diakui sebagai leluhur orang Dayak.

Disebutkan, ada lima orang tokoh, yang mencipta adat: Ne Unte’ Pamuka’ Kalimantatn, Ne Bancina ka Tanyukng Bunga, Ne Sali ka Sabakal, Ne Onton ka Babao, dan Ne Sarukng ka Sampuro.

Menurut pengakuan Singa Ajan (seorang Singa/Timanggong, tinggal di kampong Rees-Menjalin-Landak), Ne Bancina adalah leluhur Orang Cina, beliau tinggal di sebuah tanjung, yang bernama tanjung bunga, daerah pasir panjang-Singkawang sekarang ini.

Sebagaimana sejarahnya, Dayak adalah merupakan keturunan Bangsa Weddoid dan Negrito (Coomans,1987). Orang Negrito dan Weddoid telah ada di Kalimantan sejak tahun 8.000 SM. Mereka tinggal di dalam gua dan mata pencarian mereka berburu binatang. Kelompok ini menggunakan batu sebagai alat berburu dan meramu.

Warisan Weddoid yang masih bertahan hingga hari ini dan melekat pada sebagian kecil Orang Dayak adalah menjadikan hewan anjing sebagai hewan sembelih dan kurban pada Jubata (Tuhan).

Ini terjadi karena pada waktu itu banyak anjing hutan yang liar yang hidup di daerah ini. Binatang ini menjadi hewan buruan yang mudah bagi kaum Weddoid yang masih memiliki peralatan dari batu. Namun, kelompok ini sekarang telah lenyap sama sekali, setelah kedatangan imigran baru yang dikenal sebagai Bangsa Proto Melayu atau Melayu Tua (Wojowasito, 1957).

Proto Melayu merupakan imigran kedua yang datang sekitar tahun 3000-1500 SM. Menurut Asmah Haji Omar http://www.amazon.co.uk), peradaban kelompok ini lebih baik dari Negrito, mereka telah pandai membuat alat bercocok tanam, membuat barang pecah belah dan alat-alat perhiasan.

Gorys Keraf (1984) mengatakan bahwa, kelompok imigran ini juga telah mengenal logam, sehingga alat perburuan dan pertanian sudah menggunakan besi.

Karena emas
Emas merupakan penyebab terjadinya salah satu migrasi utama Orang Cina ke Kalbar pada akhir abad ke-18 (Jackson,1970). Dari catatan sejarah, tahun 1745, 20 orang Cina didatangkan dari Brunei oleh Sultan Sambas dan Panembahan Mempawah untuk bekerja pada pertambangan emas, utamanya di Mandor (wilayah Mempawah) dan di Monterado (Sambas). Hasil emas mencapai puncaknya antara tahun 1790 dan 1820.

Pada tahun 1810, produksi emas dari Kalbar melebihi 350.000 troy ons, dengan nilai lebih dari 3,7 juta dollar Spanyol (Raffles, 1817).

Keberhasilan pertambangan emas ini, menyebabkan Sultan Sambas dan Panembahan Mempawah terus mendatangkan Orang Cina, hingga pada tahun 1770 orang Cina sudah mencapai 20.000 orang.

Menghindari perkelahian sesama perantauan setali sedarah, Lo Fong Fak, pimpinan sebuah kongsi di Mandor menyatukan 14 kongsi yang tersebar dan mendirikan sebuah pemerintahan “Republik” Lan Fang pada tahun 1777.

Istilah republik, maksudnya pemimpin yang diambil dari rakyat berdasarkan kesepakatan dan kemampuan, bukan berdasarkan sistem keturunan atau dinasti.

Republik ini berkuasa selama 108 tahun, 1777-1884. Pada masa Presiden Lan Fang ke-10, Presiden Liu Konsin yang berkuasa sejak 1845-1848.

Republik ini pernah melakukan pertempuran dengan Orang Dayak di daerah Mandor, Lamoanak, Lumut, dan sekitarnya, hasilnya Orang Dayak kalah dan sebagian kecil memilih bermigrasi ke hilir Sungai Mandor, hingga akhirnya membentuk pemukiman di wilayah Kesultanan Pontianak. Mereka inilah yang menjadi leluhur Orang Dayak di Sei Ambawang. Perang ini dikenal sebagai “Perang Lamoanak”.

Sebagaimana bangsa lainnya, Orang Dayak sudah mengenal tradisi pertanian sebagai mata pencarian. Dalam mitologinya, sebelum padi dikenal, mereka meramu dan mengumpulkan sagu liar (eugeissona utilis). Sagu liar ini banyak tumbuh di tanah-tanah lembab, dikenal dengan nama rawa-rawa. Mereka mengambil pati dari sagu ini, lalu memelihara tumbuhan sagu, seperti sekarang dilakukan oleh orang Ambawang, Kubu Raya. Untuk mencampur sagu ini, mereka juga mengumpulkan dan memetik “kulat karakng” (sejenis jamur) sebagai makanan pokok kedua.

Karena hasil emas mulai berkurang pada tahun 1820-an dan terus menurun dalam dua dasawarsa berikutnya semakin banyak orang Cina di wilayah Republik Lan Fang yang beralih ke perdagangan dan pertanian dengan menanam padi, sayuran dan beternak babi. Hal ini sesuai dengan penelitian Jessup, bahwa tradisi pertanian, khususnya tanaman padi Orang Dayak setidaknya telah dilakukan sejak tahun 1820-an (Jessup, 1981).

Perkenalkan padi
Tanaman padi mungkin dibawa oleh imigran Cina ini (Bellwodd;1985). Bellwodd mencatat, padi liar dan padi-padian lain telah dibudidayakan di punggung Daerah Aliran Sungai Yangtze yaitu di lahan-lahan basah musiman di sebelah selatan Provinsi Kwang Tung, Fuk Chian, Yun Nan, dan Kwang Sie.

Hal ini cocok dengan sebuah tulisan (Asali;2005;3), yang menjelaskan bahwa imigran Cina yang datang ke Kalbar umumnya dari bagian selatan China, khususnya dari Provinsi Kwang Tung, Fuk Chian, Yun Nan, dan Kwang Sie.

Orang Dayak kemudian berubah dari masyarakat pengumpul sagu liar menjadi masyarakat yang aktiv menanam padi (Ave, J.B., King, V.T, 1986) dan menyelenggarakan siklus pertanian yang sarat ritual (Atok;2003;19). Padi pertama yang ditanam dikenal dengan nama padi antamu’. Oleh Petani Dayak, hingga sekarang jenis padi ini selalu ditanam, istilahnya “Ngidupatn Banih” (melestarikan benih).

Jika merunut sejarah tanaman padi ini, tidaklah mengherankan kalau dalam prosesi perladangan Dayak, dalam siklus tertentu dan keadaan tertentu pula, nyaris mengikuti kalender Cina. Penanggalan Cina amat berpengaruh dalam tradisi perladangan Dayak, hingga hari ini.

Pola pertanian di lahan basah, diyakini juga sebagai warisan Orang Cina di Kalimantan Barat. orang Dayak mengenalnya dengan istilah Papuk/ Gente’/Bancah (sawah). Budaya pertanian ini dibawa kelompok migrasi terakhir dari Provinsi Yun Nan terjadi tahun 1921-1929, ketika di Tiongkok (Cina) terjadi perang saudara.

Saat ini, di berbagai tempat kita masih menjumpai nama sawah berasal dari kata Cina. Di Kampung Nangka, 102 Km dari Pontianak, kita dengan mudah mendapatkan nama tempat berasal dari Cina; Ju Tet, Kubita, Pahui, dan lain-lain.

Ini sekaligus bukti, bahwa pencetakan sawah awalnya diperkenalkan mereka. Latar belakang kelompok imigran baru ini memang kebanyakan petani Orang Hakka.

Selain itu, sejak tahun 1880, orang Cina juga mulai membuka perkebunan lada, gambir dan setelah tahun 1910 memulai perkebunan karet (Hevea brasiliensis;Euphorbiaceae) (lihat Dove,R.Michael;1988) .

Acong, warga Sei Nyirih Selakau-Sambas, menceritakan pada saya bahwa pernah ada sebuah perusahaan besar “KAHIN”, milik Tjiap Sin. Perusahaan ini berdagang gambir, cengkeh, kopra dan lada, dijualnya ke Singapura. Ia memiliki kapal layar besar. Untuk ke Singapura, mereka hanya membutuhkan waktu sekitar 3 hari dari Selakau. Seiring menipisnya hasil Gambir, Cengkeh, Lada dan Kopra, pada tahun 1958, perusahaan ini tutup.

Kebudayaan unik
Pembauran Orang Dayak dengan Orang Cina yang terjadi sejak berabad-abad silam, menurunkan perilaku kebudayaan unik, khususnya peralatan adat istiadat dan hokum adat dalam budaya Dayak. Hari ini, masih dapat kita lihat dari alat-alat peraga adat (dan hukum adat) yang menggunakan keramik-keramik Cina.

Pengaruh ini mungkin hasil dari perdagangan dan hubungan diplomasi mereka dengan bangsa Cina yang sempat tercatat dalam sejarah dinasti Cina dari abad ke-7 sampai abad ke-16. Pedagang Cina menukar keramik, guci anggur dan uang logam dengan hasil-hasil hutan yang dikumpulkan Orang Dayak seperti kayu gaharu, gading burung rangok (enggang), serta sarang burung walet.

Pedagang dari Siam (Thailand) juga membawa guci-guci yang terbuat dari batu yang masih banyak digunakan orang Dayak untuk maskawin dan untuk upacara penguburan (Fridolin Ukur;1992).

Uniknya, pada peristiwa “demonstrasi” yang berlangsung sekitar dua bulan, dari Oktober hingga November 1967, satu titik waktu di mana rezim Orde Lama beralih ke Orde Baru, Orang Dayak menyebarkan ”Mangkok Merah” sebagai media komunikasinya, untuk ”penghukuman sosial” terhadap Cina di pedalaman yang ditengarai berafiliasi dengan gerombolan PGRS/Paraku yang berideologi komunis.

Ratusan ribu Orang Cina harus rela meninggalkan kampung-kampung di pedalaman, di mana sejak ratusan tahun mereka telah berinteraksi positif dengan Orang Dayak.

Tidak cuma itu, istilah keseharian dalam bahasa Cina dengan mudah kita temui dikalangan Orang Dayak. Di Kampung Rees, misalnya hampir semua proses pesta (baik pesta padi, perkawinan, sunatan, dll) istilah-istilah ini muncul. Dari menentukan waktu pesta (penanggalan Cina; ari segol, dll), nama tempat (tapsong, teosong,dll), nama alat (ten, teokang, dll), jenis masakan (saunyuk, tunyuk, dll) hingga prosesi makan (concok). Bahkan,alat-alat pesta maupun alat peraga adat (dan hokum adat) juga menggunakan prototive yang berasal dari Cina, misalnya; tempayan (tapayatn jampa, siam, manyanyi, batu, dll), mangkuk (mangkok), piring (pingatn), sendok (teokang), nampan (pahar), dll.

Dalam tradisi minuman, Cina dalam Dayak juga dapat kita lihat dari tradisi minuman keras, khususnya jenis arak. Sebelumnya Orang Dayak hanya mengenal tuak, yang terbuat dari saripati tanaman aren.

Di Cina, minum arak sudah menjadi budaya yang tak terpisahkan. Oleh karena itu kita mengenal dewa mabuk dalam cerita-cerita kungfu. Arak, selain untuk meramu obat tradisional Cina, yang dikenal sebagai “tajok/pujok” oleh Orang Dayak juga sebagai bahan penyedap. Kini, arak telah menjadi bagian sehari-hari bagi kehidupan Orang Dayak.

Tak cuma itu, Cina dalam Dayak juga dapat dilihat dari persenjataan, khususnya pembuatan senjata api “senjata lantak” sebagai alat berburu dari Orang Cina. Bubuk mesiu ditemukan oleh ahli kimia Cina pada abad ke-9 ketika sedang mencoba membuat ramuan kehidupan abadi. Bubuk mesiu ini dibawa tentara Cina yang menetap di Kalimantan setelah tujuan mereka menghukum Raja Kertanegara.

Banyak bukti bahwa penggunaannya dengan belerang banyak dipakai sebagai obat (Wayne Cocroft; 2000). Sebelum mengenal senjata lantak dan mesiu, senjata untuk berburu di kalangan Orang Dayak masih berupa tombak dan sumpit. Tidak cuma itu, “judi” juga diperkenalkan kelompok etnik ini kepada Orang Dayak. Beragam jenis judi; Liong Fu, Te Fo, Kolok-Kolok, Sung Fu, dan lain-lain sangat digemari Orang Dayak hingga hari ini. Di setiap pesta, keramaian, warung/toko, dengan mudah ita menjumpai jenis-jenis permainan judi ini.

Dan bahkan, kegigihan Orang Cina dalam politik juga menjadi inspirasi bagi Orang Dayak. Sejak tahun 1941, mereka mulai mengembangkan diri dalam perjuangan politik. Sebagaimana diketahui, umumnya kelompok Cina di Kalimantan Barat berasal dari Orang Hakka yang sangat terkenal keuletannya. Orang Hakka lebih independent-minded (berpikiran bebas), lebih mudah melepaskan diri dari tradisi dan menangkap idea baru untuk hidup.
Kegigihan Hakka

Tidak heran, orang Hakka adalah termasuk orang Tionghoa yang cepat mengadopsi ide-ide Barat dibanding dengan yang lain dan mengombinasikannya dengan budaya Hakka. Dan tekanan kepahitan hidup yang mereka rasakan menjadikan mereka lebih mudah menjadi kaum revolusioner, lebih progresif, dan lebih berani maju untuk menuntut pembaruan, dan banyak pelopor-pelopor pembaruan Cina modern berasal dari Hakka.

Fleksibilitas orang Hakka dalam menyerap ide-ide baru, tidak bersikeras untuk mempertahankan tradisi lama yang menghambat, menjadikan Hakka sebagai etnis yang unik dalam sejarah China modern. Bukan kebetulan, kalau pemberontakan terbesar di China pada abad ke-19 yang melibatkan puluhan juta manusia, dan termasuk pemberontakan paling berdarah dalam sejarah kemanusiaan di dunia, dimotori oleh orang Hakka.

Literasi sejarah inilah yang kemudian disambung Orang Hakka di Kalimantan Barat dengan mendirikan sebuah Negara “republic” Lan Fang tahun 1777-1884. Selama Kolonial Belanda, republic ini pernah 2 kali berperang dengan Belanda, yakni tahun 1854-1856 dan tahun 1914-1916. Perang itu dinamakan “Perang Kenceng” oleh masyarakat Kalbar.

Sikap revolusioner Orang Cina juga muncul ketika Jepang menduduki Pontianak tahun 1941. Sekelompok Cina mendirikan organisasi bawah tanah dan menyiapkan diri untuk perang terbuka, namun niat ini menjadi hilang ketika hadir ”tragedi mandor”, sebuah pembunuhan massal oleh Jepang di Mandor, bekas ibukota Republik Lan Fang.

Orang Cina kehilangan banyak sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu secara ekonomi. Dan karena sikap yang cenderung bersahabat dengan Orang Dayak, melalui Partai Persatuan Daya (PD), membuat sebagian elit Orang Cina yang lolos dari ”penyungkupan” berhasil mengkonsolidasi kekuatan politiknya, dan pada pemilu 1955 dan pemilu 1958, kelompok ini menang.

Hal ini kemudian mengantarkan JC Oevaang Oeray, tokoh Dayak asal Hulu Kapuas menjadi Gubernur Kalimantan Barat dan berhasil menempatkan dirinya sebagai representasi kelompok etnik yang berkuasa selama delapan tahun.

Di pergantian rezim Orde Lama ke rezim Orde Baru, hubungan Cina-Dayak terganggu dengan munculnya peristiwa “demonstrasi”, persahabatan sirna dan akibatnya puluhan ribu orang Cina harus rela “keluar” dari teritori Dayak dan mengkonsentrasikan diri di kawasan pesisir, yang selama ini menjadi teritori “Melayu”.

41 tahun terabaikan, di pengujung tahun 2007, konsolidasi politik Orang Cina dan Orang Dayak menemukan klimaksnya, mereka kembali menempatkan dirinya sebagai representasi kelompok etnik yang berkuasa di Kalimantan Barat.

Penutup
Jika merujuk pada fakta budaya pada kelompok etnik Dayak Mampawah di atas, bagi saya, kemungkinan besar budaya Dayak sekarang ini merupakan hasil inkulturasi budaya Cina, walaupun kenyataannya menjadi budaya yang diakui sebagai tradisi Dayak.

Mungkin saja, contoh di atas hanyalah contoh kecil dari inkulturasi Cina dalam Dayak. Saya memahami bahwa kebudayaan itu selalu bersifat dinamis, namun fakta bahwa tatanan sosial dan tradisi Dayak telah berinkulturasi secara tajam dan dalam dengan budaya Cina. Cina benar-benar telah masuk dalam diri Dayak, di berbagai bidang kehidupan, hingga hari ini.

Penulis: Yohanes Supriyadi, SE (Ketua Palma Institute)
Sumber: Equator-news.com
Minggu, 12 Juni 2011
Diakses: 15 November 2011 | 22:58
Didokumentasikan: 15 November 2011 | 22:58

Sumber : http://www.kalbariana.net/inkulturasi-tionghoa-di-dayak-mempawah




Iklan

Peninggalan Sejarah Yang Sangat Unik Dan Menakjubkan.

1. Candi Borobodur


Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha.[1] Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).

Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha.[2] Para peziarah masuk melalui sisi timur memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanannya ini peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.

Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam.[3] Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran. Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.[4]

Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah obyek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan.
Sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/Borobudur

2. Machu Picchu



Machu Picchu (“Gunung Tua” dalam bahasa Quechua; sering juga disebut “Kota Inca yang hilang”) adalah sebuah lokasi reruntuhan Inca pra-Columbus yang terletak di wilayah pegunungan pada ketinggian sekitar 2.350 m di atas permukaan laut. Machu Picchu berada di atas lembah Urubamba di Peru, sekitar 70 km barat laut Cusco.
Merupakan simbol Kerajaan Inka yang paling terkenal. Dibangun pada sekitar tahun 1450, tetapi ditinggalkan seratus tahun kemudian, ketika bangsa Spanyol berhasil menaklukan Kerajaan Inka. Situs ini sempat terlupakan oleh dunia internasional, tetapi tidak oleh masyarakat lokal. Situs ini kembali ditemukan oleh arkeolog dari universitas Yale Hiram Bingham III yang menemukannya kembali pada tahun1911. Sejak itu, Machu Picchu menjadi objek wisata yang menarik bagi para turis lokal maupun asing.
Machu Picchu dibangun dengan gaya Inka kuno dengan batu tembok berpelitur. Bangunan utamanya adalah Intihuatana, Kuil Matahari, dan Ruangan Tiga Jendela. Tempat-tempat ini disebut sebagai Distrik Sakral dari Machu Picchu.
Situs tersebut telah ditunjuk sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1983, Machu Picchu juga merupakan salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia baru, juga mendapatkan perhatian akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh pariwisata (jumlah pengunjung mencapai 400,000 pada tahun 2003). Pada bulan September tahun 2007, Peru melakukan usaha-usaha legal dengan hasil tercapainya sebuah persetujuan dengan Universitas Yale untuk mengambil kembali artifak-artifak yang pernah dibawa oleh Bingham dari situs tersebut pada awal abad 20.

3. Tembok Raksasa China



Tembok Raksasa Cina atau Tembok Besar Cina (hanzi tradisional: 長城; hanzi sederhana: 长城; pinyin: Chángchéng), juga dikenal di Cina dengan nama Tembok Sepanjang 10.000 Li¹ (萬里長城; 万里长城; Wànlĭ Chángchéng) merupakan bangunan terpanjang yang pernah dibuat manusia, terletak di Republik Rakyat Cina.[1][2][3]
Tembok Raksasa Cina dianggap sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia.[4][5] Pada tahun 1987, bangunan ini dimasukkan dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.
Tembok Raksasa Cina tidak panjang terus menerus, tapi merupakan kumpulan tembok-tembok pendek yang mengikuti bentuk pegunungan Cina utara.[6] Pada tanggal 18 April 2009[7], setelah investigasi secara akurat oleh pemerintah Republik Rakyat Cina, diumumkan bahwa tembok raksasa yang dikonstruksikan pada periode Dinasti Ming panjangnya adalah 8.851 km.[6]

Menurut catatan sejarah, setelah tembok panjang dibangun oleh Ming, barulah dikenal istilah “changcheng” (长城, “tembok besar” atau “tembok panjang”).[3] Sebelumnya istilah tersebut tidak ditemukan.[3] Istilah Tembok Raksasa Cina dalam Bahasa Mandarin adalah “wanli changcheng”, bermakna “tembok yang panjangnya 10 ribu li”.[3] Pada masa sekarang istilah ini resmi digunakan.[3]
Pada tahun 2009, Badan Survei dan Pemetaan dan Badan Administrasi Warisan Budaya Republik Rakyat Cina melakukan penelitian untuk menghitung ulang panjang Tembok Raksasa Cina.[8] Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tembok Raksasa Cina lebih panjang daripada rentang yang saat ini diketahui.[8] Menurut pengukuran, panjang keseluruhan tembok mencapai 8.850 km.[8] Proyek tersebut juga telah menemukan bagian-bagian tembok lain yang panjangnya 359 km, parit sepanjang 2232 km, serta pembatas alami seperti perbukitan dan sungai sepanjang 2232 km.[8] Rentang rata-rata Tembok Raksasa Cina adalah 5000 km, umumnya dikutip dari berbagai catatan sejarah.[8]
Sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/Tembok_Raksasa_Cina

4. Petra



Petra, sebuah tempat di selatan Negara Jordania, yang merupakan daerah Edom, terletak di antara Laut Mati dan Teluk Aqaba. Dalam bahasa Yunani, “Petra“ berarti kota dari batu. Dalam Perjanjian Lama tempat ini disebut sebagai Sela : “Ia mengalahkan Edom di Lembah Asin, sepuluh ribu orang banyaknya, dan merebut Sela dalam peperangan itu, lalu dinamainyalah kota itu Yokteel; begitulah sampai hari ini” (2 Raja 14:7). Daerah ini menjadi ibu kota serta tempat pertahanan Kerajaan Nabatean sejak abad ke 4 SM sampai abad ke 2 M. Semua peninggalan bangunan dan makam di tempat ini dipahat pada Bukit Tebing Batu berwarna kemerah-merahan. Itulah sebabnya tempat ini pun dikenal sebagai “The Red Rose City”. Kerajaan Romawi menaklukkan tempat ini pada tahun 106 M dan dijadikan salah satu dari propinsi Romawi. Kota ini sendiri terus berkembang di abad ke 2 and ke 3 M, sampai kota saingan mereka, Palmyra mengambil alih sebagian besar kegiatan perdagangan Petra, sehingga kota ini pun menurun kegiatan perdagangannya. Pada abad ke 7 tempat ini ditaklukkan oleh Muslim, dan pada abad ke 12 ditaklukkan juga oleh Pejuang Salib. Dan pada akhirnya kota ini hanya menjadi reruntuhan saja.
Swiss bernama Johann Burckhardt pada tahun 1812. Benteng-benteng yang kokoh, sangat menyolok keindahannya dan terletak pada tebing-tebing yang sempit dan tinggi, dan di beberapa tempat jarak antar 1 tebing dengan tebing yang lain hanya 3,7 meter. Dan di dinding-dinding tebing inilah dipahat secara alami bangunan-bangunan indah seperti : Khaznet Firaoun, Treasury Petra yang indah, teater pertunjukan yang dapat menampung 3000 penonton serta bangunan lainnya. Kesemua bangunan tersebut dipahat di bukit batu berwarna kemerah-merahan. Peninggalan di Petra menunjukkan kejayaan serta kemakmuran tempat ini dahulunya.

Penghuni asli Petra, orang Nabatean (Arab = Al-Anbaat), adalah para pedagang dari daerah selatan Jordania, Kanaan dan bagian utara semenanjung Arab di masa kuno. Asal usul sebenarnya dari orang Nabatean tidak terlalu jelas. Beberapa pendapat mengatakan keberadaan orang Nabatean di Petra (Sela) yang sebelumnya adalah ibukota Kerajaan Edom adalah karena migrasi orang Edom ke daerah Judea yang kosong (akibat orang Yahudi di Judea saat itu yang dibuang ke Babilonia oleh Raja Nebukadnezar), sehingga orang Nabatean sendiri mengambil alih kota Petra, dan mulai tinggal serta mengembangkan kerajaan di tempat ini.

Orang Nabatean menyembah dewa dewi Arab sebelum masa Islam, serta juga mereka mendewakan raja-raja mereka yang sudah mati. Dushara merupakan dewa paling utama bagi mereka beserta dewi Uzza, Allat dan Manah. Banyak patung-patung dipahat di dinding tempat ini untuk menggambarkan dewa dewi mereka. Salah satu raja mereka yang paling besar yang didewakan adalah Obodas I ( yang didewakan setelah kematiannya ). Bangunan yang paling terkenal di Petra (Treasury of Petra) yang dibangun pada awal abad I sebelum masehi didedikasikan kepada raja ini.

500 tahun setelah dibangunnya kota Petra sebagai kota perdagangan, yaitu sekitar abad ke 4 masehi, orang-orang Kristen Bizantium juga datang ke Petra. Athanasius Agung (Bapa Gereja Awal) menyebutkan dalam salah satu tulisannya bahwa Uskup Petra saat itu bernama Asterius. Bahkan ditemukan bukti bahwa salah satu bekas makam di tempat ini dijadikan Gereja.

Kekristenan di Petra hilang semenjak datangnya Islam ke tempat ini pada tahun 629-632. Para pejuang Perang Salib juga menaklukkan tempat ini, dibawah pimpinan Raja Baldwin I dari Kerajaan Jerusalem.
Sumber: http://www.stellatours.com/petra.html

5. Sigirya



Ini adalah sisa-sisa peninggalan istana kuno yang terletak di atas bukit batu. Sigiriya atau Batu Singa, begitu sebutannya. Terletak di Matale District, Sri Lanka, dikelilingi hutan, waduk, juga kebun. Letaknya yang unik, ditambah dengan pemandangan menakjubkan, membuat Sigiriya banyak dikunjungi wisatawan. Melihat dari udara, Sigiriya seperti lukisan kuno yang mengingatkan orang pada Ajanta Caves di India.
Sigiriya dibangun pada masas pemerintahan Raja Kassapa I yang memerintah dari 477-495 AD. Tempat ini adalah satu dari tujuh peninggalan kuno yang dimiliki Sri Langka. Diduga, Sirigiya didiami sejak masa pra-sejarah. Lalu, pada abad ke-5 BC, tempat ini dipakai sebagai biara. (http://merahitam.com/keajaiban-dunia-terbaru.html)
Sigiriya (batu Singa) adalah benteng dan istana batu kuno yang terletak di distrik Matale, Sri Lanka, dikelilingi oleh sisa kebun, waduk dan struktur lainnya. Merupakan destinasi wisata populer, Sigiriya juga terkenal akan lukisan kunonya.[1] Sigiriya dibangun pada masa pemerintahan Raja Kassapa I (477 – 495), dan merupakan salah satu dari tujuh Situs Warisan Dunia UNESCO di Sri Lanka.(http://id.wikipedia.org/wiki/Sigiriya)

6. Meteora



Metéora (bahasa Yunani: Μετέωρα) adalah salah satu kompleks biara Ortodoks Timur terbesar dan paling penting di Yunani, kedua setelah Gunung Athos.[1] Enam biara di tempat ini dibangun pada pilar batu alami di Thessaly, Yunani Tengah. Kota terdekat dari kompleks ini adalah Kalambaka. Metéora merupakan bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO. (http://id.wikipedia.org/wiki/Meteora)



SeLuk BeLuk Suku Dayak Tunjung

  • Sejarah Singkat Mengenai asal usul

Seperti kebanyakan suku-suku Dayak pada umumnya, Suku Dayak Tujung pada awalnya adalah suku yang belum mengenal tulisan sehiingga tidak diketemukannya sejarah mengenai asal-usul berupa tulisan dari suku Dayak Tunjung Ini. Kita hanya bisa mengetahuinya dari cerita-cerita rakyat dari orang tua yang diwariskan secara turun temurun. Konon menurut cerita Suku Dayak Tunjung berasal dari Dewa-dewa yang menjelma kedunia sebagai manusia untuk memperbaiki dunia yang rusak.

  • Asal usul nama

Nama Suku Dayak Tunjung ini menurut mereka (Menurut Buku: Upacara Adat Kematian Suku Dayak Kalimantan Timur) adalah Tonyooi Risitn Tunjung Bangkaas MaLikng Panguruu ulak alas yang berarti Suku Tunjung adalah pahlawan yang berufngsi sebagai dewa pelingdung.

Zaman sekarang Suku Tonyooi kini Lebih dikenal dengan sebutan Suku Dayak Tunjung. Adapun arti kata Tunjung dalam bahasa Dayak Tonyooi adalah Mudik/menuju arah hulu sungai yang kata sebenarnya adalah “Tuncukng”. Ceritanya Demikian:

pada suatu hari Seorang Tonyooi Mudik dan bertemu dengan orang Haloq (Sebutan Suku Dayak kepada seseorang yang bukan dayak dan beragama Muslim) kemudian Haloq tersebut bertanya pada Tonyooi ingin pergi kemna, kemudian si Tonyooi Menjawab “Tuncuuk’ng”, maksudnya mudik. Orang Haloq lalu terbiasa melihat orang yang seperti ditanyainya tadi disebut “Tunjung” dan hingga sekarang namanya tersebut masih dipergunakan.

  • System mata pencaharian

Mulanya suku Dayak Tunjung hidupnya sebagai petani padang yang berpindah-pindah. Disamping berladang mereka juga mencari hasil hutan seperti dammar, rotan,sarang burung, menangkap ikan, berburu, membuat anyaman dan kerajinan-kerajinan lainnya. Namun pada zaman sekarang mereka sudah banyak yang berprofesi sebagai Pegawai Neger/Swasta maupun pedagang dan pejabat pemerintah.

  • Tradisi Tonao

Seperti masyarakat Dayak umumnya, Suku Dayak Tunjung juga terkenal dengan semangat Gotong-Royong yang disebut TONAO. Semangat ini terlihat pada waktu membuka hutan, panen raya, membangun rumah/Lamin dan Lain sebagainya.

Pekerjaan membuat ladang berdasarkan keadaan musim. Biasanya bulan maret mereka mulai merintis hutan, april-mei menebang pohon (Noang Kajuuq) dan dijemur 1-2 bulan, pada bulan juli dibakar (“ngehongkakng” kaLo gak saLah dalam bahasa Dayak Tunjung). Agustus –September masan “Menugal” (menanam padi). Menanam padi dilakukan hanya 1 kali dalam 1 tahun.

  • System kekerabatan

Prinsif keturunan kelompok Suku Dayak Tunjung berdasarkan prinsif Bilateral yang menghitung hubungan kekerabatan melalui pihak pria maupun wanita. Setiap individu dalam masyarakat Dayak Tunjung termasuk dalam hubungan kekerabatan ayah dan ibunya, anak-anak mempunyai hak dan kewajiban yang sama terhadap keluarga pihak ayah maupun keluarga pihak ibunya. Prinsif keturunan Bilateral dalam Dayak Tunjung  mempunyai prinsif tambahan yaitu prinsif keturunan ambilineal yang menghitung keturunan kekerabatan untuk sebagian orang dalam masyarakat melalui orang laki-lakin dan sebagian lain dalam masyarakat itu juga melalui orang wanita.

Prinsif keturunan ambilineal ini akan terwujud dalam system penggolongan harta  milik keluarga, yang dalam bahasa Dayak Tunjung disebut Barang lama atau babatn retaaq.

Jenis-Jenis Harta dalam Keluarga:

Barang Waris : Barang Waris adalah harta yang diperoleh dari harta yang diterima  dari orang tua sebagai harta warisan. Harta ini menjadi milik pribadi seorang suami atau istri

Barang Mento / Retaq Mento : jenis ini adalah harta yang  diperoleh oleh suami atau isteri sebelum dia menikah

Barang Rampuuq / Retaaq Rempuuq: harta jenis ini adalah harta yang diperoleh atas hasi usaha bersama suami isteri, misalnya hasil ladang atau kebun.

Penggolongan harta milik tersebut menjadi pedoman bagi seorang Hakim adat di desa dalam menyelesaikan perselisihan yang berhubungan dengan harta bila terjadi perceraian.

  • Purus

Kolompok kekerabatan Suku Dayak Tunjung terikat oleh hubungan kekerabatan yang disebut dengan Purus. Purus ditentukan berdasarkan hubungan darah (Consanguity) dan hubungan yang timbul melalui perkawinan (affinity). Kesadaran akan purus ini pada masa yang silam sangat besar, hal ini terbukti dengan timbulnya pengelompokan yang disebut:

Purus Hajiiq (Darah Bangsawan)

Purus Merentikaaq (Orang Biasa/orang merdeka)

Purus Ripatn (Darah Hamba sahaya)

Dari hubungan kekerabatan ini orang dapat mengetahui jarak hubungan individu dengan kelompok atau dalam satu desa dan sifat dari hubungan ini. Jadi hubungan kekerabatan (purus) mempengaruhi pola interaksi individu dalam menyapa, menyebut terhadap orang yang lebih tua, lebih muda atau sederajat.

  • Sistem Perkawinan

Perkawinan dalam masyarakt dayak tunjung ditentukan oleh purus. Secara umum perkawinan yang diperbolehkan adalah perkawinan antara orang-orang  seangkatan yaitu saudara sepupu sederajat pertama, saudara sepupu sederajar ketiga dan seterusnya.

  • Batak

Kelompok hubungan kekerabatan yang diperhitungkan melalui purus disebut BATAK. Individu-individu yang masih memiliki hubungan kekerabatan dalam suatu kelompok disebut SEBATAK(Satu Kelompok). Dalam kelompok seorang individu dapat membedakan dengan jelas orang-orang yang tergolong dalam kelompoknya (Batak Tai) dan orang yang bukan termasuk dalam kelompoknya (Batak ULutn) dan dalam kegiatan tolong menolong pada umumnya orang-orang sebatak lah yang lebih banyak datang membantu.

  • Luuq (Rumah Panjang/Lamin)

Perkembangan desa pada masa sekarang merupakan perkembangan dari sebuah Rumah Panjang (Luuq) dan masih mengikat penduduk menjadi satu komunitas desa. Kesatuan wilayah yaitu desa (dulu rumah panjang) beserta perlengkapannya disebut BANUA.

  • Banua

Ikatan wilayah komunitas orang Tunjung disebut dengan Banua. Pada masa lalu tokoh Banua adalah perintis yang mendirikan Rumah Panjang (Luuq). Kemudia diam mempunyai pengikut dan diangkat menjadi kepala Banua yang bergelar Merhajaaq / Marhajaq dan semua golongan sanak saudaranya disebut denga Hajiiq yang berarti golongan Bangsawan dan mempunyai hak turun temurun.

  • Sistem politik/pemerintah desa Adat
  • Sistem pelapisan social
  • Roh-Roh pelindung dan Roh Jahat
  • Sistem religi

(Untuk keempat topic diatas akan menyusul, Capeek Cuuy).